Ngeri, Penyakit Pes 'Black Death' Muncul di Mongolia

Reporter : Mutia Nugraheni
Jumat, 10 Juli 2020 09:12
Ngeri, Penyakit Pes 'Black Death' Muncul di Mongolia
Merupakan penyebab pandemi di abad ke-14.

Dream - Pandemi Covid-19 belum berakhir, namun kabar soal pemicu pandemi pada abad ke-14 muncul dari Mongolia Dalam. China melaporkan satu kasus pes di sebuah wilayah di daerah Mongolia Dalam.

Otoritas kesehatan telah mengonfirmasi temuan tersebut pada Minggu malam. Dilaporkan CGTN, asien merupakan seorang gembala di Bayannur. Ia telah dikarantina dan berada dalam kondisi stabil. Kasus ini pertama kali dilaporkan dengan status diduga pada hari Sabtu 4 Juli pekan lalu.

Otoritas Bayannur telah mengeluarkan peringatan dengan tingkat kewaspadaan level III untuk mencegah dan mengendalikan wabah tersebut hingga akhir tahun ini. Masyarakat setempat juga diminta meningkatkan perlindungan diri karena potensi penularannya. Warga diperingatkan diminta untuk tidak berburu dan mengonsumsi hewan-hewan tertentu, khususnya marmot yang bisa menularkan pes.

 

1 dari 5 halaman

Dikenal dengan Black Death

Bila ada temuan marmot yang sakit atau mati, serta hewan lain yang terkait, diimbau untuk lapor. Masyarakat juga diharuskan melaporkan dugaan pes apabila ditemukan orang dengan demam tinggi yang tidak diketahui penyebabnya, serta pasien yang meninggal mendadak.

 Menggigil© Shutterstock

Dikutip dari Health, pes sempat menjadi pandemi yang dikenal sebagai " maut hitam" atau " black death" dan disebut-sebut sebagai pandemi paling mematikan dalam sejarah. Sekitar 30 hingga 50 persen populasi di Eropa menjadi korban meninggal di abad ke- 14.

 

2 dari 5 halaman

Makan Marmut dan Kelinci

Saat ini, penyakit pes memang sudah jarang dilaporkan. Meski pun begitu pada November lalu, Xinhua melaporkan beberapa seorang Mongolia yang memburu dan memakan kelinci terjangkit penyakit itu.

 Kelinci Haram Karena Punya Siklus Haid, Benarkah?© MEN

Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat melaporkan setidaknya hanya ada tujuh kasus penyakit pes dilaporkan di negara tersebut. Umumnya, penyakit ini ditemukan di daerah pedesaan.

 

 

3 dari 5 halaman

Penularan

Center for Food Security and Public Health di Iowa State University menyatakan bahwa penyakit pes disebabkan oleh yersinia pestis. Bakteri tersebut umumnya dibawa oleh tikus, kelinci, coyote, kambing, domba, dan kucing.

CDC juga mengatakan bahwa bakteri bisa masuk lewat gigitan kutu, kontak langsung dengan hewan terinfeksi, atau menghirup bakterinya. Penyakit ini bisa diobati namun di sini, diagnosis dini dan antibiotik sangatlah penting. Selain itu, para ahli kesehatan juga mengatakan bahwa pes sudah tidak lagi berpotensi menjadi pandemi karena penyakit tersebut mudah dicegah dan sudah ada pengobatannya.

 

4 dari 5 halaman

China Temukan Virus Corona 7 Tahun Lalu, Tapi Bungkam Sampai Akhirnya Nyebar

Dream - Sebuah penyelidikan tentang virus corona di China mengungkap fakta mengejutkan. Para ilmuan di China menemukan jenis virus corona yang sangat dekat dengan varian penyebab Covid-19 tujuh tahun silam.

 © Dream

Para ilmuwan yakin China sengaja merahasiakan temuan hampir sewindu lalu itu dan baru buka suara ketika Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-COV-2 itu setelah menjadi pandemi dunia.

Investigasi itu menemukan fakta bahwa varian virus corona ditemukan pada 2013, saat sejumlah penambang di lokasi yang penuh dengan tikus dan kelelawar meninggal dunia akibat virus yang variannya sangat dekat dengan penyebab Covid-19. Varian virus itu telah dibawa ke Wuhan untuk diteliti.

Dalam laporan investigasi yang dilakukan oleh Sunday Times, sebagaimana dikutip oleh Daily Star, menemukan bahwa varian terdekat dengan virus corona ditemukan pada perut para penambang yang tewas pada 2013 tersebut. Virus-virus itu dibawa ke laboratorium di Wuhan.

5 dari 5 halaman

Kelelawar dan Tikus

Varian virus itu juga ditemukan pada kelelawar dan tikus di tambang tembaga di barat daya China. Varian virus itu menyebabkan enam penambang mengalami demam, batuk dan pneumonia pada 2012 setelah mereka bekerja di lokasi tambang.

Dua di antara pekerja itu meninggal dunia akibat virus tersebut. Empat penambang lain menjalani tes dan mereka diketahui positif memiliki antibodi virus corona.

Selama ini memang beredar rumor bahwa virus corona yang meledak menjadi pandemi itu berasal dari laboratorium di China. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak China untuk menyelidiki tudingan tersebut.

Menurut laporan Sunday Times, ratusan sampel virus corona dikumpulkan dari berbagai wilayah terpencil China dan dibawa ke kota untuk diteliti.

Namun, Institut Wuhan yang merupakan tempat laboratorium biologi itu mengatakan percobaan tersebut dibatalkan karena tidak cocok dengan SARS yang pernah menjadi wabah beberapa tahun lalu.

Nikolai Petrovsky, ilmuwan dari Flinders University di Adelaide mengatakan bahwa China tidak akan melakukan apapun bila tidak mengetahui virus baru.

Beri Komentar