Pasien Covid-19 Bisa Kehilangan Penciuman Sampai 5 Bulan

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 2 Maret 2021 06:48
Pasien Covid-19 Bisa Kehilangan Penciuman Sampai 5 Bulan
Ternyata mempengaruhi sebuah area kecil di otak.

Dream - Kehilangan kemampuan mencium aroma dan merasakan makanan jadi gejala Covid-19 yang sangat khas. Ada yang mengalaminya sebentar, tapi ada juga yang cukup lama, bahkan sampai hitungan bulan.

Rupanya, sebuah studi terbaru yang dirilis dalam pertemuan American Academy of Neurology pada 22 Februari lalu menunjukan bahwa hilangnya fungsi indera penciuman dan perasa pada pasien terinfeksi COVID-19 dapat berlanjut hingga lima bulan lamanya.

“ Ini cukup umum pada banyak penyakit menular, tetapi pada Covid, efeknya jauh lebih penting,” ungkap Dr. Nicolas Dupre, direktur klinik penyakit neuromuskuler dan neurogenetik di Laval University, Quebec, dikutip dari WebMD.

Berdasarkan keterangan Dupre, ada kemungkinan bahwa virus COVID-19 dapat menembus dan membunuh beberapa sel di olfactory bulb atau ulbus olfaktorius, suatu area kecil di otak yang memiliki fungsi penting dalam pengenalan penciuman.

 

1 dari 6 halaman

Dupre menyampaikan bahwa indera penciuman yang didapatkan kembali oleh pasien Covid-19 bisa saja tidak sama seperti saat sebelum terinfeksi virus. Pada beberapa orang, hilangnya indera penciuman tersebut bahkan mungkin terjadi secara permanen.

" Kami masih berpikir bahwa pada 80% orang, tidak ada dampak signifikan pada penciuman mereka. Jadi, kebanyakan orang akan pulih, tetapi dalam persentase kecil, mungkin permanen, jadi ini bisa menjadi bagian dari kecacatan jangka panjang, yang kita lihat di COVID," ujar Dupre.

Dalam penelitiannya, Dupre dan tim peneliti mengumpulkan data lebih dari 800 tenaga kesehatan yang terkena virus Covid-19. Para peserta penelitian diminta untuk mengevaluasi indera perasa dan penciumannya selama lima bulan setelah dinyatakan positif terinfeksi.

Dari 800 peserta penelitian, 580 orang menyatakan kehilangan indera penciumannya. Dari 580 orang tersebut, 297 di antaranya atau sekitar 51% peserta penelitian menyatakan bahwa mereka tidak dapat memperoleh kembali indera penciuman lima bulan kemudian. Sebanyak 17% lainnya bahkan menyatakan terus menerus kehilangan penciuman.

Selain itu, dilaporkan pula dari 527 peserta yang kehilangan indra perasa, sebanyak 38% di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak mendapatkan kembali indera perasa mereka lima bulan kemudian, dan 9% lainnya menyatakan terus-menerus kehilangan rasa.

“ Meski virus sudah lama hilang, meski sudah sembuh dari bagian pernafasan virus, sekitar 20% masih ada keluhan tersebut,” kata Dr. Thomas Gut, Direktur Program Pemulihan Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Staten Island di New York City

Laporan: Silmi Safriyantini


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 6 halaman

Ternyata Ini Gejala Umum Virus Covid-19 Strain Baru

Dream - Virus covid-19 strain baru yang menyebar di Inggris tak dipungkiri menimbulkan kekhawatiran. Pengendalian beum berhasil, tapi virus yang sudah bermutasi dan lebih menular, sudah muncul.

Virus dengan kode B.1.1.7. ini juga memunculkan gejala yang sama, tapi menurut penelitian ada keluhan yang paling banyak dialami pasien. Dari studi yang dipublikasi UK’s Office for National Statistics, gejala umum tersebut adalah batuk, kelelahan, sakit tenggorokan dan nyeri otot.

Ternyata Ini Gejala Umum Virus Covid-19 Strain Baru© MEN

Keluhan tersebut jadi yang paling umum dialami pasien Covid-19 strain B.1.1.7. di Inggris. Kehilangan kemampuan membau dan merasa tampaknya kurang umum dialami pasien dengan strain tersebut. Sementara, sakit kepala, sesak napas, diare, dan muntah tetap umum dan serupa untuk kedua jenis virus corona.

Studi ini didasarkan pada tes positif dari sampel acak yang terdiri dari 6.000 orang di Inggris yang menjalani tes antara pertengahan November dan pertengahan Januari. Tim peneliti menganalisis gejala yang dilaporkan hingga seminggu sebelum tes positif untuk varian baru atau strain asli virus corona.

 

 

3 dari 6 halaman

Berikut presentase gejala yang dialami pasien Covid-19 strain baru yang diteliti pada 3.500 orang:
- 35% melaporkan batuk
- 32% mengalami kelelahan
- 25% mengalami nyeri otot dan nyeri
- 22% mengalami sakit tenggorokan
- 16% kehilangan rasa
- 15% kehilangan penciuman

" Mutasi pada varian baru bisa membuat strain lebih menular. Pasien yang tertular varian Inggris tampaknya menghasilkan viral load yang lebih tinggi, kata Lawrence Young, ahli virologi di University of Warwick, dikutip dari WebMD.

Virus strain baru dapat menyebabkan infeksi yang lebih luas di tubuh dan mungkin menyebabkan persentase batuk, nyeri otot, dan kelelahan yang lebih tinggi. Beberapa dari perubahan ini di berbagai bagian virus dapat memengaruhi respons kekebalan tubuh dan juga memengaruhi berbagai gejala yang terkait dengan infeksi.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

4 dari 6 halaman

Penyebab Gejala Ringan Covid-19 Menjadi Berat

Dream – Pasien Covid-19 bergejala ringan biasanya diminta isolasi mandiri di rumah. Hanya pasien yang bergejala sedang, berat atau yang memiliki komorbid bakal dirawat di rumah sakit.

Penting diketahui, kalau pasien yang bergejala ringan dapat berubah menjadi gejala serius secara cepat bahkan dapat mengancam nyawa. Napas makin sesak, kadar oksigen dalam darah menurun drastis. Apa penyebabnya?

Para ahli mengatakan setelah gejala pertama kali muncul, kondisi tubuh manusia akan cenderung memburuk yang biasanya disebabkan oleh reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Meskipun bergejala ringan, kita tetap perlu untuk istirahat dan jangan sampai kekurangan cairan.

" Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan pada seseorang, kemudian akan sembuh dalam beberapa hari atau seminggu dengan kondisi yang membaik setelahnya. Sebaliknya, mereka juga bisa mengalami sakit parah 7 -10 hari yang mungkin ada kaitannya dengan disregulasi kekebalan tubuh atau badai sitokin yang sering kita dengar," ujar dr. Dana Hawkinson, direktur medis pencegahan dan pengendalian infeksi di The University of Kansas Health System pada wawancara kepada Healthline.

 

5 dari 6 halaman

Badai sitokin mengacu pada reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut adalah komplikasi umum pada penyakit pernapasan, seperti Covid-19 dan sindrom pernapasan akut yang parah (SARS).

Saat virus penyebab Covid-19 masuk ke paru-paru, hal itu menyebabkan sistem kekebalan merespons dan membawa sel kekebalan ke paru-paru untuk menyerang virus. Ini menyebabkan peradangan. Pada beberapa orang, sistem kekebalan bereaksi berlebihan, mengakibatkan aktivasi lebih banyak sel kekebalan, menyebabkan peradangan berlebihan. Ini bisa berakibat fatal.

“ Biasanya ketika orang mengalaminya, akan dimulai dari mengalami flu atau asimtomatik. Kemudian, penyakit tersebut dapat berkembang dan menyebabkan pneumonia hingga menyebabkan orang menjadi sakit. Dan biasanya hal tersebut akan terjadi sekitar hari ke-6 atau ke-7 dari penyakit tersebut, ” ujar dr. Dean A. Blumberg selaku kepala penyakit menular pediatrik di Rumah Sakit Anak-anak Universitas California Davis pada wawancara kepada Healthline.

 

6 dari 6 halaman

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, gejala dapat muncul 2 -14 hari setelah terpapar virus. Gejalanya seperti demam, batuk, panas dingin, nyeri otot, sakit kepala, kehilangan rasa atau bau, sakit tenggorokan hingga sesak atau kesulitan bernapas.

Saat ini, para ahli mengatakan tidak ada cara untuk memprediksi apakah gejala seseorang akan berkembang dari ringan menjadi parah, meskipun ada faktor risiko yang membuatnya lebih mungkin terjadi.

" Virus ini dan infeksi yang ditimbulkannya tampaknya sangat tidak terduga. Kita tahu tentang gejala umum - demam, batuk, sesak napas - tetapi kita melihat semakin banyak gejala atipikal lainnya. Selain itu, kami melihat peningkatan gejala dari penyakit ringan hingga parah," kata Hawkinson.

Ada faktor risiko umum seperti usia, diabetes, hipertensi, penyakit paru-paru, dan imunosupresi. Sayangnya proses penyakit dan penyakit parah ini bisa menyerang siapa saja.

Laporan Yuni Puspita Dewi

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar