Desa Leran, Pusat Penyebaran Islam yang Terlupakan

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 29 Mei 2014 11:00
Desa Leran, Pusat Penyebaran Islam yang Terlupakan
Desa ini juga menjadi tempat pendaratan Maulana Malik Ibrahim. Namun nama Leran seolah hilang ditelan bumi. Tanah-tanah gersang di kampung itu berubah jadi petak-petak tambak.

Dream - Leran. Sekitar seribu tahun lalu, desa itu sungguh ramai. Desa di pesisir utara Jawa ini menjadi pelabuhan laut internasional. Selalu hiruk siang dan malam. Saudagar-saudagar dari Kamboja, China, dan Timur Tengah, banyak meriung di sini. Sekedar berdagang, maupun misi lainnya.

Warga setempat menyebut “ leran” berasal dari kata “ lerenan”. Kata itu berarti tempat peristirahanan atau persinggahan. Jika demikian, maka pas dengan latar Desa Leran sebagai wilayah pelabuhan. Kini Desa itu masuk wilayah Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Tempo dulu, Leran punya peran penting dalam penyebaran Islam. Khususnya di tanah Jawa. Desa ini juga menjadi tempat pendaratan Maulana Malik Ibrahim. Pria yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik ini diyakini menjadi salah satu penyebar Islam pertama di Pulau Jawa.

Namun kejayaan Leran kemudian surut. Wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Gresik, terus berkembang. Dan pada akhirnya menggantikan peran penting Leran sebagai tempat perdagangan maupun penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.

Nama Leran seolah hilang ditelan bumi. Desa yang terletak tujuh kilometer di barat laut Kota Gresik itu bahkan secara fisik sudah tak menarik lagi. Tanah-tanah gersang di kampung yang luasnya kira-kira 1.300 meter persegi itu sekarang lebih didominasi oleh petak-petak tambak.

Meski demikian, sisa-sisa kejayaan Leran masih bisa kita telusuri dari sejumlah peninggalan. Di daerah itu, terdapat makam Siti Fatimah binti Maimun. Pada makam itu terpahat huruf Arab dan berangka tahun 1028. Para peneliti yakin kuburan ini sebagai makam Islam tertua di nusantara.

Desa Leran, Pusat Penyebaran Islam yang Terlupakan© Youtube

Makam Siti Fatimah binti Maimun. Sumber: Youtube

Arsitektur makam ini unik. Bentuknya cungkup dengan dinding dan atapnya dari batu putih kuno. Konon, bentuk cungkup makam yang menyerpai candi itu dibangun oleh Raja Majapahit untuk menebus perlakuannya yang kurang bersahabat terhadap utusan Raja Kamboja ini.

Di desa ini pula Maulana Malik Ibrahim pertama kali membangun masjid. Sampai sekarang masjid itu masih berdiri dan dikenal dengan nama Masjid Pesucian. Nama itu disematkan karena masjid itu memiliki kolam untuk berwudu. Kolam itu diyakini punya keistimewaan bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Namun banyak orang yang lebih mengenal makam Siti Fatimah. Setiap hari, ada saja orang yang berziarah ke makam ini. Bunga setaman nyaris tak sempat layu di atas pusara itu. Makam Siti Fatimah itu seolah menenggelamkan ketenaran Leran sebagai pelabuhan kondang masa lampau. (Dari berbagai sumber)

Beri Komentar