Lebih dari Sekadar Label, Ini Kriteria yang Harus Dimiliki Produk Halal

Reporter : Iwan Tantomi
Senin, 24 Juni 2019 00:01
Lebih dari Sekadar Label, Ini Kriteria yang Harus Dimiliki Produk Halal
Setidaknya ada 11 kriteria yang harus dimiliki sebuah produk hingga mendapatkan sertifikasi jaminan halal dari MUI.

Sebagai muslim, sudah jadi kewajiban untuk menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Nggak hanya lewat penampilan yang menggunakan hijab dan menutup aurat saja, sikap, kebiasaan, hingga memilih produk halal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga penting untuk memaksimalkan langkah hijrahmu. Eits, ternyata bukan sekadar label 'halal' saja lho, ternyata ada satu tingkatan pengendalian mutu halal sebuah produk, yaitu Sistem Jaminan Halal.

Sistem Jaminan Halal inilah yang memastikan konsistensi proses halal sebuah produk yang dapat membuat hati kamu bertambah tenang dan nyaman dalam menggunakan produk-produk tersebut. Setidaknya ada 11 kriteria yang harus dimiliki sebuah produk hingga mendapatkan sertifikasi jaminan halal dari MUI. Sudah tahu apa saja?

Bahan yang Digunakan

Produk yang disertifikasi halal tidak boleh berasal dari bahan haram atau najis. Hal ini harus dibuktikan lewat dokumen pendukung semua bahan yang digunakan, kecuali bahan tidak kritis atau bahan yang bisa dibeli secara retail.

Produk yang Dihasilkan

Hasil akhir produk yang diolah nggak boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah pada produk haram atau telah dinyatakan haram dalam fatwa MUI. Selain itu, nama produk atau merek yang digunakan tidak boleh mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau tidak sesuai dengan syariat Islam.

Fasilitas Produksi

Untuk produk yang dihasilkan dari industri pengolahan harus berasal dari fasilitas produksi yang menjamin tidak adanya kontaminasi silang dengan bahan atau produk najis. Misalnya saja mesin yang digunakan untuk memproses produk hingga kemasan yang dipakai saat produk sudah jadi.

Kebijakan Halal

Sebelum mengajukan sertifikasi halal untuk produk yang dihasilkan, tim top management harus memiliki kebijakan halal terlebih dulu. Kebijakan ini yang kemudian disosialisasikan ke seluruh stakeholder perusahaan.

Tim Manajemen Halal

Perusahaan harus memiliki tim khusus yang menangani Manajemen Halal. Tim tersebut terlibat dalam aktivitas kritis dan memiliki tugas, tanggung jawab, serta wewenang yang jelas.

Pelatihan dan Edukasi

Perusahaan juga harus memiliki rencana pelatihan dengan prosedur tertulis. Pelatihan internal tentang kehalalan produk ini harus dilaksanakan minimal setahun sekali sementara itu pelatihan eksternal harus dilakukan minimal 2 tahun sekali.

Prosedur Tertulis Aktivitas Kritis

Yang dimaksud aktivitas kritis adalah aktivitas pada rantai produksi yang dapat mempengaruhi kehalalan sebuah produk. Misalnya, seleksi bahan baru, pembelian bahan, pemeriksaan bahan datang, formulasi produk, hingga pencucian fasilitas produksi dan peralatan pembantu lainnya. Untuk mendapatkan sertifikasi halal, perusahaan harus punya prosedur tertulis tentang semua aktivitas ini.

Kemampuan Telusur

Nggak hanya sekadar mengklaim kalau bahan yang digunakan halal. Perusahaan juga harus punya prosedur tertulis untuk menjamin kemampuan telusur produk buat membuktikan bahwa bahan-bahan tersebut memenuhi kriteria.

Penanganan Produk yang Nggak Memenuhi Kriteria

Jika ada produk yang nggak memenuhi kriteria, perusahaan harus memiliki prosedur tertulis untuk menanganinya. Misalnya dengan tidak menjual produk tersebut kepada konsumen yang mensyaratkan kehalalan produk atau jika terlanjur terjual maka dilakukan penarikan produk.

Audit Internal

Audit internal ini dilakukan paling tidak 6 bulan sekali yang dilaksanakan oleh auditor halal internal yang independen dan kompeten. Hasil audit nantinya disampaikan ke LPPOM MUI dalam bentuk laporan berkala setiap 6 bulan.

Kaji Ulang Manajemen

Kajian ulang tentang kehalalan produk setidaknya harus dilakukan oleh top management atau wakilnya setiap setahun sekali. Tujuannya adalah untuk menilai efektivitas penerapan kehalalan produk dan merumuskan perbaikan berkelanjutan.

Syarat untuk mendapatkan sertifikat Sistem Jaminan Halal (SJH) ini pun nggak mudah, yaitu setidaknya produk tersebut harus lulus sertifikasi Halal dan 3 kali berturut-turut mendapatkan nilai excellent atau grade A.

Kabar baiknya, Sistem Jaminan Halal ini telah berhasil dipenuhi oleh Sasha Pasta Gigi Halal Bersiwak pertama di Indonesia, lho!

© Instagram/sashaindonesia

© Instagram/sashaindonesia

Sasha Pasta Gigi Halal Bersiwak adalah pasta gigi yang mengandung siwak asli, yaitu bahan yang disunahkan Rasul untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Produk ini terbuat dari bahan-bahan alami yang halal karena tidak mengandung alkohol dan bahan lain yang berasal dari hewan. Menggunakan bahan-bahan yang terjamin kehalalannya pastinya bakal bikin kamu makin nyaman dalam beraktivitas tanpa perlu cemas. Ibadah pun bisa dilakukan lebih maksimal.

Waktunya hijrah bersama Sasha dengan beli langsung produknya di sini, yuk!

Beri Komentar