Masih Batuk Meski Sudah Sembuh Covid-19, Dokter Paru Beri Penjelasan

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 17 November 2020 08:12
Masih Batuk Meski Sudah Sembuh Covid-19, Dokter Paru Beri Penjelasan
Ternyata gejala bisa tetap muncul meskipun hasil swab sudah negatif.

Dream - Beberapa pasien covid-19 mengeluhkan kalau gejala tak kunjung hilang meski sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Termasuk hasil swab sudah menandakan negatif Covid-19. Mengapa demikian?

Jaka Pradipta, seorang spesialis paru, menjelaskan penyebab gejala batuk masih terus muncul pada mantan pasien Covid-19. Lewat akun Twitter resminya @jcowacko, ia menjelaskan kondisi paru-paru pasien Covid-19, di mana ada tingkat kerusakan tergantung dari imunitas pasien.

" Ini adalah ct scan paru pasien covid. Dalam 1 minggu pertama akan terjadi di nomer 1 hingga 3. Bila daya tahan tubuh kita kalah, akan masuk ke nomer 4 yg menyebabkan sesak hebat. Bila membaik maka akan terjadi respon perbaikan di nomer 5, namun dengan sisa kerusakan," tulisnya.

CT Scan Paru Pasien Covid© Twitter @jcowacko

 

1 dari 8 halaman

Menurut dr. Jaka, jika imunitas pasien dalam kondisi baik, maka kerusakan dapat selesai di nomer 1 saja, atau sampai nomer 3 lalu balik ke 1. Semakin baik daya tahan tubuh, maka kerusakan paru-paru yang parah bisa dicegah dan dapat kembali normal.

" Nah, ini menjawab kenapa pasien yg sudah sembuh kadang masih memiliki gambaran bercak di paru. Kita sebut " fibrosis" atau " jaringan parut" . Kalo masih bingung, anggap aja " koreng" , luka yg mengeras akibat proses peradangan di paru," ungkap dr. Jaka.

Pasien Covid-19 dengan Gejala Diare Lebih Sulit Sembuh© MEN

Semakin banyak fibrosis artinya semakin banyak area pertukaran oksigen yang berkurang. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya fibrosis. Antara lain usia tua, perokok, memiliki gejala berat saat terinfeksi covid, perawatan di ICU dengan ventilator dalam jangka waktu lama.

" Artinya, pasien covid yang tanpa gejala, atau hanya meriang saja, rendah risikonya bisa mendapatkan fibrosis luas," tulis dr. Jaka.

 

© Dream
2 dari 8 halaman

Menurutnya, fibrosis bisa membaik dalam waktu minggu, bulan hingga tahunan. Batuk tak kunjung hilang pada mantan pasien Covid-19 juga bisa karena Post Viral Reactive Airway Disease" .

" Post Viral Reactive Airway Disease adalah keadaan saluran napas yg menjadi lebih sensitif dan reaktif setelah terinfeksi virus. Bisa sensitif terhadap udara dingin, bau menyengat, debu, asap rokok, dll. Ciri khasnya batuk kering dan terasa gatal di tenggorokan," ungkap dr. Jaka.

Cara Atasi Kecemasan Adanya COVID-19© MEN

Untuk itu, ia mengingatkan agar para pasien Covid-19, evaluasi penyakit covid harus dilakukan oleh dokter. Bukan berarti masih batuk, pasien tersebut bisa menularkan, karena hasil tes sudah negatif.

" Jangan juga kita melakukan diskriminasi dan stigma terhadap pasien yang sudah sembuh," pesan dr. Jaka.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

3 dari 8 halaman

14 Hari yang Menentukan, Perjuangan Penyintas Covid-19 Jalani Isolasi Mandiri

Dream - AW, 37 tahun, tak pernah membayangkan terkena Coronavirus Disease-19 (Covid-19). Selama pandemi melanda Indonesia, AW selalu menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tak hanya pada diri sendiri, namun juga istri dan kedua anaknya.

Setiap kali keluar rumah, masker kain tak pernah lepas dari wajahnya. Sebelum masuk rumah, cuci tangan dengan sabun jadi prosedur wajib. Bahkan barang belanjaan, termasuk sayur dan buah, dicuci sebelum disimpan di lemari pendingin atau diolah.

14 Hari Yang Menentukan, Perjuangan Penyintas Covid-19 Jalani Isolasi Mandiri© MEN

“ Selama pandemi, saya pergi kerja dengan kendaraan pribadi. Jadi, ke mana-mana, ya sudah, di dalam mobil saja. Saya enggak makan di luar. Selalu membawa bekal dari rumah,” ujar AW saat berbincang dengan Dream.

Selasa, 25 Agustus 2020, mulailah AW merasakan demam setelah pulang kerja. Dia pun melapor ke kantornya, meminta izin untuk tidak masuk kerja dengan alasan tidak enak badan. Kebijakan kantornya memang memberikan izin sakit paling lama dua hari.

Sayangnya, demam tak juga sembuh hingga sepekan. Akhirnya, AW berinisiatif rapid test di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bogor pada Jumat, 28 Agustus 2020. Setidaknya, AW punya kepastian mengenai kondisi yang dia alami.

“ Hasilnya itu selama lima jam keluar. Jumat siang saya masuk lab, sorenya saya dikasih hasil. Hasilnya non-reaktif,” ucap AW.

Tetapi, di hari itu pula, AW merasa pusing. Gejalanya menyerupai flu berat. Suhu tubuhnya meninggi, sampai 37,2 derajat Celcius.

Dua hari kemudian, AW memutuskan memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat di rumah sakit yang sama saat dia menjalani rapid test. Saat itu, kondisinya cukup parah. Demam tinggi, pusing yang tak tertahan, ditambah batuk sesekali. Tetapi, AW tidak mengalami gejala hilang kemampuan penciuman.

“ Rasanya persis kena flu. Sendi-sendi itu rasanya linu. Cuma bedanya enggak pilek, enggak meler,” kata dia.

© Dream
4 dari 8 halaman

Batuk Tak Berhenti Akibat Panik

Sesampai di UGD, dokter sempat menanyakan sejumlah hal. Mulai dari sudah kontak dengan siapa saja hingga dokter yang memeriksa dia sebelum ke RS. Setelah itu, AW menjalani cek laboratorium. Hasil lab menyatakan kondisi AW normal, namun ada peradangan di saluran pernapasan.

“ Dari situlah dokter menyarankan saya untuk swab,” kata dia.

Keesokan harinya, Senin, 31 Agustus 2020, AW menjalankan swab test PCR. Dia mendapat informasi hasil akan diberitahukan dalam 24 jam. Tetapi, pada malam setelah menjalani swab test PCR, AW mendapat telepon dari RS, menyatakan dia positif Covid-19.

AW mengaku sempat panik mendapat kabar tersebut. Apalagi, dia baru saja sembuh dari Hepatitis. Alhasil, gejala yang dia alami mulai parah.

“ Waktu itu masih demam dan batuknya itu meningkat, malam itu,” kata dia.

Beberapa saat usai mendapat telepon tersebut, AW segera berkomunikasi dengan Ketua Rukun Tetangga (RT) tempatnya tinggal, untuk kemudian dihubungkan dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 daerah.

“ Kalau saya waktu itu memutuskan ke rumah sakit (dirawat), orang rumah pada drop,” terang AW.

5 dari 8 halaman

Memilih Isolasi Mandiri

AW pun tidak tahu dari mana dia sampai tertular. Tetapi, sebelum dia merasakan sakit, sang istri ternyata demam lebih dulu namun hanya selama tiga hari. Selain itu, demam juga dialami anak ke duanya beberapa hari kemudian namun hanya satu hari. Sementara anak pertamanya sama sekali tidak sakit. Karena itulah, AW memutuskan untuk menjalani isolasi mandiri.

Seluruh prosedur untuk isolasi mandiri dijalankan. Mulai dari jendela rumah yang selalu terbuka, kamar yang terpisah, peralatan makan terpisah, penyemprotan rutin bagian rumah dengan disinfektan. 

Selama menjalani isolasi mandiri, AW menempati kamar depan. Tidak ada satupun anggota keluarga yang diizinkan masuk. Saat makan pun, AW juga di dalam kamar. Hanya fasilitas kamar mandi yang masih digunakan secara bersama.

Untuk menyiasati agar aman, AW selalu bilang ke istrinya jika ingin ke kamar mandi. Sang istri menyiapkan kamar mandi dengan mengeluarkan semua barang yang biasa ditinggal. Terutama pakaian kotor milik sang istri dan anak-anak. Semata demi mencegah agar virus tidak menular ke keluarganya.

Dia juga rutin berkonsultasi dengan puskesmas. Setiap hari, dia melaporkan perkembangan kondisi kesehatannya. Terutama mengenai perkembangan suhu tubuhnya.

© Dream
6 dari 8 halaman

Pekan Kritis

Tujuh hari pertama menjalani isolasi, AW terus merasakan demam dan batuk. Dia habiskan waktunya hanya dengan duduk atau berbaring.

“ Karena gerak sedikit saja pasti batuk. Tapi kalau dipakai tidur enggak,” tutur dia.

Dalam kondisi tersebut, AW pun pasrah dan menerima kondisinya. Dia manfaatkan waktunya untuk berzikir dan menenangkan diri. Dia juga tidak mengakses pemberitaan seputar Covid-19.

Di pekan pertama karantina pula, AW mendapat kabar temannya mengalami gejala penurunan kadar oksigen dalam darah. Dari situ, AW merasa perlu membeli Oxymeter. Dia pun membelinya secara online.

“ Tetapi saya tidak berani beli sendiri. Akhirnya saya lewatkan tetangga. Jadi yang belanja tetangga, uangnya saya transfer,” kata dia.

Hal yang sama dia lakukan ketika ingin belanja kebutuhan. Dia meminta bantuan tetangga. “ Alhamdulillah, tetangga banyak yang membantu,” kata dia.

Selama menjalani isolasi mandiri, AW hanya mengonsumsi obat-obatan dari puskesmas dan obat yang sudah dia siapkan sebelumnya. Selain itu, dia juga mengonsumsi jahe instan.

“ Itu (jahe instan) sangat membantu. Kalau dingin sedikit itu tulang-tulang kerasa (linu). Saya minum itu, agak hangat,” kata dia.

Selain itu, AW juga rutin mengonsumsi temulawak baik langsung maupun tablet. Ini sudah menjadi kebiasaan AW jauh sebelum terkena Covid-19. Namun demikian, temulawak cukup membantu terutama untuk mencegah peradangan. 

Demam pun makin lama makin turun. Meski begitu, AW masih mengalami batuk. Dia pun sepenuhnya menggunakan waktu untuk istirahat, sembari mencari referensi mengenai penyakit yang dia alami.

 

7 dari 8 halaman

Pekan Kedua, Rutin Olahraga di Ruangan

Memasuki hari ke delapan, AW sudah tidak merasakan keluhan. Namun demikian, dia belum berani menghentikan isolasi mandiri. Dia memanfaatkan waktu dengan olahraga di dalam ruangan. Seperti lari di tempat, sit up, dan lainnya.

Genap 14 hari, AW merasa kesehatannya sudah pulih. Dia lalu melonggarkan isolasi namun belum berani keluar rumah. Dia sadar, kondisinya belum pulih sepenuhnya. AW juga tak ingin menjad penular penyakit karena memaksakan diri keluar rumah.

“ Keluar rumah itu kalau ada perlu saja. Seperti belanja sayur, itupun langsung pulang nggak boleh mampir-mampir. Juga untuk berjemur,” kata dia.

Untuk memastikan kondisinya, AW kembali menjalani swab test kembali. Tetapi di rumah sakit yang berbeda. Hasil swab baru keluar tiga hari setelahnya.

Hasil itu dia laporkan ke tempat kerjanya. Tetapi, dia disarankan untuk menambah masa isolasi dua pekan lagi. Sebabnya, AW dinilai belum sepenuhnya negatif.

Akhirnya, dia menambah waktu isolasinya sebanyak 14 hari lagi. Sehingga jika dihitung, maka AW menjalani isolasi selama sebulan penuh sampai benar-benar pulih kembali.

AW pun merasakan perbedaan kondisi fisik antara sebelum dan sesudah terkena Covid-19. Dia menjadi lebih mudah lelah. Juga mengalami napas pendek. Kondisi itu dia alami selama pekan pertama isolasi.

Begitu kondisi mulai pulih, AW giat berolahraga. Selama dua pekan, AW rutin berolahraga. Hasilnya, fisiknya normal kembali seperti sebelum terkena Covid-19.

 

© Dream
8 dari 8 halaman

Pentingnya Kontrol Diri dan Patuh Protokol Kesehatan

Dari pengalaman tersebut, AW berpesan kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang belum tertular, agar lebih bisa mengontrol diri, patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Terutama menjaga jarak dan memakai masker.

“ Perlu diingat bahwa memakai masker itu lebih kepada kita tidak mau menyebarkan penyakit ke orang lain. Jadi kunci keberhasilan melawan penyakit ini adalah disiplin diri,” kata dia.

Masyarakat, kata AW, harus sadar diri dan patuh protokol. Karena jika ada satu saja orang tak patuh, potensi penularan sangat benar.

“ Jadi kontrol diri lah. Apa yang dilakukan satu orang, efek ke masyarakatnya sangat banyak,” terang AW.

Sedangkan untuk orang yang dinyatakan positif, AW memberikan beberapa saran. Seperti tidak panik ketika mendapat kabar terkonfirmasi positif.

“ Kalau panik, napasnya tak beraturan, saya alami sendiri. Kemudian segera pasrah, banyak-banyak cari literatur bagaimana cara isolasi mandiri, lalu banyak-banyak jalin komunikasi dengan lingkungan dan jangan bertindak sendiri,” ucap dia.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar