Pentingnya 3T Covid-19 demi Keselamatan Pasien dan Orang Sekitar

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Kamis, 19 November 2020 20:45
Pentingnya 3T Covid-19 demi Keselamatan Pasien dan Orang Sekitar
Program 3T akan meningkatkan angka kehidupan bagi pasien terjangkit dan orang di sekitar pasien.

Dream - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengungkapkan terjadinya peningkatan kasus positif sebesar 17,8 persen pekan ini. Pemerintah menekankan program 3T: Testing, Tracing, dan Treatment, untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Hasil penelitian di luar negeri menunjukkan penerapan 3T mampu mencegah penularan virus corona hingga 100 persen. Penerapan praktik 3T ini sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M: menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

" Kalau dengan masker 5-90 persen, menjaga jarak bisa 100 persen tidak menular. Penelitian di Indonesia belum ada, namun 3T itu juga bisa 100 persen tidak menularkan," tutur Kusmedi Priharto, Kasubbid Tracking Satgas Covid 19 dalam tayangan YouTube BNPB Indonesia, Kamis 19 November 2020.

Gerakan 3T merupakan upaya penanganan bagi pasien tahap awal dengan gejala ringan. Pasien yang sudah berada di tahap darurat akan lebih sulit ditangani dengan pengobatan medis.

" Bayangkan jika pasien sudah masuk ICU, itu angka kehidupan hanya lima persen," tegasnya.

1 dari 5 halaman

Tidak Perlu Takut 3T

Oleh karena itu, seseorang yang tidak mau melakukan testing setelah melakukan kontak erat dengan pasien positif sama saja mencelakai diri sendiri dan orang lain.

Kusmedi menegaskan testing dan tracking bukan merupakan hal yang menakutkan. Deteksi yang dilakukan lebih dini akan memberi peluang lebih tinggi untuk sembuh.

" Untuk mereka yang masih awal, angka kesembuhannya masih di atas 80 persen," tuturnya.

dr. Kusmedi Priharto SpOT MKes, Kasubbid Tracking Satgas Covid 19© Foto: YouTube BNPB Indonesia

Deteksi dini dapat dilakukan secara kerjasama dengan petugas kesehatan. Satgas saat ini juga tengah mengerahkan 1.612 petugas tracking di puskesmas 10 provinsi terpilih dan 7.000 petugas tracker di 51 kabupaten kota.

" Kemudian kita aktifkan juga para RT, RW, lurah, camat dan masyarakat, serta kader yang ada di sana. Kita tugaskan mereka menjadi informan jika ada tetangga yang terpapar," pungkas Kusmedi.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Satgas Covid-19 Terbitkan Pedoman Perilahan Perilaku dalam 75 Bahasa Daerah

Dream - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 berkolaborasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudmenejermahkan buku pedoman perubahan perilaku penanganan Covid-19 ke 75 bahasa daerah.

Data Kemendikbud mencatat 718 bahasa daerah yang tersebar di Indonesia. Bahasa daerah dinilai lebih efektif untuk menyampaikan pesan protokol ke wilayah masing-masing.

" Kami mencoba menerjemahkan pedoman dibantu dengan Kemendikbud. Kami ingin menyampaikan dengan bahasa dan komunikasi yang efektif sehingga masyarakat dapat melaksanakan apa yang kita harapkan," tutur Dr. Sonny Harry B. Harmadi, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, di Jakarta, Kamis 19 November 2020.

Pendekatan sosial dilakukan guna mendukung pelaksaan 3T, Tracing, Treatment, dan Testing) yang menjadi upaya dalam memutus rantai penularan Covid-19.

" Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada bahasa Manggarai, Kupang dan sebagainya jadi bisa ada beberapa bahasa di suatu daerah. Seperti di Kalimantan juga bahasa Dayaknya ada beberapa jenis," jelasnya.

3 dari 5 halaman

Konten Video

Sonny berharap apabila pesan disampaikan memakai bahasa daerah, masyarakat dapat lebih meresapi dan mau mengikuti protokol kesehatan.

Selain menerjemahkan buku pedoman perubahan perilaku penanganan Covid-19 ke dalam 75 bahasa daerah, Satgas dan Kemendikbud juga akan membuat konten video edukasi.

" Kemudian kami juga akan membuat video singkat, durasinya hanya 30-40 detik dan itu juga disampaikan memakai bahasa-bahasa daerah," kata Sonny.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

Pedoman Baru Covid-19 AS: Bisa Tersebar via Udara, Jarak Infeksi Sekitar 2 Meter

Dream - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat memperbarui pedoman penanganan Covid-19. Lembaga itu menyatakan virus corona dapat tersebar melalui udara.

" Beberapa infeksi dapat disebarkan melalui paparan virus dalam tetesan kecil dan partikel yang dapat bertahan di udara selama beberapa menit hingga berjam-jam. Virus ini mungkin dapat menginfeksi orang yang jaraknya lebih dari 6 kaki (1,82 meter,red) dari orang yang terinfeksi atau setelah orang tersebut meninggalkan ruangan," demikian bunyi pedoman baru tersebut yang dijelaskan Pakar Epidemiologi Kumi Smith.

Pedoman itu menyebutkan beberapa bukti penularan yang terjadi di antara orang-orang pada jarak lebih dari 6 kaki di dalam ruangan tertutup dan ventilasi kurang memadai. Dalam beberapa kasus, orang yang terinfeksi bernaas dengan berat ketika menyanyi atau olahraga.

" Ketika banyak pasien positif tinggal di rumah sakit dan menjalani perawatan untuk jangka waktu yang lama, penting untuk mengontrol kemungkinan penularan melalui udara," kata Smith.

 

5 dari 5 halaman

Sistem Ventilasi Harus Dipastikan Memadai

Dia pun meminta rumah sakit memastikan sistem ventilasi di bangsal penyakit menular cukup memadai. Tidak hanya untuk Covid-19 namun semua penyakit pernapasan.

" Untuk memastikan udara ditarik keluar dari ruangan itu dan kemudian dikeluarkan ke langit di luar rumah sakit, supaya nantinya penyakit itu tidak mengenai siapapun," ujar Smith.

Pedoman Covid-19 pada CDC mungkin akan mengalami perubahan ke depan. Ini mengingat masih banyak hal yang tidak pasti terkait virus corona.

" Cara kedua kami mendapatkan jenis informasi ini adalah dari studi kasus," ucap Smith.

Dia juga menyatakan sejauh ini para ilmuwan masih berpikir virus paling sering ditularkan melalui kontak dekat. Juga masih banyak yang menganggap cara utama penularan Covid-19 yaitu melalui kontak dekat, bicara tatap muka tanpa menggunakan masker.

Sumber: Sputnik News

Beri Komentar