Pasien Covid-19 yang Telah Sembuh Muncul Garis Pada Kuku

Reporter : Mutia Nugraheni
Minggu, 9 Mei 2021 08:02
Pasien Covid-19 yang Telah Sembuh Muncul Garis Pada Kuku
Ada yang menyadari tapi ada juga yang tidak.

Dream – Selain rambut rontok dan batuk yang terjadi terus menerus, saat ini terdapat efek samping lain yang bisa timbul pada penderita Covid-19, yaitu adalah garis pada kuku. Hal ini disampaikan oleh Tim Spector yang merupakan seorang ahli epidemiologi Inggris dan peneliti utama dari aplikasi Zoe COVID Symptom Study, melalui akun twitter-nya.

“ Apakah kuku kamu terlihat aneh? Efek kuku Covid ini semakin terlihat jelas ketika kuku tersebut telah pulih dari infeksi, dimana pada masa pertumbuhannya akan meninggalkan garis yang jelas, dapat terjadi tanpa ruam kulit bahkan terlihat tidak berbahaya," tulisnya.

Garis yang disebut sebagai garis Beau itu memiliki alur atau lekukan horizontal di lempeng kuku dan dapat disebabkan oleh gangguan pertumbuhan kuku karena cedera atau penyakit. Laporan kasus yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan mencatat fenomena tersebut terjadi pada banyak pasien Covid-19 di tempat lain. Melalui komentar postingan Tim Spector, beberapa orang yang pernah terinfeksi Covid juga mengatakan mereka pasti mengalami efek samping tersebut.

" Saya juga memperhatikan ini, dan rambut saya juga telah rontok 3 bulan setelah Covid," tulis salah satu akun.

" Ini adalah kuku pasca Covid saya! Ini kira-kira 2 bulan setelah infeksi," kata akun lain.

 

1 dari 6 halaman

Dengan adanya pengakuan tersebut, banyak orang lain yang penasaran tentang efek samping dari tentang kuku Covid tersebut. Mulai dari seperti apa bentuknya, dan apakah hal itu merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

" Ketika kamu mengalami stres fisiologis yang berat seperti mental illnes, pada dasarnya kamu mengalami pergeseran siklus kuku," kata Doris Day, seorang dokter kulit asal New York.

Ia menjelaskan garis Beau dapat terlihat pada semua kuku termasuk kuku kaki. Kemunculannya juga bukan berarti seseorang pernah menderita Covid-19. Dibutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk muncul garis tersebut. Selain itu beberapa orang juga mungkin tidak dapat melihatnya, karena bentuknya tidak begitu jelas.

5 Langkah Merawat Kuku Kaki Agar Tetap Sehat© MEN

“ Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa segala jenis penyakit sistemik dapat mengganggu pertumbuhan kuku yang tercermin dari kelainan tampilan kuku,” ujar Amesh A. Adalja, MD, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security di Maryland.

Ia menjelaskan, kuku Beau biasanya tidak perlu dikhawatirkan, karena hal tersebut hanya menunjukkan bahwa tubuh sedang mengalami sesuatu dan telah puli. Kabar baiknya, kuku dapat memperbaiki dirinya sendiri seiring berjalannya waktu tanpa pengobatan.


Laporan: Yuni Puspita Dewi/ Sumber: Health

2 dari 6 halaman

Covid-19 Masih Mengintai! Ini 4 Alasan Wajib Pakai Masker Meski Sudah Jaga Jarak

Dream - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan agar setiap orang memakai masker ketika keluar rumah. Beberapa kota besar telah mewajibkan aturan ini, hingga banyak di seluruh negara sibuk menyiapkan masker kain DIY.

Meskipun sudah memakai masker, baik masker medis maupun kain, bukan berarti kamu boleh seenaknya tidak menjaga jarak di tempat umum lho, Sahabat Dream.

Hoaks Kawat Masker Medis Disebut Antena Pembunuh© MEN

Dilansir dari Huffpost, seorang spesialis penyakit menular sekaligus profesor kedokteran Peter Glick di Michigan State University menganjurkan untuk terus mematuhi aturan jaga jarak.

“ Sejauh masker wajah versus jarak sosial setidaknya 6 kaki, masker wajah tidak menggantikan jarak sosial,” kata Peter Gulick, spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Michigan State University.

" Penggunaan masker bukan berarti membuat Anda bisa lebih dekat dengan orang lain," kata Gulick.

Peringatan dari ahli kesehatan tersebut bukan tanpa alasan. Inilah alasan dan bagaimana kedua tindakan tersebut diperlukan untuk memperlambat penyebaran virus Covid-19.

3 dari 6 halaman

Masker Melindungi Diri dan Orang Lain dari Virus

Ilustrasi© freepik.com

Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC sejak awal wabah virus Corona menyatakan bahwa tidak perlu memakai masker kecuali sakit, karena itu akan mencegah menyebarkan kuman atau virus ke orang lain.

Nah, itu benar meski kamu tidak merasa sakit. Para ahli telah mengetahui bahwa banyak orang yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala, dengan beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hingga 50 persen orang dengan virus corona mungkin tidak menunjukkan gejala.

Disarankan agar kita berperilaku seolah-olah kita sudah terkena virus corona pada saat ini. Dengan menutupi wajah di depan umum, kamu membantu orang lain untuk tetap aman dari apa pun yang mungkin kamu bawa. Jadi, ini lebih tentang perlindungan mereka daripada perlindungan kamu sendiri.

4 dari 6 halaman

Pakai Masker Tidak Menjamin Terbebas dari Virus

Memakai masker lebih baik daripada tidak sama sekali. Namun memakai masker bukan jaminan kamuu terbebas dari virus lho.

“ Dalam hal perlindungan yang diberikan oleh masker dan bandana kain DIY, buktinya secara keseluruhan tidak meyakinkan,” kata Lili Barsky, penyedia layanan mendesak di wilayah Los Angeles.

Barsky menambahkan bahwa masker tidak melindungi mata kita, yang memungkinkan untuk menularkan virus lewat mata.

“ Partikel COVID-19 juga dianggap cukup kecil untuk dapat melewati masker ini atau tertahan di kain, dan bahkan masker kelas medis tidak memberikan perlindungan 100 persen,” katanya.

Gary Slutkin, mantan kepala pengembangan intervensi di Organisasi Kesehatan Dunia, juga mengatakan masker tidak kedap udara. “ Masker mengeluarkan udara di sepanjang sisi dan sulit untuk dipakai dengan benar. Virus masih bisa menyebar ke Anda melalui udara jika Anda terlalu dekat dengan orang lain yang membawa virus,” katanya.

Jadi masker tidak menjamin kamu terbebas dari virus, namun masker digunakan sebagai usaha untuk menghindari virus.

5 dari 6 halaman

Lebih Baik Pakai Masker daripada Tidak Sama Sekali

Ilustrasi© freepik.com

Aimee Ferraro, pakar epidemiologi dan fakultas inti senior di program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Walden mengatakan dalam banyak kasus, virus corona menyebar melalui tetesan pernapasan yang lebih besar yang dapat diblokir setidaknya sebagian oleh semacam penutup mulut dan hidung.

“ Selain itu, ada konsep pengurangan dampak buruk dengan penyakit menular yang menunjukkan bahwa penurunan dosis patogen dapat memberikan lebih banyak waktu bagi tubuh Anda untuk mengembangkan kekebalan yang efektif,” tambahnya.

Setidaknya penggunaan masker memang menawarkan cara untuk membantu mengurangi dosis virus corona yang ditularkan.

" Apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali untuk mengurangi risiko Anda terkena infeksi virus corona," kata Ferraro.

6 dari 6 halaman

Memakai Masker bukan Alasan untuk Tidak Jaga Jarak

Jika kamu ingin menjaga diri sebebas mungkin dari virus corona, kamu harus menjaga jarak saat di tempat umum. Masker tidak bisa menggantikan usaha lain yang juga sangat penting yaitu jaga jarak sosial.

Menurut Philip Robinson, direktur pencegahan infeksi di Hoag Memorial Hospital Presbyterian di Newport Beach, California, setiap orang yang mengisolasi diri akan mengurangi risiko mereka menulari orang lain secara dramatis. Ia menambahkan dalam waktu 30 hari, satu individu yang tidak mematuhi jaga jarak sosial berisiko menginfeksi ratusan orang.

“ Dengan mengurangi kontak fisik hingga 75%, risiko infeksi individu tersebut merosot menjadi 2,5 orang,” katanya.

Sementara itu David Fein selaku pendiri dan direktur medis dari Princeton Longevity Center menyebut intinya adalah masker dapat membantu mengurangi penyebaran virus, tetapi memakai masker tidak membuat Sahabat Dream benar-benar aman.

Jarak jarak sosial dan patuh memakai masker adalah satu-satunya cara kita dapat benar-benar memperlambat penyebaran virus saat ini.

Beri Komentar