Sakit Telinga Termasuk Gejala COVID-19? Simak Penjelasan Ahli

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 7 September 2021 09:48
Sakit Telinga Termasuk Gejala COVID-19? Simak Penjelasan Ahli
Beberapa pasien Covid-19 melaporkan gejala yang berbeda seperti sakit telinga.

Dream – Sudah nyaris dua tahun kita hidup bersama Covid-19. Sahabat Dream mungkin sudah hafal dengan gejala khas penyakit yang disebabkan virus corona ini. Seperti demam, nyeri tubuh, kehilangan kemampuan indera perasa atau penciuman (anosmia)

Beberapa penderita Covid-19 juga diketahui memiliki gejala pada sistem pernapasan seperti pilek dan sakit tenggorokan. Bahkan, virus ini juga menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti diare, mual, dan sembelit.

Varian delta yang menginfeksi seluruh dunia menyebabkan peningkatan kasus akhir-akhir ini. Beberapa orang melaporkan gejala yang berbeda seperti sakit telinga.

Dilansir dari Health, pelatih tim football Tennessee Titans, Mike Vrabel mengungkapkan bahwa ia mengalami sakit telinga ketika terkonfirmasi positif Covid-19. Mungkinkan sakit telinga merupakan gejala baru? Atau hanya efek pernapasan?

 

1 dari 4 halaman

Apa gejala umum pasien COVID-19?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memberikan daftar gejala paling umum yang biasa dirasakan oleh pasien:

- Demam atau kedinginan
- Batuk
- Sesak napas
- Kelelahan
- Nyeri otot atau tubuh
- Sakit kepala
- Kehilangan kemampuanindera perasa dan penciuman
- Sakit tenggorokan
- Pilek
- Mual atau muntah
- Diare

Sakit© Shutterstock

CDC kemudian mengklarifikasi bahwa daftar ini bukanlah yang terlengkap. Artinya, tidak semua orang merasakan gejala yang sama, hanya saja gejala di atas yang paling sering dilaporkan.

 

2 dari 4 halaman

Jadi, apakah sakit telinga termasuk gejala? Bisa jadi. Amesh A. Adalja, MD, seorang peneliti senior di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Center for Health Security mengatakan, dia tidak akan menyebut sakit telinga sebagai gejala umum tapi, bukan berarti tidak pernah terdengar.

“ Banyak infeksi pernapasan terutama yang menyebabkan sakit tenggorokan, terkadang juga dapat menyebabkan sakit telinga,” katanya.

Menurut dokter penyakit menular di UWHealth, Ellen Wald, MD, sakit telinga terjadi selama infeksi pernapasan karena hubungan saluran antara hidung dan telinga. Ia menjelaskan, ada lorong yang disebut tabung eustachius yang menghubungkan telinga dan bagian belakang tenggorokan. Tabung ini mengalirkan udara ke telinga dan mengalirkan cairan dari telinga.

" Ketika seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan, saluran hidung dapat mengalirkan lendir ke tenggorokan dan tenggorokan dapat mengirim cairan naik ke tabung eustachius. Tabung ini kemudian bisa tersumbat dan mengganggu kemampuan telinga untuk mengalirkan cairan sehingga menyebabkan sakit telinga," ujarnya.

Sakit telinga bisa terjadi pada siapa saja, namun dr. Wald mengatakan, sangat umum terjadi pada anak kecil karena saluran eustachiusnya lebih kecil dan mudah tersumbat.

Apakah sakit telinga lebih sering terjadi pada varian delta? Meskipun tidak semua pasien COVID-19 mengalami masalah telinga, namun sakit telinga bisa saja akibat varian Delta yang terus melonjak.

“ Sepertinya Delta memiliki lebih banyak gejala saluran pernapasan bagian atas sehingga masuk akal orang dengan varian Delta akan mengalami sakit telinga,” kata Taylor Heald-Sargent, MD, asisten professor pediatri di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

Laporan Elyzabeth Yulivia

3 dari 4 halaman

Studi: Dua Dosis Vaksin Kurangi Setengah Risiko Long Covid

Dream - Penelitian yang dilakukan King Collage London, Inggris, menunjukkan bahwa orang dewasa yang sudah menerima suntikan vaksin penuh tidak hanya mengurangi risiko tertular, tetapi juga memperkecil risiko terkena long Covid.

Penelitian tersebut memperlihatkan orang yang telah mendapat dua dosis vaksin kemungkinan kecil risiko keparahan berkurang 50 persen jika dibandingkan dengan mereka yang belum menerima suntikan vaksin sama sekali.

Dalam sebuah penelitian, sebagian orang yang pernah terkena Covid dan kembali pulih dalam waktu empat pekan dapat mengalami gejala tambahan selama berbulan-bulan. Ini yang disebut sebagai long Covid.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal The Lancet Infectious Diseases. Para peneliti juga menegaskan bahwa vaksinasi bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah penyakit parah.

Namun disebutkan, dampak vaksin terhadap long Covid masih belum banyak diteliti.

4 dari 4 halaman

Selain mengungkap dampak vaksin terhadap long Covid, para peneliti di Inggris juga menyerukan kelompok rentan mendapat vaksin penguat atau booster.

" Dalam konteks long Covid, kabar baiknya adalahh hasil penelitian kami menemukan orang yang sudah mendapat dua dosis vaksin kecil risikonya terpapar virus dan jika pun terkena maka kecil kemungkinannya akan mengalami long Covid," kata Penny Ward, dokter yang ikut dalam penelitian dalam penulisan jurnal yang disusun di UK-based Science Media Centre, Rabu 1 September 2021.

Sebelumnya juga, Menteri Kesehatan Inggris, Sajid Javid, mengatakan vaksin menyelamatkan lebih dari 105.000 nyawa dan mencegah lebih dari 24 juta warga tertular.

" Sudah jelas vaksin mampu melindungi diri dari virus dan cara terbaik untuk melindungi orang dari penyakit serius. Saya sangat menyarankan siapa pun yang bisa divaksin agar segera mendapat dua dosis vaksin sesegera mungkin," kata Javid.

Sumber: CNN

Beri Komentar