Penelitian Wuhan: 86% Pasien Tak Sadar Terinfeksi Virus Corona

Reporter : Sugiono
Kamis, 19 Maret 2020 12:12
Penelitian Wuhan: 86% Pasien Tak Sadar Terinfeksi Virus Corona
Akibatnya mereka juga tidak sadar telah menyebarkan virus ke orang lain.

Dream - Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 86 persen orang tidak menyadari tubuhnya menjadi agen penyebar virus corona baru, Covid-19. Kondisi ini menyebabkan mereka tetap melakukan perjalanan hingga menyebabkan virus corona menyebar lebih cepat.

Menurut Journal Science, peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk melacak infeksi sebelum dan sesudah dilakukan larangan bepergian di Wuhan, Provinsi Hubei, China yang menjadi pusat penyebaran virus corona.

Mereka kemudian melihat situasi yang terjadi di China dan mencatat bahwa enam dari tujuh kasus virus corona tidak dilaporkan sebelum larangan bepergian diberlakukan di negara itu.

Kasus yang tidak dilaporkan inilah yang kemudian menjadi pemicu menyebarnya virus corona hingga akhirnya menjadi pandemik global seperti sekarang ini.

" Dan masih banyak orang di luar sana yang tidak sadar bahwa mereka agen penyebar yang bisa menularkan virus corona ke orang lain," tulis penelitian tersebut.

1 dari 9 halaman

Hanya Berpikir Flu Biasa

Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah para agen penyebar yang tidak tercatat ini tidak memiliki atau tidak menunjukkan gejala.

" Mereka bisa berjalan dengan bebas di tengah masyarakat meski membawa ancaman kepada orang lain yang mungkin akan mengalami gejala yang lebih parah," kata Shaman, salah satu penulis penelitian.

" Mereka (para agen penyebar) tidak menyadarinya. Mereka berpikir hanya sakit flu biasa. Ini akan terus menjadi tantangan dalam mencegah penyebaran di masa depan," tambahnya.

Meski penelitian ini hanya melihat data yang ada di China tapi juga bisa terjadi di negara-negara yang saat ini menghadapi wabah Covid-19, termasuk Indonesia.

Itulah mengapa pentingnya melakukan berbagai langkah pencegahan virus yang menyebabkan Covid-19. Seperti mengurangi aktivitas di luar rumah agar tidak terjadi kontak dengan agen penyebar yang tidak tercatat yang bisa menularkan virus ke kita dan keluarga kita.

Sumber: World of Buzz

 

 

2 dari 9 halaman

Penelitian Wuhan: Golongan Darah A Kemungkinan Lebih Rentan Virus Corona

Dream - Sebuah penelitian awal di China menunjukkan orang dengan golongan darah A kemungkinan lebih rentan terhadap virus corona baru. Sementara, orang dengan golongan darah O mungkin lebih tahan terhadap virus dengan nama resmi Covid-19 tersebut.

Penelitian itu dilakukan oleh tim medis di China terhadap 2.000 pasien positif terinfeksi virus corona baru di Wuhan, yang menjadi awal pusat pandemi, dan Shenzhen. Penelitian itu mendapat temuan bahwa pasien golongan darah A menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi dan cenderung mengalami gejala lebih parah.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa riset ini masih awal dan perlu dilakukan studi lebih lanjut. Mereka mendesak pemerintah Negeri Tirai Bambu dan fasilitas medis mempertimbangkan perbedaan golongan darah ketika merencanakan langkah-langkah mitigasi atau merawat pasien yang terinfeksi Covid-19.

" Orang-orang bergolongan darah A mungkin perlu secara khusus memperkuat imunitas untuk mengurangi kemungkinan infeksi," tulis para peneliti yang dipimpin oleh Wang Xinghuan, dikutip dari South China Morning Post, Rabu 18 Maret 2020.

 

 

3 dari 9 halaman

" Pasien yang terinfeksi Sars-CoV-2 (virus penyebab Covid-19) dengan golongan darah A mungkin perlu menerima pengawasan yang lebih waspada dan perawatan yang agresif," tulis Wang.

Sebaliknya, menurut makalah yang mereka terbitkan di Medrxiv.org pada 11 Maret itu, " golongan darah O memiliki risiko yang secara signifikan lebih rendah terhadap penyakit menular dibandingkan dengan golongan darah non-O."

Dari 206 pasien yang meninggal akibat Covid-19 di Wuhan, 85 bergolongan darah A. Angka itu 63 persen lebih banyak daripada pasien bergolongan darah O, yang jumlahnya 52. Pola ini terjadi pada kelompok usia dan jenis kelamin yang berbeda.

" Ini mungkin bermanfaat untuk memperkenalkan golongan darah ABO pada pasien dan tenaga medis sebagai bagian rutin dari manajemen Sars-CoV-2 dan infeksi coronavirus lainnya, untuk membantu menentukan opsi manajemen dan menilai tingkat paparan risiko orang," tulis Wang.

4 dari 9 halaman

Studi ini dilakukan oleh para ilmuwan dan dokter dari kota-kota di seluruh China, termasuk Beijing, Wuhan, Shanghai, dan Shenzhen. Meski demikian, studi ini belum ditinjau oleh kelompok peneliti lain. Para peneliti tersebut juga mengingatkan kemungkinan adanya risiko untuk menggunakan hasil studi sementara itu sebagai panduan praktik klinis saat ini.

Gao Yingdai, seorang peneliti dari State Key Laboratory of Experimental Haematology di Tianjin, yang tidak terlibat dalam penelitian itu mengatakan bahwa temuan ini bisa ditingkatkan dengan menambah jumlah sampel yang lebih besar.

Meskipun jumlah 2.000 pasien yang terlibat menjadi sampel bisa dibilang tidak kecil, angka tersebut masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan total pasien yang terinfeksi oleh virus corona baru, yang jumlahnya di seluruh dunia kini lebih dari 180.000.

Menurut Gao, keterbatasan lain dari penelitian ini adalah tidak memberikan penjelasan yang gamblang tentang fenomena tersebut, seperti interaksi molekuler antara virus dan berbagai jenis sel darah merah.

5 dari 9 halaman

Golongan darah ditentukan oleh antigen, suatu bahan pada permukaan sel darah merah yang dapat memicu respons imun. Ahli biologi Austria, Karl Landsteiner, menemukan golongan darah utama pada tahun 1901, menamakannya tipe A, B, AB dan O. Penemuan ini memungkinkan transfusi darah yang aman dengan mencocokkan golongan darah pasien.

Golongan darah bervariasi dalam suatu populasi. Di Amerika Serikat, sekitar 44 persen populasi adalah tipe O, sementara sekitar 41 persen bergolongan A.

Di Wuhan, yang berpopulasi sekitar 11 juta, orang bergolongan darah O sebesar 32 persen, sedangkan A sebanyak 34 persen di antara orang sehat. Sementara di antara pasien yang terinfeksi Covid-19, sekitar 38 dan 25 persen.

Menurut penelitian sebelumnya, perbedaan golongan darah telah diamati pada penyakit menular lainnya, termasuk virus Norwalk, hepatitis B, dan sindrom pernapasan akut (Sars).

6 dari 9 halaman

Gao mengatakan, studi baru tersebut, " mungkin membantu para profesional medis, tetapi warga negara biasa tidak harus menganggap statistik terlalu serius."

" Jika Anda bergolongan darah A, tidak perlu panik. Itu tidak berarti Anda akan terinfeksi 100 persen," kata dia.

" Jika Ada tipe O, itu tidak berarti Anda juga benar-benar aman. Anda masih perlu mencuci tangan dan mengikuti pedoman yang dikeluarkan oleh pihak berwenang," tambah Gao.

7 dari 9 halaman

Begini Kondisi Tubuh Pasien yang Sembuh dari Virus Corona Covid-19

Dream - Beberapa pasien yang pulih dari virus corona baru, Covid-19 menderita penurunan fungsi paru-paru. Tidak itu saja, mereka juga mengalami masalah seperti cepat lelah ketika berjalan cepat.

Temuan itu diungkapkan otoritas Rumah Sakit Hong Kong pada Kamis, 12 Maret 2020, setelah melakukan observasi terhadap kelompok pertama pasien positif virus corona baru yang dinyatakan sembuh.

© Dream

Kota Hong Kong sejauh ini mencatat 131 kasus positif COVID-19 dengan jumlah yang meninggal tiga orang. Dari 131 kasus, 74 pasien telah dipulangkan sementara satu orang yang kemungkinan positif corona juga telah pulih.

8 dari 9 halaman

Mudah Lelah dan Fungsi Paru Menurun

Dr Owen Tsang Tak-yin, direktur medis dari Pusat Penyakit Menular di Rumah Sakit Princess Margaret di Kwai Chung, mengatakan tim dokter telah memeriksa sekitar puluhan pasien yang dipulangkan melalui rawat jalan.

Dua hingga tiga orang yang dinyatakan sembuh dari corona itu tidak dapat melakukan aktivitas seperti sedia kala dengan baik.

" Mereka terengah-engah jika berjalan sedikit lebih cepat. Beberapa pasien mengalami penurunan sekitar 20 hingga 30 persen fungsi paru (setelah pemulihan)," kata Dr Tsang.

9 dari 9 halaman

Efek Jangka Panjang Berupa Fibrosis Paru

Namun Dr Tsang mengatakan efek jangka panjang pada pasien yang sembuh ini belum bisa dipastikan secara klinis.

Menurut Dr Tsang, efek jangka panjang tersebut biasanya berupa fibrosis paru, sebuah kondisi di mana jaringan paru mengeras dan organ tidak dapat berfungsi dengan baik.

Dia mengatakan pasien COVID-19 yang sudah dinyatakan sembuh dan bisa pulang ke rumahnya bisa melakukan latihan kardiovaskular seperti berenang untuk membantu memulihkan fungsi paru-paru mereka secara bertahap.

Sementara itu, Dr Tsang akan melakukan uji klinis pada remdesivir untuk melihat efektivitasnya terhadap Covid-19. Remdesivir adalah obat yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola.

" Obat itu sudah dikirim ke beberapa rumah sakit. Dokter akan mulai mengidentifikasi pasien corona yang cocok untuk bergabung dalam uji coba, yang diharapkan akan dimulai pada pertengahan bulan ini," katanya.

Dia menekankan bahwa obat itu dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti memengaruhi fungsi hati dan menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.

Selama ini, pasien COVID-19 dirawat dengan Kaletra, obat yang awalnya untuk HIV/AIDS; Ribavirin, yang juga digunakan untuk hepatitis C; dan interferon.

(Sah, Sumber: Asia One)

Beri Komentar