Kemampuan Penciuman Berkurang? Bisa Jadi Otak Bermasalah

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 10 Juli 2019 06:12
Kemampuan Penciuman Berkurang? Bisa Jadi Otak Bermasalah
Jangan remehkan masalah indera penciuman.

Dream - Otak merupakan organ yang mengatur seluruh sistem dalam tubuh. Saat manusia menua, kemampuan otak pun ikut menurun.

Pada beberapa kasus, otak bahkan sampai mengalami kerusakan. Salah satu gejala dari kerusakan otak adalah berkurang atau hilangnya kemampuan penciuman.

Jika muncul gejala tersebut, kamu tak boleh menyepelekannya. Segera berkonsultasi dengan dokter. Untuk memastikan kondisi kesehatan otak, dokter harus melakukan pemeriksaan khusus.

Dokter akan semakin intensif melakukan pemeriksaan terutama pada pasien yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan kerusakan otak di masa tua.

" Deteksi dini kerusakan otak penting dilakukan untuk mendeteksi demensia yang membutuhkan pemeriksaan klinis khusus," kata Dr. dr. Yuda Turana, SpS., dalam acara pembukaan RS Atma Jaya Paviliun Bonaventura di Pluit Jakarta Pusat, Selasa 9 Juli 2019.

1 dari 5 halaman

Pemeriksaan kemampuan penciuman

Salah satu cara untuk memeriksa kerja indera penciuman yang berkaitan dengan kerja otak adalah dengan memberikan aroma-aroma yang familiar dengan kondisi Indonesia. Seperti kopi, jeruk, bunga dan lain-lain.

" Apabila pasien tidak mampu atau sulit mengidentikasi aroma dan tidak dengan keadaan 'pilek' atau gangguan hidung lain, maka kemungkinan sedang mengalami prademensia atau kepikunan awal," kata dr. Yuda.

Fakta Mengejutkan Otak Manusia© MEN

Kondisi prademensia ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, sekalipun orang tersebut masih melakukan aktivitas dengan normal. Selain pemeriksaan penghidu, kondisi prademensia juga dapat dideteksi melalui MRI atau pemindaian otak.

(Sah, Laporan Vika Novianti Umar)

2 dari 5 halaman

Kenali Gejala Demensia, Penurunan Fungsi Otak pada Lansia

Dream - Masalah yang banyak dialami oleh lansia adalah demensia. Kondisi ini merupakan sindrom penurunan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat dan kemampuan berpikir.

Pemicu utama demensia adalah pertambahan usia. Di usia lanjut, terjadi kerusakan pada sel saraf otak di bagian tertentu.

Kenali Gejala Demensia, Penurunan Fungsi Otak Pada Lansia© MEN

Kerusakan itu menimbulkan efek yang berbeda. Tergantung di bagian mana kerusakan terjadi. Namun pada umumnya, penderita demensia mengalami perubahan suasana dan perilaku.

Jika lansia hanya pikun masih tidak berbahaya. Namun jika disertai gangguan perilaku, bisa jadi masalah.

" Tanda seperti suka menuduh orang, tidak cocok dengan menantu. Hati-hati dia sudah ada gangguan perilaku," kata Siti Setiati, dokter spesialis geriatri di gedung Kemenkes RI, Jakarta, kemarin. 

3 dari 5 halaman

Gejala Khas Demensia

Gejala demensia ditunjukkan dengan gangguan kognitif seperti sulit mengingat, konsentrasi menurun dan kesulitan berkata-kata.

Sementara gangguan psikologis meliputi gelisah, merasa ketakutan, gangguan perilaku dan emosi hingga berhalusinasi.

Skizofrenia, Si Pemicu Halusinasi Parah© MEN

Pada kasus akut, kondisi tubuh penderita demensia sudah kesulitan melakukan aktivitas (renta) atau menurunnya fungsi anggota tubuh. Seperti mengompol, napsu makan berkurang hingga kelumpuhan di salah satu sisi tubuh.

4 dari 5 halaman

Menyerang Usia 60 tahun ke Atas

Demensia tak lepas dari penyakit degeneratif yang kerap dialami oleh lansia atau orang berumur 60 tahun ke atas.

" Penyakit seperti kencing manis dan hipertensi bisa berujung pada demensia. Sekarang trennya lebih kepada penyakit kronik dan degeneratif," ujarnya.

Aktivitas fisik dan asupan nutrisi merupakan upaya yang dapat dilakukan guna mencegah demensia. Lansia tetap dianjurkan rutin berolahraga, misalnya dengan jalan kaki atau berenang.

Jangan lewatkan asupan protein dan kalsium untuk mencegah pengeroposan tulang dan pengurangan massa otot.

" Penglihatan dan pendengaran harus dijaga agar mereka tetap dapat membaca, mendengar dan berpikir. Hati-hati kalau lansia sudah tidak mau ngapa-ngapain, bisa jadi dia sudah demensia," kata Siti.

5 dari 5 halaman

Kondisi Jet Lag Bisa Menjaga Kerja Otak?

Dream - Pergi ke benua lain yang zona waktunya sangat berbeda selalu memunculkan masalah tidur atau jet lag. Rasa kantuk akan datang di siang hari, sementara mata tetap terjaga hingga dini hari.

Profesor Ravi Allada dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat mengungkap kalau hal tersebut bisa jadi salah satu pertahanan tubuh untuk menjaga kerja otak.

Kondisi Jet Lag Bisa Menjaga Kerja Otak?© MEN

Ia melakukan penelitian terhadap lalat buah yang memiliki penyakit Huntington, yaitu penyakit yang merusak kerja otak dan lebih parah dari Parkinson.

" Normalnya lalat buah bangun dan tidur selama siklus 24 jam. Pada lalat dengan Huntington tak ada ritme khusus. Lalat bangun dan tidur sepanjang waktu," ungkap Allada seperti dikutip dari Iflscience.com.

Allada menempatkan lalat dengan gen penyakit Huntington di kandang dengan lampu menyala dan mati selama siklus 20 jam.

Membuat para lalat tersebut mengalami jet lag permanen. Lalat lain yang normal dibuat mengikuti pengaturan jam sirkadian.

Hasilnya, bukan membuat lalat dengan Huntington lebih buruk, rupanya kedua lalat mengalami perlindungan parsial. Sel pada otak lalat ternyata mengakumulasi lebih sedikit protein yang terkait dengan penyakit Huntington dan neuron mereka hidup lebih lama.

" Berlawanan dengan intuisi, hasilnya menunjukkan bahwa sedikit stres baik bagi otak lalat dan tampaknya jadi pelindung saraf," ujar Allada.

Menurut Allada memang kondisi lalat dan manusia jauh berbeda. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek jet lag pada manusia, tapi penelitian ini bisa jadi awal teori kalau jet lag tak selalu berdampak negatif. (ism)

 

Beri Komentar