Kurangi Kebiasaan Menyentuh Wajah Demi Terhindari dari Covid-19

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 19 Maret 2020 07:48
Kurangi Kebiasaan Menyentuh Wajah Demi Terhindari dari Covid-19
Makin sering menyetuh wajah, bisa meningkatkan risiko penularan.

Dream - Kita semua sering menyentuh wajah berkali-kali setiap hari. Saat hidung gatal, mata lelah, dan membersihkan mulut dengan punggung tangan. Menyentuh wajah secara terus-menerus dapat meningkatkan rssiko terinfeksi virus flu, terutama virus corona.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Covid-19 ditularkan dari orang ke orang seperti infeksi pernapasan lainnya. Melalui cairan (droplet) yang dihasilkan ketika seseorang bersin dan terhirup oleh orang lain.

Termasuk juga ketika menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus menggunakan tangan yang nantinya akan menyentuh mata atau mulut. Meskipun kita bisa menghindar dari orang yang sakit atau denga menggunakan masker, tetapi kita sulit untuk menghindari tangan memegang sesuatu.

Dalam penelitian 2008, diamati sebanyak 10 orang di lingkungan perkantoran selama 3 jam. Peneliti menemukan bahwa mereka menyentuh wajah rata-rata 16 kali per jam. Kebiasaan ini harus dikurangi.

 

1 dari 5 halaman

Cuci Tangan Sesering Mungkin

Jika tak bisa dikurangi maka harus cuci tangan sesering mungkin. Hal tersebut hanya bisa membantu jika kita juga menghindari menyentuh wajah karena kita tidak tahu kapan tangan berpotensi membawa virus.

Lebih Baik Cuci Tangan Pakai Sabun atau Hand Sanitizer?© MEN

Menyentuh wajah akan membuat kemungkinan untuk terkontaminasi ulang tangan kita sangat tinggi. Zachary Sikora, PsyD, seorang psikolog di Northwestern Medicine Huntley Hospital, di Huntley, Illinois, memiliki tips untuk menghindari menyentuh wajah demi menghindari penularan Covid-19.

“ Ingat selalu bahwa kita ingin menjauhkan tangan dari wajah. Denga memberikan jeda dapat membantu menyadari apa yang akan kita lakukan dengan tangan kita,” katanya

Dia juga menyarankan menggunakan handsanitzer beraroma atau sabun beraroma untuk membantu mengingatkan diri agar menjauhi tangan dari wajah karena bau akan menarik perhatian. Sikora mengatakan mengenakan sarung tangan bisa jadi alternatif agar tangan tidak terkontaminasi virus.

Laporan Cindy Azari/ Sumber: Healthline

2 dari 5 halaman

Cara Isolasi Diri di Rumah Jika Terpapar Virus Corona

 Dream - Achmad Yurianto, juru bicara yang ditunjuk pemerintah untuk menjelaskan soal detail kasus corona virus (Covid-19) pada Selasa 17 Maret 2020, mengungkap tak semua pasien positif corona harus dirawat di rumah sakit.

Pada mereka yang kondisinya tidak parah bisa melakukan isolasi di rumah. Yurianto juga menjelaskan detail cara mengisolasi diri di rumah bagi penderita Covid-19.

© Dream

" Isolasi di rumah bukan sesuatu yang sulit namun membutuhkan komitmen yang kuat dari pasien dan keluarganya. Pasien ini harus memakai masker selama menjalani isolasi rumah," ungkapnya.

Hal yang juga sangat penting adalah pasien harus menjaga jarak dengan seluruh anggota keluarga lain di rumah. Termasuk tidak menggunakan alat makan dan minum bersama.

" Pastikan cukup istirahat, asupan gizinya cukup, dan kemudian juga menjaga betul untuk tidak kontak dekat tanpa perlindungan dengan anggota keluarga," pesan Yurianto.

Tidur di kamar sendirian dan tak ada orang lain di ruangan tersebut akan sangat baik. Hal terpenting adalah tidak menularkan orang lain dan menjaga sistem kekebalan tubuh bekerja optimal.

3 dari 5 halaman

Daya Tahan Tubuh Harus Dijaga, Modal 'Perang' dengan Covid-19

Dream - Tubuh sudah dibuat sedemikian rupa oleh Allah SWT memiliki sistem imunitasnya sendiri. Sel tubuh bakal mengenali virus dan bakteri, dan menjadi modal penting untuk melawan penyakit.

Pada beberapa orang ada yang mudah jatuh sakit, sementara ada juga yang tidak. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan atau imunitas yang dimiliki. Hal ini juga berlaku pada virus corona (Covid-19).

© Dream

Mungkin Sahabat Dream penasaran, mengapa beberapa pasien bisa jadi kritis dan sebagian lagi tidak? Dikutip dari New York Times, sekitar 80 persen orang terinfeksi virus Covid-19 memiliki gejala yang relatif ringan.

 

4 dari 5 halaman

Ditentukan oleh Sistem Kekebalan

Sementara sekitar 20 persen pasien dalam kondisi yang berat. Para ahli mengatakan efeknya tergantung pada seberapa kuat atau melemahnya sistem kekebalan seseorang. Orang yang lebih tua di atas 50 tahun atau mereka yang memiliki masalah kesehatan seperti diabetes atau penyakit kronis lainnya lebih cenderung mengembangkan gejala yang parah.

Diabetes© Shutterstock

" Salah satu pasien, seorang wanita berusia 84 tahun dengan diabetes, meninggal karena pneumonia yang disebabkan oleh coronavirus," kata Dr. Shu-Yuan Xiao, seorang profesor patologi di Fakultas Kedokteran Universitas Chicago, Amerika Serikat.

 

5 dari 5 halaman

Rawan Terkena Pneumonia

Bisa juga setelah terserang virus Covid-19, pasien stabil selama beberapa hari. Namun setelah mengalami penurunan kondisi signifikan, karena daya tahan tubuhnya tak dijaga dengan baik.

Bolehkah Menggunakan Inhaler bagi Penderita Asma saat Puasa?© MEN

" Beberapa pasien dapat tetap stabil selama lebih dari seminggu dan kemudian tiba-tiba terserang pneumonia," kata Dr. Xiao.

Beberapa pasien di China yang sembuh dari Corona juga diketahui kembali mengalami keluhan setelahnya. Hal ini karena virus Covid-19 telah merusak jaringan paru-paru yang rentan diserang oleh bakteri. Beberapa pasien bahkan akhirnya meninggal karena infeksi bakteri, bukan karena virus.

Laporan Cindy Azari

Beri Komentar