Kata Ilmuwan Soal Kekuatan Vaksin Atasi Virus Covid-19 yang Sudah Bermutasi

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Sabtu, 2 Januari 2021 13:45
Kata Ilmuwan Soal Kekuatan Vaksin Atasi Virus Covid-19 yang Sudah Bermutasi
Mutasi baru COVID-19 ini meresahkan masyarakat.

Dream – Munculnya varian baru virus Sars-CoV-2 atau Covid-19 memicu kekhawatiran publik dengan keampuhan vaksin yang sudah diproduksi. Diketahui virus baru ini berkembangan setelah para ahli dan pabrik farmasi memproduksi vaksin anti-Covid-19.

Pakar biologi molekuler dari Harvard Medical School, Amerika Serikat, Ahmad Rusdan Utomo, lewat akun Instagram @ahmadrusjdan, menjelaskan, konsep vaksinasi ini dilakukan dengan banyak cara. Misalnya menggunakan protein virus yang dimatikan, materi genetik yang dibawa oleh protein tanduk (spike) virus, atau adonovirus yang membawa materi genetik virus.

“ Setelah diinjeksi ke manusia, akhirnya timbul antibodi sebagai reaksi terhadap protein spike,” kata dia.

Saat antibodi mengenali antigen—protein spike—ada titik yang spesifik di lokasi protein tanduk virus, yaitu epitop. Epitop ini adalah lokasi titik antigen dan antibodi berikatan. Ada empat epitop yang dikenali oleh antibody manusia. Saat antibody bisa mengikat protein spike.

“ Saat antibodi bisa mengikat protein spike, tentu bisa menghambat ikatan (spike) dengan reseptor manusia. Di sinilah konsep vaksin,” kata dia.

1 dari 2 halaman

Kalau Sudah Bermutasi?

Terkait kekuatan vaksin, terutama protein tanduknya, ketika virus COVID-19 bermutasi, Ahmad mengatakan antibodi tentu tak bisa mengenali satu tanduk yang sudah bermutasi.

“ Akan tetapi, ingat, ada sekitar tiga antibodi. Tiga ini mengenali epitop yang masih normal dan belum bermutasi,” kata dia.

Dengan begitu, kekebalan tubuh itu diharapkan bisa mendeteksi COVID-19 dan menghalanginya masuk ke tubuh.

“ Data-data yang ada sekarang dari berbagai macam variasi mutasi varian dari COVID-19. Sejauh ini masih bisa diblok,” kata Ahmad.

2 dari 2 halaman

Sangat Efektif, Namun…

Ahmad meyakini vaksin Covid-19 yang ada saat ini mampu mencegah terjadinya penularan terhadap relawan. Dikatakan bahwa keefektifannya melebihi 90 persen.

“ Enam puluh lima sampai Sembilan puluh lima efektif,” kata dia.

Namun, lanjut Ahmad, dia tak bisa memastikan kemampuan vaksin ini mencegah penularan kepada orang lain dari seseorang yang telah mendapatkan injeksi.

“ Kita tidak tahu, oleh karena itu penting bagi kita semua untuk tetap menggunakan masker bahkan setelah divaksin,” kata dia.

Beri Komentar