Hasil Riset: Virus Corona Bukan Rekayasa Genetik, Apalagi Senjata Biologis

Reporter : Sugiono
Jumat, 20 Maret 2020 13:12
Hasil Riset: Virus Corona Bukan Rekayasa Genetik, Apalagi Senjata Biologis
Ilmuwan mengatakan virus corona baru yang disebut SARS-CoV--2 itu produk evolusi alami.

Dream - Penelitian terkini menyatakan virus corona baru, SARS-CoV-2, yang muncul di Wuhan, Hubei, China, tahun lalu dan menjadi pandemi di lebih dari 70 negara merupakan produk evolusi alami.

Temuan tersebut diungkapkan dalam jurnal Nature Medicine yang dipublikasikan pada 17 Maret 2020.

Berdasarkan analisis pengurutan data genom publik dari SARS-CoV-2 dan virus terkait, para peneliti tidak menemukan bukti virus itu dibuat di laboratorium atau direkayasa.

" Dengan membandingkan pengurutan data genom strain virus corona yang sudah diketahui, kita dapat dengan tegas menyatakan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami," kata profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, Kristian Andersen.

Selain Andersen, penelitian berjudul 'Asal Proksimal SARS-CoV-2' itu melibatkan Robert F. Garry dari Universitas Tulane, Edward Holmes dari University of Sydney, Andrew Rambaut dari Universitas Edinburgh, W. Ian Lipkin dari Universitas Columbia.

1 dari 5 halaman

Virus corona masuk keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda. Virus corona pertama menimbulkan epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di China pada 2003.

Wabah kedua terjadi pada 2012 di Arab Saudi dengan munculnya Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS). Kemudian, pada tanggal 31 Desember tahun lalu, muncul wabah virus corona baru yang yang kemudian dinamai SARS-CoV-2.

Tak lama setelah epidemi dimulai, para ilmuwan China mengurutkan genom SARS-CoV-2 dan membuat datanya tersedia bagi para peneliti di seluruh dunia.

Andersen dan kolaborator di beberapa lembaga penelitian lain kemudian menggunakan data pengurutan ini untuk menelusuri asal-usul dan evolusi SARS-CoV-2 dengan memfokuskan pada beberapa fitur khas virus.

2 dari 5 halaman

Para ilmuwan menganalisis contoh genetik dari protein lonjakan (spike protein), yaitu bingkai di bagian luar virus yang digunakannya untuk menempel dan menembus dinding luar sel manusia dan hewan.

Lebih khusus lagi, mereka fokus pada dua fitur penting dari spike protein: domain pengikat reseptor (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang. Juga tapak pembelah, pembuka molekul yang memungkinkan virus untuk membuka celah dan masuk ke sel inang.

3 dari 5 halaman

Para ilmuwan mendapati RBD dari spike protein SARS-CoV-2 telah berevolusi untuk secara efektif menargetkan fitur molekuler di bagian luar sel manusia. Bagian ini disebut ACE2, sebuah reseptor yang terlibat dalam pengaturan tekanan darah.

Spike protein SARS-CoV-2 sangat efektif untuk mengikat sel-sel manusia. Bahkan para ilmuwan menyimpulkan itu adalah hasil seleksi alam dan bukan produk rekayasa genetika.

Bukti evolusi alami ini didukung oleh data tentang tulang punggung SARS-CoV-2 yaitu keseluruhan struktur molekul dari virus tersebut. Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, mereka harus membuatnya dari tulang punggung virus yang diketahui sebagai penyebab penyakit.

Tetapi para ilmuwan menemukan tulang punggung SARS-CoV-2 berbeda secara substansial dengan yang ada pada virus corona sebelumnya. Kebanyakan menyerupai virus yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

" Kedua fitur virus ini, yaitu mutasi pada bagian RBD dari spike protein dan tulang punggungnya yang berbeda, mengesampingkan adanya manipulasi laboratorium sebagai kemungkinan asal dari SARS-CoV-2," pungkas Andersen.

Sumber: Science Daily

4 dari 5 halaman

Bikin Dokter Jantungan, Pemuda Mengaku Kontak Pasien Corona Demi Surat Sakit

Dream - Cemas dan khawatir. Itulah yang dirasakan dokter Mohamad Amirul Juraimi Azhar asal Malaysia saat seorang pasien muda 'menghilang' setelah mengaku dirinya pernah kontak dengan orang positif Covid-19.

Insiden pada Senin, 16 Maret 2020, itu terjadi beberapa jam setelah Dr Amirul memeriksa seorang peserta tabligh akbar di Masjid Seri Petaling, Kuala Lumpur, yang dikaitkan dengan ratusan kasus Covid-19.

Dokter berusia 29 tahun itu yang bertugas di ruang isolasi itu menceritakan bahwa pasien tersebut awalnya tidak mengaku dirinya pernah punya kontak dengan orang-orang yang diduga terjangkit virus corona.

" Seorang pria muda berusia awal 20-an datang ke klinik dalam kondisi batuk. Saat ditanya perawat di konter screening, dia mengaku tidak menghadiri tabligh akbar. Dia juga bilang tidak pulang dari luar negeri dan tidak pernah kontak dengan pasien Covid-19," ujar Dr Amirul.

5 dari 5 halaman

Keterangan yang Berubah-ubah

Sebab, jika mengaku pernah kontak dengan orang yang terjangkit Covid-19, maka akan langsung dibawa ke ruang isolasi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

" Suhu badannya juga kurang dari 38 derajat. Jadi dia diperbolehkan masuk ruang periksa dan menunggu giliran seperti biasa," kata Dr Amirul, sambil menambahkan bahwa peserta tabligh akbar yang sebelumnya dia periksa menjalani karantina di rumah selama 14 hari.

Setelah mendapat pemeriksaan, dokter yang menanganinya mengatakan bahwa kondisi pasien muda itu tidak perlu dikhawatirkan karena tidak pernah kontak dengan orang positif Covid-19.

" Tapi setelah ditanya lagi, dia tiba-tiba mengatakan pernah kontak dengan kawannya yang positif Covid-19. Dokter dan perawat langsung ketakutan. Apalagi ada seorang dokter yang sedang hamil. Dia seharusnya memberitahu saat di konter screening tadi," kata Dr Amirul.

Beri Komentar