Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sampai saat ini dalam menganalisis gangguan autisme dibutuhkan proses yang cukup detail dan lama. Tentunya agar diagnosis yang dikeluarkan dokter tepat sehingga terapi yang diberikan menjadi efektif.
Tapi sebuah penelitian terbaru mengungkap kalau pemindaian pada otak bayi bisa membantu dokter mendiagnosis Autism Spectrum Disorder dengan akurasi lebih dari 96 persen. Hal tersebut menurut penelitian yang dipublikasi dalam Science Translational Medicine.
Temuan ini sangat penting karena, sampai sekarang, dunia kedokteran dan psikologi berkerja keras untuk mendiagnosis autisme pada anak-anak di bawah usia dua tahun. Hal ini agar terapi bisa diberikan lebih cepat.
" Penelitian baru ini berfokus pada area otak yang disinkronkan satu sama lain pada satu waktu (enam bulan). Untuk memprediksi pada usia yang lebih muda, di mana autisme akan berkembang saat balita. Semakin kita mengerti tentang otak sebelum gejala muncul, semakin siap kita akan membantu anak-anak dan keluarga mereka," ujar salah satu tim peneliti dari Joseph Piven of the University of North Carolina School of Medicine, seperti dikutip dari Fatherly
Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku terbatas, berulang-ulang dan karakter stereotip.
Piven dan rekannya menganalisis data pemindaian otak dari 59 bayi berusia enam bulan. Bayi ini memiliki saudara kandung dengan autisme (dan karenanya berisiko tinggi mengalami gangguan tersebut).
Tim peneliti kemudian mereka mengukur apa yang disebut " aktivitas sinkron" antara 26.335 pasang daerah otak, sebuah metrik yang dianggap memberi isyarat daerah otak mana yang paling kuat terhubung.
Kemudian, ketika bayi berusia dua tahun, peneliti menindaklanjuti dengan orangtua dan meminta mereka melengkapi kuesioner tentang perilaku sosial, kemampuan bahasa, dan keterampilan motorik setiap anak. Berdasarkan kuesioner ini, Piven dan timnya mendiagnosa 11 dari 59 anak mengalami autisme.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari