Mengenal Darah Istihadhah Pada Wanita, Wajib Berpuasa atau Tidak?

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Rabu, 20 Mei 2020 06:15
Mengenal Darah Istihadhah Pada Wanita, Wajib Berpuasa atau Tidak?
Darah istihadhah berbeda dengan haid. Hukum ibadah atasnya pun berbeda. Berikut penjelasannya.

Dream - Setiap bulan setiap wanita mendapat anugerah dari Allah SWT berupa kondisi rutin berupada datang bulan atau menstruasi. Dalam Islam, ketika seorang wanita mendapat haid, maka kewajiban sholat atasnya menjadi gugur. 

Dalam beberapa kondisi, beberapa wanita mengalami munculnya darah melebihi waktu maksimal haid, yakni 15 hari. Dalam Islam kondisi ini biasa dikenal dengan darah istihadhah. Darah istihadhah diartikan sebagai darah yang terus mengalir pada seorang wanita dan tidak pernah berhenti, atau berhenti dalam beberapa hari saja, misalnya satu atau dua hari dalam satu bulan. 

Dengan kondisi istihadhah, kira - kira apakah seorang wanita diperbolehkan berpuasa atau tetap dilarang? Berikut penjelasan mengenai istihadhah dan kewajiban puasa yang telah Dream rangkum dari berbagai sumber.

1 dari 3 halaman

Mengenal Darah Istihadhah

Kreatif, Pembalut Wanita Dipakai untuk Peredam Suara Knalpot© MEN

Mengutip laman Islam Pos, berikut adalah beberapa golongan wanita istihadhah: 

1. Jika sebelum istihadhah, seseorang punya masa haid yang teratur maka pada masa tersebut ia diam dan berlaku padanya hukum-hukum haid. Sedangkan masa selainnya adalah istihadhah dan berlaku padanya semua hukumya.

Hukum-hukum bagi wanita istihadhah sama dengan wanita suci, tidak ada perbedaan antara keduanya, kecuali beberapa hal berikut:

  • Wanita istihadhah wajib wudhu setiap kali akan melaksanakan shalat.
  •  Jika ingin berwudhu, ia harus menyuci bekas darah dan meletakkan di vaginanya sesuatu yang bisa menahan darah mengalir (sejenis pembalut). 

2. Jika sebelum istihadhah, seorang wanita tidak memiliki masa haid yang bisa diketahui dimana darah terus mengalir sejak pertama ia mengalami haid, maka ia harus berpegang pada perbedaan warna darah yang ada. Jika darah berwarna kehitam-hitaman, atau kental, atau memiliki bau, maka itu darah haid, dan selain itu adalah darah istihadhah.

3. Jika seorang wanita tidak memiliki masa haid yang bisa diketahui, serta tidak bisa membedakan jenis darah yang ada, (apakah haid atau istihadhah) dan darah terus mengalir sejak pertama ia melihatnya dengan bentuk yang sama, atau bentuk tidak pasti yang tidak bisa dikatakan darah haid, maka ia harus mengikuti kebiasaan haid sebagian besar kaum wanita, yaitu enam atau tujuh hari pada setiap bulan. Penghitungan hari dimulai sejak pertama ia melihat darah mengalir. Dan, selain hari-hari tersebut adalah darah istihadhah.

2 dari 3 halaman

Penjelasan Hadis tentang Wanita Istihadhah

Mengenai penjelasan hadisnya, Nabi mewajibkan perempuan istihadhah untuk tetap melaksanakan sholat sebagai kewajiban baginya, sehingga perempuan istihadhah tidak diperbolehkan meninggalkan sholat.

“ Fatimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia berkata: “ Aku pernah Istihadhah dan belum bersuci, apakah aku mesti meninggalkan shalat?” Nabi pun menjawab: “ Tidak, itu adalah darah penyakit, namun tinggalkanlah shalat sebanyak hari yang biasa engkau haid sebelum darah istihadhah itu, kemudian mandilah dan shalatlah” (HR Bukhari).

Berdasarkan hadis tersebut, para ulama berpandangan bahwa kewajiban atas wanita istihadhah bukan hanya sholat, namun kewajiban lainnya termasuk puasa. Karena hal yang diharamkan bagi perempuan yang haid sama sekali tidak berlaku bagi perempuan yang istihadhah. 

Menurut Imam Nawawi dijelaskan:

“ Diperbolehkan bagi perempuan yang istihadhah membaca Al-Qur’an. Ketika ia telah wudhu, maka diperbolehkan baginya memegang dan membawa mushaf, melaksanakan sujud tilawah dan sujud syukur. Wajib bagi perempuan istihadhah melaksanakan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lain yang wajib bagi orang yang suci. Tidak ada perkhilafan mengenai hal ini dalam mazhab kita (Mazhab Syafi’i). Ulama Syafi’iyah berkata: “ Kesimpulan tentang perempuan yang istihadhah adalah tidak tetap baginya hukum-hukum yang berlaku ketika keadaan haid dengan tanpa adanya perkhilafan ulama. Ibnu Jarir menukil adanya konsensus ulama (Ijma’) bahwa boleh bagi perempuan yang istihadhah membaca Al-Qur’an, dan wajib baginya seluruh kefardhuan yang wajib bagi perempuan yang suci” (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 2, hal. 542).  

 

 

3 dari 3 halaman

Kewajiban Puasa atas Wanita Istihadhah

Masih Jomblo? Mumpung Ramadhan, Coba Baca Doa Ini Agar Cepat Dapat Jodoh© MEN

Dilansir dari NU Online, wanita yang istihadhah tetap dihukumi seperti wanita yang suci. Otomatis mereka tetap menjalankan kewajiban seperti seperti shalat dan puasa. 

Ketika menjalankan puasa, wanita yang istihadhah harus berhati-hati, terutama dalam kebiasaan menyumbat anggota kemaluan dengan kapas untuk menghindari keluarnya darah saat hendak melakukan shalat.

Perempuan istihadhah yang sedang puasa tidak perlu melakukan itu, sebab akan berakibat pada masuknya benda (‘ain) pada bagian dalam tubuh (jauf) yang berakibat pada batalnya puasa. Perempuan yang istihadhah cukup membalut kemaluannya dengan penutup, tanpa perlu menyumbatnya seperti saat dalam keadaan tidak berpuasa, karena saat sedang puasa, menyumbat kemaluan saat shalat tidak diwajibkan baginya.

Wallahu a’lam.

 

Beri Komentar