Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Bangkok, Thailand (Foto: Www.100resilientcities.org)
Dream - Bangkok berhasil mendapatkan kepercayaan sebagai kota tujuan wisata paling top berdasarkan jumlah kedatangan wisatawan internasional yang bermalam. Pengumuman tersebut baru saja dirilis berdasarkan studi tahunan Mastercard Global Destinations Cities Index (GDCI) ke-6.
Tak hanya Bangkok, rupanya kota-kota di kawasan Asia menempati separuh dari 10 peringkat teratas seperti Singapura, Kuala Lumpur, Tokyo dan Seoul. Kota-kota Asia juga menduduki 7 dari 10 peringkat kota tujuan dengan pertumbuhan tercepat seperti Osaka, Chengdu, Colombo, Tokyo, Taipei, Xi’an dan Xiamen.
Indeks dalam GDCI memberikan peringkat kepada 132 kota yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia. Indeks tersebut menunjukkan jumlah wisatawan dan estimasi pengeluaran selama tahun 2016 serta memberikan pemahaman mendalam mengenai bagaimana orang-orang bepergian dan menggunakan uang mereka di seluruh dunia.
Seiring dengan perjalanan dan pengeluaran lintas batas (cross-border) yang terus bertumbuh lebih cepat dibandingkan PDB dunia, berbagai kota tujuan di dunia terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
Berdasarkan studi ini, Bangkok diproyeksikan akan menerima 21,47 juta wisatawan internasional yang bermalam di tahun 2016, diikuti dengan London di peringkat kedua.
Berikut adalah kota dengan 10 peringkat teratas yang diproyeksikan berdasarkan kedatangan wisatawan internasional yang bermalam:
1. Bangkok – 21,47 juta
2. London – 19,88 juta
3. Paris – 18,03 juta
4. Dubai – 15,27 juta
5. New York – 12,75 juta
6. Singapura – 12,11 juta
7. Kuala Lumpur – 12,02 juta
8. Istanbul – 11,95 juta
9. Tokyo – 11,70 juta
10.Seoul – 10,20 juta
" Kekuatan dari pariwisata global yang berkelanjutan merupakan salah satu dari secercah harapan sebagai pemulihan krisis yang terjadi pada tahun 2008-2009," ungkap Yuwa Hedrick-Wong, Global Economic Advisor Mastercard.
© Dream
Hal ini sebagian besar didorong oleh berkembangnya kelas menengah di banyak negara berkembang. Bagi rumah tangga kelas menengah, bepergian ke luar negeri menjadi sebuah prioritas bagi mereka dalam menyisihkan sebagian pengeluaran mereka.
Angka pertumbuhan wisatawan internasional melebihi 2,5 kali lipat pertumbuhan PDB dunia pada periode 2009 hingga 2016. Hal ini tentu menunjukkan betapa kuat dan pentingnya pertumbuhan yang inklusif.
Sebuah pola pertumbuhan yang menguntungkan bagi mayoritas rumah tangga dalam masyarakat, yang kemudian memperkuat permintaan domestik terlepas dari lesunya kondisi ekonomi global secara umum. Bagi kota-kota tujuan wisata, melebur pada jaringan yang beragam dari kota-kota asal dimana kelas menengah tumbuh dengan pesat menjadi kunci kesuksesan pada tahun-tahun mendatang.
" Asia Pasifik telah menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat untuk pariwisata internasional sejak tahun 2005. Perkembangan kelas menengah di Asia Tenggara, China dan India yang terus mencari pengalaman perjalanan baru di kawasan tersebut," imbuh Eric Schneider, Senior Vice President, Asia Pacific, Mastercard Advisors.
Sektor pariwisata tumbuh semakin kompetitif, dimana setiap negara mencari cara untuk menarik pengunjung. Sehingga harus tetap berinovasi serta memenuhi kebutuhan dan keinginan dari perubahan demografis para wisatawan saat ini.
Secara krusial, pariwisata memiliki kekuatan untuk mendorong pertumbuhan sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan kota yang signifikan, baik di negara maju maupun negara berkembang. Walaupun memiliki beberapa tantangan, hal ini bisa menjadi katalis untuk investasi besar pada kota-kota tersebut.
Para pelaku bisnis serta pemerintah sebaiknya perlu memahami bagaimana memanfaatkan potensi ini untuk memastikan perkembangan yang cerdas dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi kota-kota di seluruh dunia.
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol