Setelah Dapat Hidayah, Wanita Karir Ini Terjun ke Bisnis Hijab

Reporter : Editor Dream.co.id
Senin, 28 April 2014 11:28
Setelah Dapat Hidayah, Wanita Karir Ini Terjun ke Bisnis Hijab
Sudah menjadi GM pada sebuah perusahaan ternama. Dia keluar lalu menekuni dunia hijab. Memulai dari bawah. Susah payah lima tahun. Kini dia melalangbuana ke sejumlah kota dunia. Windri Widiesta

Dream--Bisnis hijab Indonesia kian mekar. Banyak pebisnis yang terjun ke segmen ini. Dari para pemula, para pebisnis besar, hingga para pesohor. Acara Hijab Day yang dihelat Minggu kemarin, 27 April 2014, di Jakarta dihadiri ribuan orang. Jumlah transaksi dalam acara ini juga cukup besar. Para hijabers yang datang membelanjakan uang sekitar Rp700 ribu hingga sejuta rupiah.

Ajang serupa bakal digelar saban tahun.  Pada Juni nanti akan digelar International Festival Hijab yang bertempat di Batam. Para pebisnis dari berbagai negara akan hadir pada ajang ini. Sejumlah desainer muda Indonesia akan memamerkan hasil karya mereka di sini.

Hijab hasil karya anak-anak Indonesia memang sudah diakui dalam sejumlah ajang dunia. Salah satunya adalah hasil karya Windri Widiesta Dhani, wanita yang sebelumnya seorang pekerja profesional tapi hati nurani mengiringnya berlabuh di bisnis busana muslim.

Karirnya sudah kemilau. General Manager di sebuah perusahaan travel. Ini usaha milik Negara. Jabatan di situ menerbangkannya ke sejumlah negeri. Berpindah dari satu kota ke ibu negeri lain. Tapi dia merasa berutang. Utang kepada keluarga. Yang bertahun-tahun ditinggal.

Demi membayar utang itulah dia “ pulang ke rumah”. Menjadi ibu rumah tangga. Risain dari perusahaan. Menemani tiga putrinya yang beranjak besar. Tapi Windri, nama ibu cantik berusia 43 tahun ini, tak betah berdiam.

Empat tahun kemudian, dia membetot para perancang busana di Tokyo Fashion Week. Hari itu pada penanggalan 19 Maret 2014. Dan itu karena sesuatu yang selama bertahun-tahun jauh dari hidupnya: hijab. Sesudah pamit dari kantor Windri memang memutuskan berhijab. Dan itu karena hidayah yang menghampir di suatu malam lewat mimpi.

Sesudah menerima hidayah itu, dia bergerak mencari hijab. Tapi agak susah. Windri belum sanggup memutar diri 100 persen. Tak banyak hijab yang stylish. Yang memberi kesan sederhana tapi tetap modis. Tapi situasi sulit itulah yang memberinya inspirasi.

Windri terjun ke bisnis hijab. Pada permulaan 2010, dia mendirikan NurZahra. Cahaya yang bersinar. Terjun ke bisnis fashion itu memaksanya belajar. Belajar tentang trend mode. Belajar tentang selera pasar. Dia mempelajari hasil riset sejumlah perusahaan mode. Memetakan trend yang mungkin meledak.  

 

 Setelah Dapat Hidayah, Wanita Karir Ini Terjun ke Bisnis Hijab© Dream

                      Salah satu model Windri Widiesta (AFP)

Buah dari ketekunan itu kini bisa dinikmati. Dalam Tokyo Fashion Week itu, Windri mengusung hijab style dari label NurZahra. " Tidak ada pembatasan dalam gaya hijab yang sederhana," kata Windri usai acara yang digelar di Shibuya Hikarie itu, seperti dilansir ArabNews.com.

Sambutan khayalak mode luar biasa. Dia menawarkan mode dalam dua musim. Dingin dan Gugur. Para perancang mode di situ terkejut demi melihat Windri mengubah hijab yang sederhana menjadi balutan yang luar biasa.

Tentang mode dua musim itu dia berkomentar, " Ini adalah bagaimana cara anda menutup diri dan terlihat lebih elegan dengan busana yang longgar." Windri juga membawa warna Indonesia ke panggung itu. Nuansa etnik Indonesia berkuasa atas catwalk.

Windri memadukan katun atau sutra dalam semua karyanya. Dia sungguh memahami bahwa mengenakan jilbab bukanlah sesatu yang sulit. " Dapat dipakai siapa saja," katanya. Selain unsur Indonesia, dia juga menyelipkan budaya Jepang dalam karya yang dipanggungkan itu. Mengawinkan teknik tradisional Shibori dengan batik Indonesia.

Dia juga menyelinapkan pola geometris dalam rancangannya. Pola yang kuat dari negeri Turki. Bentuk topi yang melebar ke belakang. Konsep topi itu, kata Windri, sebenarnya terinspirasi dari gaya yang sempat tren selama setahun pada 1963. “ Saya sedang mencari topi antik yang dapat digunakan nutuk menutupi rambut dan leher anda," ungkap Windi soal si topi itu.

Tokyo Fashion Week itu memang menjadi langganan bagi pendatang baru demi mengenalkan karya kepada dunia. Seperti NurZahra, yang menghirup 'udara segar' ke dalam acara di ibukota Jepang itu. Dan semua itu bukan hasil mimpi semalam.

Windri sudah melewati jatuh bangun membangun brand. Susah payah merintis usaha. Dia, misalnya, pernah ditolak sebuah Mall besar di Jakarta untuk ikut dalam sebuah acara pameran. Ditolak seperti itu dia tak patah semangat. Terus berusaha. Berkali-kali.

Dan pintu itu terbuka 2010. Ditawari membuka butik di Grand Indonesia. Para pengelola perbelanjaan raksasa kelas atas itu, menyediakan tempat untuk merek lokal yang masih “ bau kencur.” Dari situlah dia mengatur langkah awal positioning brand Nurzahra. Sesudah itu langkahnya kian melenggang. Masuk Indonesia Fashion Week 2012. Begitu banyak media menulis. Tentang hasil karya. Berikut segenap perjuangan dibelakangnya. Dia sudah membuka sejumlah gerai di pusat perbelanjaan rakasa. Merangsek dan bertempur dengan merek dunia di Pondok Indah Mall, Gandaria City, dan Pasific Palace. Sudah membuka gerai di Solo, Makasar dan ibu negeri sodara kita, Kuala Lumpur.

Windri adalah cerita tentang gagasan. Tentang kerja keras. Dan kejelian mengendus peluang. Empat tahun jatuh bangun. Dan kini dia sudah meraih hampir seluruh mimpinya. Dream.

 

Beri Komentar