Penyebab Nomor 1 Pemicu Kematian Pasien Covid-19 di Indonesia

Reporter : Ahmad Baiquni
Sabtu, 28 November 2020 14:15
Penyebab Nomor 1 Pemicu Kematian Pasien Covid-19 di Indonesia
Antara 80 sampai 90 persen pasien Covid-19 meninggal mengalami hal ini

Dream - Pembekuan darah atau koagulasi menjadi salah satu penyebab kematian akibat Covid-19. Sebagian besar kasus Covid-19 yang meninggal disebabkan gangguan koagulasi ini.

" Data-data di rumah sakit center menunjukkan bahwa pasien Covid-19 hampir 80 hingga 90 persen mengalami koagulasi," ujar Ketua Umum Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto, disiarkan channel YouTube BNPB.

Agus mengatakan gangguan ini menjadi salah satu risiko lain bagi penderita Covid-19. Sedangkan penyebab kematian lainnya yaitu kerusakan paru.

Covid-19, kata Agus, menyerang organ-organ penting manusia. Cara kerja virus tersebut terjadi mulai dari penularan lewat droplet lalu masuk ke tubuh dan menempel para reseptor ACE2.

" Nah, ACE2 ini banyak di epitel napas, paru, bahkan di pembuluh darah, jatung dan reseptor otak, ginjal, saluran pencernaan juga ada," kata dia.

 

 

1 dari 5 halaman

Covid-19 Menimbulkan Radang Paru

Sebagian besar kasus Covid-19 menyerang saluran napas bawah dan paru. Tetapi pada kasus tertentu, Covid-19 bisa menyerang reseptor bagian tubuh lain.

Saat virus menempel pada saluran pernapasan akan menimbukan inflamasi atau peradangan pada level kronik. Lambat laun, virus akan merusak paru.

" Di paru terjadilah namanya pneumonia, radang paru ini menyebabkan terjadinya oksigen tidak bisa masuk," ucap dia.

Akibat oksigen tidak bisa masuk ke paru, terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Kondisi ini memicu pembekuan darah atau koagulasi pada pembuluh.

" Kerusakan pada darah sendiri akan menyebabkan terjadinya namanya koagulasi gangguan pembuluh darah," ucap Agus.

 


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

Sanksi Berat Bagi Penghalang Petugas Kesehatan Tangani Covid-19

Dream - Keberhasilan penanganan Covid-19 membutuhkan peran serta semua pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah harus kompak dalam menekan angka penularan.

Penerapan protokol 3M pada masyarakat perlu diimbangi dengan upaya tenaga kesehatan dengan melakukan pelacakan dan penanganan di lapangan. Langkah ini sangat penting sehingga tidak boleh dihalangi oleh semua pihak.

" Tindakan menghalang-halangi akan menghambat upaya penanganan Covid-19 yang dilakukan Pemerintah," ujar Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito.

Wiku menegaskan upaya menghalangi kerja petugas kesehatan dalam menangani Covid-19 dapat dijerat dengan sanksi. Itu berlaku di manapun saja.

" Di berbagai daerah, seperti DKI Jakarta, terdapat sanksi yang akan dijatuhkan," kata Wiku.

 

3 dari 5 halaman

Pemeriksaan Petugas Untuk Deteksi Dini

Menurut Wiku, masyarakat perlu mengetahui pemeriksaan yang dilakukan petugas kesehatan adalah upaya deteksi dini. Dengan tindakan preventif ini masyarakat dan kontak terdekatnya yang terkonfirmasi positif Covid-19 dapat segera mendapat penanganan.

Satgas Penanganan Covid-19 juga meminta kerjasama dari masyarakat dalam mengendalikan Covid-19. Wiku menegaskan Satgas berkomitmen dapat memetakan klaster yang muncul akibat kegiatan yang mengundang kerumunan baru-baru ini seperti di Petamburan, Tebet, Megamendung dan Bandara Soekarno Hatta.

Masyarakat dengan hasil tes positif akibat berada dalam kondisi berisiko tersebut dapat segera mendapatkan perawatan. Sehingga mereka bisa terselamatkan dari Covid-19.

" Dengan demikian mereka juga dapat lekas sembuh," kata Wiku, dikutip dari Covid19.go.id

 


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

Cara Efektif Mencegah Beban Biaya Perawatan Covid-19 Mahal

Dream - Virus Sars-Cov 2 tidak hanya memicu penyakit menular Covid-19 namun juga mahal biaya perawatannya. Di saat bukan kondisi darurat, mereka yang menjalani pengobatan mandiri akan membutuhkan dana hingga ratusan juta untuk mendapat perawatan sampai sembuh.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, mengatakan biaya perawatan untuk satu orang pasien Covid-19 kategori berat mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta. Beruntung saat ini pemerintah menanggung biaya tersebut karena masih dalam masa pandemi.

Hasbullah pun meminta masyarakat untuk terus berupaya mencegah penularan Covid-19. Beberapa cara yang bisa dijalankan seperti menerapkan 3M dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak secara disiplin.

" Yang terbaik adalah cegah jangan sampai sakit berat, ringan juga jangan. Yang paling penting tidak kena penyakitnya, itu paling aman," ujar Hasbullah dalam diskusi Memaksimalkan Pengelolaan Keshatan Lewat Vaksinasi, disiarkan channel YouTube FMB9ID.

 

5 dari 5 halaman

Vaksin Efektif

Cara pencegahan selanjutnya dengan vaksinasi. Dalam beberapa bulan mendatang, Pemerintah akan melaksanakan vaksinasi yang diprioritaskan kepada lima kelompok khususnya tenaga kesehatan dan TNI serta Polri.

Vaksinasi juga dijalankan Pemerintah dengan skema mandiri. Skema ini untuk masyarakat yang melakukan vaksinasi di luar program Pemerintah.

Hasbullah berharap masyarakat bersedia mengikuti vaksinasi untuk membentuk kekebalan tubuh dari Covid-19. Meskipun sebagian masyarakat harus menggunakan dana pribadi.

" Katakanlah belum keluar nilai (harga vaksin)-nya, kita bayar sendiri, Rp200 ribu katakanlah suntik tetapi setelah itu 90 persen efektivitasnya aman. Jadi tidak kena apa-apa," ucap dia.

 

Beri Komentar