Menkes Ungkap Ekstrak Temulawak dan Ikan Gabus Bisa Jadi Terapi Covid-19

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 15 Juli 2020 16:12
Menkes Ungkap Ekstrak Temulawak dan Ikan Gabus Bisa Jadi Terapi Covid-19
Kementerian Kesehatan mendorong penelitian obat tradisional untuk menangani corona.

Dream - Pandemi Covid-19 masih berlangsung dan belum bisa diketahui secara jelas kapan berakhirnya. Hingga kini obat dan vaksinnya belun ditemukan. Indonesia, melalui banyak penelitian juga berusaha mencari obat untuk mengatasi virus ini.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, dalam paparan di rapat bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa 14 Juli 2020, mengungkap kalau pihak Kementerian Kesehatan mendorong penelitian obat tradisional untuk menangani corona.

Salah satunya dengan memanfaatkan ikan gabus dan temulawak. " Misal suplemen yang mengandung ekstrak curcuma xanthorriza-temulawak, ophiocephalus striatus-ikan gabus, phyllanthus niruri-meniran (hijau)" tulisnya dalam salinan paparan, dikutip dari Portaljember Pikiran Rakyat.

 

1 dari 5 halaman

Diolah Jadi Vitamin

Pengujian telah dilakukan, yaitu diterapkan di Kabupaten Sidoarjo dengan pemberian vitamin dan fitofarmaka dua hari sekali. Terawan mengatakan bahwa pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan merupakan faktor penting dalam menghadapi pandemi corona.

Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto itu menjelaskan pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan merupakan faktor penting dalam menghadapi pandemi corona.

Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran Dirjen Layanan Kesehatan Nomor HK.02.02/IV.2243/ 2020 tentang Pemanfaatan Obat Tradisional untuk Pemeliharaan Kesehatan, Pencegahan Penyakit, dan Perawatan Kesehatan.

Sumber: Portaljember Pikiran Rakyat

2 dari 5 halaman

Obat Kumur Mengandung PVP-I Diklaim Bisa Bunuh Virus Corona dalam 30 Detik

Dream - Mulut merupakan bagian dari anggota tubuh yang harus terlindung dengan ketat agar tidak terpapar virus Covid-19 yang berukuran sangat kecil. Selama ini kita menjaga kebersihan mulut hanya dengan memakai masker.

Meski dianggap sudah cukup, kamu bisa menambah upaya pencegahan sekaligus menjaga kebersihan mulut dengan melakukan gargle agar terbebas dari mikroorganisme. Tindakan ini bahkan sangat disarankan terutama ketika kondisi mulut berubah seperti mengalami sariawan, habis mencabut gigi, pembersihan karang gigi, ataupun penurunan imun akibat penyakit dalam.

 © Dream

Untuk kamu ketahui ada sedikit perbedaan antara berkumur dengan gargling. Berkumur biasanya berupa mengocok cairan di dalam mulut. Sedangkan gargle atau gargling adalah mengocok cairan di pangkal tenggorokan dengan menengadahkan kepala ke belakang 45 derajat, buka mulut, dan keluarkan napas melalui mulut sehingga bunyi “ ahhh”hingga cairan bergelembung

Rahmi Amtha, Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut Dalam menyarankan manfaat gargling akan semakin bertambah jika menggunakan obat kumur yang mengandung povidine-iodine (PVP-I).

" PVP-I merupakan antiseptik yang telah digunakan sejak 1955. Sangat efektif digunakan pada zaman SarsCov-1 dan MERS," ungkap Drg Rahmi dalam webinar 'Update Terkini Studi In Vitro Betadine PVP-I', Rabu 8 Juli 2020.

3 dari 5 halaman

Diklaim Bisa Cegah Virus Sampai 99,99 persen

Dari sebuah penelitian terungkap jika kebiasaan gargling juga dapat membunuh SarsCov-2 hingga log4 atau 99,99 persen pada tenggorokan. Dengan hasil penelitian tersebut sangat disarankan untuk membiasakan gargling dengan obat kuur mengandung PVP-I selama pandemi.

Penelitian lain dari di Duke National University Singapore membuktikan bahwa obat kumur yang mengandung PVP-I dengan kandungan 10 persen, 7,5 persen, 1 persen dan 0,45 persen bisa membunuh SarsCov-2 dalam kurun waktu 30 detik.

Selain dapat membersihkan rongga mulut dari mikroorganisme, gargling menggunakan PVP-I juga efektif mengurangi keparahan serta mempercepat durasi Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan mencegah demam pada anak.

" Di Jepang, gargle menjadi salah satu cara untuk mencegah influenza," imbuhnya.

4 dari 5 halaman

WHO Setop Uji Coba Hydroxychloroquine, Tak Bisa Obati Covid-19

Dream - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan uji coba pengobatan Covid-19 dengan Hydroxycloroquine dihentikan. Obat itu dinyatakan tidak menunjukkan tanda-tanda positif pada kondisi pasien penderita Covid-19.

WHO menerima rekomendasi Komite Pengarah Uji Coba Solidaritas Internasional untuk menghentikan uji coba Hydroxyclroroquine serta lopinavir/ritonavir, kombinasi obat yang yang digunakan untuk pasien penderita HIV/AIDS.

 © Dream

Komite Pengarah Internasional membandingkan obat itu dengan perawatan standar untuk pasien Covid-19 di rumah sakit. Sebuah tinjauan menunjukkan hasil dari pembandingan tersebut.

" Hydroxycloroquine dan lopinavir/ritonavir menghasilkan sedikit atau tidak ada pengurangan dalam angka kematian pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, jika dibandingkan dengan standar perawatan," demikian pernyataan WHO di laman resminya, who.int.

 

5 dari 5 halaman

Tak Ada Bukti Kuat

Sementara, tidak ada bukti kuat yang menyebutkan peningkatan mortalitas pada pasien di rumah sakit yang diberi obat tadi.

Ada beberapa tanda keamanan terkait temuan laboratorium klinis dari uji coba tersebut. Namun demikian, keputusan penghentian ini tidak akan berpengaruh terhadap uji coba pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit.

Atau kepada mereka yang menerima obat sebelum kemungkinan terpapar virus corona. Sejumlah peneliti meragukan efektivitas Hydroxycloroquine sebagai obat untuk Covid-19.

Tim peneliti di Inggris pada Juni mendapat temuan obat yang umumnya digunakan untuk malaria tersebut tidak ampuh melawan virus corona.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 11 ribu pasien di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Para pasien itu dirawat dengan beberapa standar obat. Seperti obat kombo HIV lopinavir/ritonavir, antibiotik azithromycin; steroid dexamethasone, obat antiinflamasi tocilizumab, atau plasma dari orang yang sembuh dari Covid-19.

Obat tersebut sempat dipuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia juga mendorong warga AS menganggapnya sebagai profilaksis meski belum terbukti manfaat kesehatan dan keamanannya. 

 

 

Beri Komentar