Pasien Covid-19 yang Sembuh Dihantui Penyakit Mengerikan Ini

Reporter : Sugiono
Kamis, 9 Juli 2020 15:48
Pasien Covid-19 yang Sembuh Dihantui Penyakit Mengerikan Ini
"Semua efek pada otak dan sistem saraf ini memiliki potensi kerusakan jangka panjang."

Dream - Virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah merenggut sekitar 4,5 persen dari hampir 12 juta orang yang dikonfirmasi positif.

Tetapi, mereka yang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19 tidak bisa hidup dengan tenang. Karena sebagian mengalami kerusakan parah pada organ vital.

Setengah tahun menjadi pandemi, namun para ilmuwan masih belum banyak tahu tentang apa yang dilakukan virus terhadap tubuh.

Namun banyak laporan baru yang menyebut penyakit Covid-19 ini menyerang otak pasien yang terinfeksi virus corona.

1 dari 4 halaman

Selain Paru, Covid-19 Menyerang Otak dan Saraf

Menurut seorang profesor neurologi di University College London, virus corona memiliki empat dampak penting pada otak dan sistem saraf.

" Satu hal penting yang perlu dicermati adalah keparahan penyakit paru-paru tidak selalu berkorelasi dengan keparahan penyakit saraf," kata Profesor Michael Zandi dalam The Conversation.

 Pasien Covid-19 yang sembuh bisa menderita penyakit otak dan saraf permanen.© News Regional Media

Artinya, kata profesor Zandi, menderita penyakit paru-paru ringan bukan berarti bebas dari komplikasi penyakit yang parah akibat terinfeksi virus corona.

Dia mencontohkan adanya pasien yang mengalami kondisi bingung yang dikenal sebagai delirium atau ensefalopati, kadang-kadang juga mengalami gangguan psikosis dan memori.

2 dari 4 halaman

Dampak Covid-19 pada Otak dan Saraf

Laporan lainnya menyebutkan adanya pasien Covid-19 yang mengalami peradangan otak, yang merupakan salah satu bentuk dari terjadinya luka pada otak.

Dia juga melaporkan adanya pembekuan darah yang dapat menyebabkan stroke, dan potensi kerusakan saraf yang dapat menimbulkan rasa sakit dan mati rasa saat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf.

" Efek-efek ini dilaporkan di seluruh dunia. Beberapa meninggal sebagai akibatnya, sementara yang lain mengalami kerusakan mental dan fisik jangka panjang," katanya.

3 dari 4 halaman

Kasus 100 Tahun Lalu Bisa Terulang

Profesor Zandi menduga Covid-19 juga dapat menyebabkan epidemi sekunder pada penyakit otak, yang disebut dengan encephalitis lethargica atau penyakit tidur.

Penyakit ini juga pernah muncul ketika pandemi flu Spanyol merebak pada 100 tahun yang lalu. Epidemi penyakit tidur sebenarnya dimulai beberapa tahun sebelum flu Spanyol.

Meski keduanya terjadi secara kebetulan, Profesor Zandi mengatakan sulit untuk secara langsung menghubungkannya satu sama lain.

4 dari 4 halaman

Bisa Berdampak Jangka Panjang

Dia menambahkan perasaan bingung dan linglung yang dialami oleh beberapa pasien Covid-19 sebagian besar berumur pendek.

Tetapi kemungkinan bisa berdampak jangka panjang atau bahkan berubah jadi demensia.

" Semua efek pada otak dan sistem saraf ini memiliki potensi kerusakan jangka panjang dan dapat menumpuk pada seseorang," pungkasnya.

Sumber: News.com.au

Beri Komentar