Pria Lebih Banyak Meninggal Akibat Virus Corona Daripada Wanita, Mengapa?

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 18 Maret 2018 23:59
Pria Lebih Banyak Meninggal Akibat Virus Corona Daripada Wanita, Mengapa?
Angka kematian akibat corona didominasi pria.

Dream - Virus corona yang muncul pertama kali di Wuhan, Hubei, China, menimbulkan banyaknya angka kematian. Tetapi, angka kematian di sana ternyata didominasi pasien pria.

Dalam laporannya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) mencatat 2,8 persen angka kematian disumbang dari pasien pria. Sedangkan pasien wanita menyumbang sekitar 1,7 persen.

Sementara jumlah orang yang terinfeksi hampir sama jumlahnya. Di sisi lain, wanita memiliki tingkat kelangsungan hidup yang relatif lebih tinggi daripada pria.

Dikutip dari Times of India, hal ini dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Bisa karena gaya hidup, alasan biologis dan bahkan sistem kekebalan tubuh.

Bicara sistem kekebalan tubuh, pria ternyata lebih lemah. Sementara wanita memiliki kemampuan lebih besar dalam bertahan melawan infeksi.

 

1 dari 5 halaman

Respon Imun Lebih Baik

Wanita juga menghasilkan respon imun yang lebih kuat untuk vaksinasi yang melindungi dari patogen (agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya) yang mereka hadapi saat masih anak-anak.

Alasan wanita memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat belum diketahui sampai sekarang. Meskipun penelitian mengenai hal ini masih berlangsung.

Beberapa alasan biologis dapat menyebabkan hal ini. Hormon estrogen pada wanita tampaknya berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh.

Wanita membawa dua kromosom X yang mengandung gen terkait kekebalan. Sementara laki-laki, hanya membawa satu.

" Ini adalah pola yang telah kita lihat dengan banyak infeksi virus pada saluran pernapasan, pria dapat memiliki hasil yang lebih buruk," kata Profesor Sabra Klein, seorang ilmuwan yang mempelajari perbedaan jenis kelamin dalam infeksi virus dan vaksinasi di Sekolah kesehatan Johns Hopkins Bloomberg.

 

2 dari 5 halaman

Ini Penyebabnya

Sejak awal wabah, misalnya, pejabat kesehatan masyarakat telah menekankan pentingnya mencuci tangan dengan baik dan sering untuk mencegah infeksi. Tetapi beberapa penelitian menemukan pria, bahkan petugas perawatan kesehatan, jarang mencuci tangan atau menggunakan sabun dibandingkan wanita.

Alasan lain di balik semakin banyak pria yang meninggal karena COVID-19 adalah kebiasaan merokok. Hampir 316 juta orang merokok di Tiongkok, yang merupakan sepertiga dari populasi dunia.

Sementara hanya 2 persen wanita China yang merokok, jumlahnya meningkat tajam pada pria. Lebih dari setengah pria Cina merokok.

Wabah coronavirus besar lainnya seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) 2003 dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) 2012 juga membunuh lebih banyak pria daripada wanita, menurut hasil riset yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine. Penelitian pada tikus juga menunjukkan jantan lebih rentan terhadap infeksi daripada betina.

Profesor Biologi Universitas Iowa, Stanley Perlman, selakui penulis senior penelitian tersebut mengatakan tikus jantan memiliki respon imun yang lebih rendah dan lebih lambat untuk menghilangkan virus dari tubuh mereka. Tikus jantan juga menderita lebih banyak kerusakan paru-paru dan memiliki tingkat kematian lebih tinggi daripada tikus betina.

Laporan: Raissa Anjanique

3 dari 5 halaman

Menaker Ingatkan Perusahaan Tetap Bayar Penuh Gaji Pegawai ODP Corona

Dream – Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Ida Fauziyah, meminta perusahaan untuk membayar penuh gaji pegawai yang tak masuk kerja karena masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP). Menaker juga mengimbau kepala daerah memantai perlindungan pengupahan tenaga kerja di wilayahnya. 

Imbauan Menaker tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menaker Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Pelindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan COVID-19. SE yang ditandatangani tanggal 17 Maret 2020 ini ditujukan kepada para gubernur di seluruh Indonesia.

Dikutip dari laman Kementerian Tenaga Kerja, Rabu 18 Maret 2020, para gubernur diminta melaksanakan pelindungan pengupahan bagi pekerja/buruh terkait pandemi Covid-19 serta mengupayakan pencegahan, penyebaran, dan penanganan kasus terkait Covid-19 di lingkungan kerja.

" Bagi pekerja/buruh yang dikategorikan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) terkait Covid-19 berdasarkan keterangan dokter sehingga tidak masuk kerja paling lama 14 hari atau sesuai standar Kementerian Kesehatan, maka upahnya dibayarkan secara penuh," kata Ida di Jakarta.

Begitu pula dengan buruh atau karyawan yang dikategorikan positif corona sehingga harus diisolasi. Upahnya harus dibayarkan secara penuh selama menjalani masa karantina atau isolasi.

" Bagi pekerja/buruh yang tidak masuk kerja karena sakit COVID-19 dan dibuktikan dengan keterangan dokter, maka upahnya dibayarkan sesuai peraturan perundang-undangan, " kata dia di Jakarta.

Ida menyarankan perusahaan untuk berdiskusi dengan buruh untuk masalah pembayaran. Hal ini berlaku jika perusahaan membatasi kegiatan usaha akibat kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran virus corona. Pembatasan ini bisa berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha.

“ Berkaitan dengan hal-hal tersebut, para Gubernur diminta untuk melaksanakan dan menyampaikan surat edaran ini kepada Bupati/Walikota serta pemangku kepentingan terkait di wilayahnya masing-masing,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Instruksi bagi Gubernur

Selain imbauan soal gaji, Menaker juga memberikan sejumlah langkah-langkah yang harus dilakukan perusahaan dan pegawai untuk melindungi dari paparan virus Covid-19. Lebih jauh upaya perlindungan ini diharapkan bisa menjaga kelangsungan usaha.

“ Kami meminta para gubernur pengupayakan pencegahan penyebaran dan penanganan kasus terkait COVID-19 di lingkungan kerja,” kata Ida.

Langkah-langkah perlindungan tersebut di antaranya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta menyebarkan informasi kepada semua jajaran organisasi dan pihak terkait yang berada di wilayah pembinaan dan pengawasannya.

" Mendata dan melaporkan ke instansi terkait setiap kasus atau yang patut diduga kasus corona di tempat kerja dan memerintahkan kepada pimpinan perusahaan untuk melakukan antisipasi penyebaran pada pekerja/buruh dengan melakukan tindakan-tindakan pencegahan,” kata dia.

Menaker juga mendorong setiap pimpinan perusahaan untuk segera membuat rencana kesiapsiagaan dan menghadapi Covid-19 dengan tujuan memperkecil risiko penularan di tempat kerja dan menjaga kelangsungan usaha.

Terakhir, dalam hal terdapat pekerja/buruh atau pengusaha yang beresiko, diduga atau mengalamai sakit akibat corona maka dilakukan langkah-langkah penanganan sesuai standar kesehatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

5 dari 5 halaman

Atasi Virus Corona Baru, Menkeu Tambah Anggaran Kemenkes Rp1 Triliun

Dream - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menambah anggaran untuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebesar Rp1 triliun. Anggaran ini akan digunakan untuk menghadapi penyebaran virus corona.

Dana tersebut dilokasikan untuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk penanganan virus corona baru termasuk penyediaan sarana dan prasarana.

" Kebutuhan pendanaan termasuk logistik alat pelindung diri di rumah sakit, bandara, pelabuhan, penanganan pasien, serta pengadaan sarana dan prasarana rumah sakit rujukan akan mencapai Rp1 triliun untuk Kemenkes,” kata Sri Mulyani di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 13 Maret 2020.

 

© Dream

 

Langkah-langkah penanganan penyebaran Covid-19 terus dikoordinasikan dengan Kemenkes. Pihaknya juga berkoordinasi dalam mencukupi kebutuhan alat pengaman dan obat-obatan di 132 rumah sakit rujukan.

" Kebutuhan anggaran untuk situasi ini, kami sudah koordinasi utamanya Kemenkes. Langkah-langkah di bidang kesehatan termasuk 132 rumah sakit rujukan menyampaikan dan melakukan edukasi materi kesiapsiagaan untuk menghadapi covid mulai dari risiko. Sekarang ini dibantu public health sebagai pusat pengendalian 24 jam," kata dia

Beri Komentar