Tak Bisa Lepas dari Ponsel Bisa Jadi Tanda Gangguan Cemas

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 31 Agustus 2021 18:12
Tak Bisa Lepas dari Ponsel Bisa Jadi Tanda Gangguan Cemas
Semakin serius seseorang mengalami depresi, semakin besar kemungkinan mereka untuk menghindari interaksi.

Dream – Ponsel termasuk barang yang wajib dibawa ke mana pun. Sahabat Dream mungkin akan merasa panik jika ponsel tertinggal di rumah atau tempat lain dan ingin segera mengambilnya.

Bukan hanya untuk berkomunikasi, ponsel juga digunakan untuk selesaikan pekerjaan, membayar tagihan, hingga eksistensi di media sosial. Bagaimana jika kamu sedang bersama keluarga atau kerabat dekat? Apakah perhatian tetap tertuju pada ponsel dan notifikasi yang muncul?

Jika iya, hati-hati. Kamu bisa mengalami ‘phone snubbing' atau 'phubbing'. Istilah ini, dikutip dari WebMD didefinisikan sebagai tindakan seseorang dalam sebuah lingkungan, yang lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan dengan orang sekitar.

" Beberapa orang yang memiliki kecemasan sosial tinggi atau depresi cenderung kecanduan smartphone mereka," kata Juhyung Sun, penulis utama studi dari University of Oklahoma di Norman.

Bahkan ketika kecanduan menjadi masalah utama, kebiasaan terus-menerus membaca setiap notifikasi yang muncul di layar juga dapat mendorong kecenderungan untuk melakukan phubbing.

" Orang-orang sangat sensitif terhadap notifikasi mereka. Dengan setiap buzz atau suara, kita secara sadar atau tidak sadar melihat ponsel kita," kata Sun.

 

1 dari 2 halaman

Dengan begitu banyak fokus pada ponsel, orang dengan cepat beradaptasi dengan teknologi yang dapat mengganggu interaksi sosial. Kemudian berujung pada masalah yang lebih dalam dengan efek serius pada suatu hubungan.

Profesor Jennifer Samp, University of Georgia di Athena, melakukan survei pada 472 peserta yang berbagi informasi tentang kebiasaan smartphone, interaksi sosial, dan kesehatan mental mereka.

Sun mengatakan dia tertarik untuk mempelajari pnubbing, ketika melihat kecenderungan orang tetap fokus pada ponsel padahal sedang bersama teman-temannya di kedai kopi dan restoran.

Hasil studi menunjukkan adanya hubungan antara mengabaikan teman untuk fokus pada layar elektronik dengan depresi dan kecemasan sosial. Semakin serius seseorang mengalami depresi, semakin besar kemungkinan mereka untuk menghindari interaksi.

 

2 dari 2 halaman

Para peneliti melaporkan, sementara mereka yang memiliki kecemasan sosial cenderung menemukan komunikasi di telepon lebih nyaman daripada komunikasi secara langsung atau tatap muka.

Para peneliti juga menunjukkan hubungan antara ciri-ciri kepribadian seperti neurotisisme. Termasuk adanya kecenderungan untuk fokus pada emosi negatif dengan fokus kepada ponsel ketika ada banyak orang di sekitarnya.

" Bagi banyak orang, tetap terhubung melalui teks dan pesan video lebih nyaman daripada interaksi tatap muka," kata Samp.

Para peneliti menemukan penggunaan smartphone yang berlebihan dapat memperburuk masalah depresi dan kecemasan. Perilaku phubbing pun cenderung memperburuk tingkat kepuasan pertemanan.

Laporan Angela Irena Mihardja

Beri Komentar