Tes Air Liur untuk Deteksi Covid-19 Hanya Butuh 3 Jam

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 8 Februari 2021 09:12
Tes Air Liur untuk Deteksi Covid-19 Hanya Butuh 3 Jam
Tes saliva hanya membutuhkan sedikit sampel air liur.

Dream - Tes usap atau swab test (PCR) yang dilakukan pada permukaan tonsil dan dinding posterior faring saat ini dianggap jadi penegakkan diagnosis utama pada pasien Covid-19. Ada juga pilihan lainnya, seperti tes antibodi atau antigen, tapi harus kembali dikonfirmasi dengan tes PCR.

Peneliti dari sejumlah negara kini mengembangkan berbagai tes Covid-19 yang lebih sederhana dan singkat. Hal ini karena tes PCR membutuhkan waktu lama dan harganya cukup mahal.

Di Indonesia misalnya, ada tes menggunakan embusan napas, yang dikembangkan oleh UGM dengan nama GeNose. Satu lagi tes yang ramai diperbincangkan adalah tes saliva atau air liur yang dikembangkan oleh Andrew Brooks, seorang profesor di Rutgers University.

Menurut Profesor Zubairi Djoerban, Ketua Satgas Covid-19 IDI tes ini adalah tindakan medis tanpa memasukkan alat ke dalam rongga tubuh manusia. Tes saliva hanya membutuhkan sedikit sampel air liur.

" Karena cuma butuh sedikit sampel air liur maka itu berefek pada kebutuhan waktu tesnya. Amat cepat. Bisa kurang dari satu menit," ungkap Profesor Beri, sapaan akrabnya, di akun Instagram miliknya.

Prof Beri Instagram© Prof Beri Instagram

Pada tes saliva, pengujian Covid-19 tak memerlukan langkah ekstraksi tetapi dapat diganti dengan penambahan enzim yang dipanaskan. Penambahan enzim pemanasan pada tes saliva relatif sebentar.

 

 

1 dari 5 halaman

" Dari berbagai literatur didapati bahwa tes berbasir air liur dapat melakukan tes sekitar 90 sampel dalam waktu kurang dari tiga jam. Tes saliva memiliki tingkat akurasi sebesar 94 persen. Sebanding dengan hasil tes berbasis swab nasofaring," ungkap Prof Beri.

Tes saliva ini ternyata memiliki cara sederhana untuk mengambil sampelnya. Seseorang bahkan dapat melakukannya tanpa harus datang ke rumah sakit atau klinik dan dapat memakai kurir khusus. Apakah bisa menjadi standar penegakan diagnosis Covid-19 di Indonesia?

" Menurut saya layak dan bisa, apalagi tes berbasis air lir ini telah mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan di AS (Food and Drug Administration/ FDA)," ungkap Prof Beri.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

2 dari 5 halaman

GeNose UGM Tak Bisa Gantikan PCR

Dream - Kementerian Perhubungan dan PT KAI berencana menggunakan GeNose C19 untuk mengantisipasi calon penumpang terkena Covid-19 sebelum naik kereta. Alat temuan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mulai digunakan pada 5 Februari 2021.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 sudah mengizinkan penggunaan alat itu. Izin ini dituangkan dalam Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 5 Tahun 2021.

" Khusus moda transportasi kereta api jalur non-aglomerasi atau jarak jauh ditambahkan adanya alternatif metode screening baru yaitu GeNose, sebagai syarat perjalanan opsional selain PCR atau rapid test antigen," ujar Wiku dalam konferensi pers.

© Dream

Tetapi, Wiku mengingatkan GeNose adalah metode screening. Sehingga GeNose tidak bisa menggantikan PCR (Polymerase Chain Reaction).

" Metode GeNose berfungsi untuk screening dan tidak bisa menggantikan PCR yang berfungsi sebagai diagnostik," kata Wiku.

 

 

3 dari 5 halaman

Wiku menjelaskan GeNose telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 24 Desember 2020. GeNose diharapkan bisa menjadi opsi tambahan jika terjadi penumpukan calon penumpang di stasiun.

" Mengingat hanya perlu waktu singkat bagi alat ini untuk memberikan hasil dengan tingkat akurasinya mencapai 93 persen," kata Wiku.

Sebelumnya, Kemenhub dan KAI akan menempatkan GeNose di sebagian besar stasiun dengan Stasiun Pasar Senen Jakarta dan Stasiun Tugu Yogyakarta sebagai awalan. Baik Kemenhub maupun KAI telah memesan 200 lebih unit GeNose dan saat ini sedang dalam tahap produksi.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

Biaya Perawatan Covid-19 Ditanggung Pemerintah, RS Dilarang Minta ke Pasien

Dream - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, menegaskan biaya perawatan pasien Covid-19 ditanggung seluruhnya oleh Pemerintah. Pengelola Rumah Sakit (RS) dilarang untuk membebankan biaya perawatan apapun kepada pasien.

" Seperti yang selalu disampaikan, perawatan terkait Covid-19, sepenuhnya ditanggung Negara atau Pemerintah," ujar Wiku dalam konferensi pers.

Hal ini menanggapi adanya kasus pasien Covid-19 di Depok yang ditolak rumah sakit karena tidak bersedia membayar uang muka Rp1 juta. 

Wiku menegaskan RS mengikuti aturan Pemerintah dalam penanganan Covid-19. Jika aturan tidak diindahkan, Wiku mengingatkan adanya sanksi yang bisa diterapkan pada rumah sakit yang bersangkutan.

" Mohon agar semua rumah sakit mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan dan selalu berkoordinasi apabila ada kendala, agar tidak menyulitkan masyarakat," kata Wiku.

5 dari 5 halaman

Kasus Aktif Mengkhawatirkan

Wiku menjelaskan kasus aktif saat ini sangat mengkhawatirkan, mencapai 166.540 kasus. Jumlah ini berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19.

Secara nasional, jumlah tempat tidur di rumah sakit rujukan hanya sebanyak 81 ribu. Sementara, seluruh kasus aktif saat ini membutuhkan tempat perawatan.

" Realitanya, tempat tidur yang kita miliki sekitar 81 ribu untuk pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan atau hanya setengah dari kasus yang ada," ucap Wiku.

Demikian halnya dengan jumlah tenaga kesehatan. Per 27 Januari 2021, kata Wiku, 647 tenaga kesehatan meninggal dunia.

Pemerintah telah berupaya menambah jumlah tempat tidur dan tenaga kesehatan. Meski begitu, penambahan tersebut tidak mampu mengatasi pandemi.

" Satu-satunya cara untuk menangani kondisi ini adalah dengan menekan angka penularan yang terjadi di masyarakat dengan protokol kesehatan," kata Wiku.


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar