Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya 16 Januari 2018 berada di Madrid, Spanyol. Tiga hal yang menjadi gol Menpar terbang 16 jam dari Jakarta ke Negeri Matador yang dikenal dengan Goyang Flaminggo itu.
" Pertama, kami tampil di Fitur Travel Mart nomor tiga terbesar dunia, setelah ITB Berlin dan WTM London. Industri pariwisata kita sedang selling di pertemuan antara buyers dan sellers itu. Perkembangan industri pariwisata harus terus dipantau, baik dari sisi pemasaran, destinasi dan industri, sampai ke kelembagaan dan SDM," kata Menpar Arief Yahya, dikutip dari keterangan pers tertulis, Kamis 18 Januari 2018.
Kedua, ada misi " perang" untuk memberi dukungan moral bagi para nominator Indonesia yang masuk di ajang United Nation World Tourist Organization (UNWTO) Award 2018. " Ada 2 wakil Indonesia yang bersaing di kategori yang sama, dengan nominator lain di dunia. Semoga kita juaranya," ucap Arief Yahya.
Ketiga, Menpar Arief juga ingin melihat dari dekat, bagaimana kids zaman now dan destinasi digital dikembangkan dan disentuh di Spanyol. Bagaimana Spanyol membuat destinasi crossborder, mengembangkan wilayah perbatasan. " Spanyol 75 juta dengan devisa USD 80 miliar setahun!" jelas Menpar Arief Yahya.
Dunia pariwisata Indonesia kembali ter-upgrade. Nama Indonesia bakal kembali harum. Pasalnya, 2 wakil Indonesia masuk menjadi nominator di ajang United Nation World Tourist Organization (UNWTO) Award 2018. Kategorinya, Non-Government Innovation. Mereka adalah The Sumba Hospitality Foundation dan Triponyu.com.
Dipilihnya dua nama tersebut bukan tanpa sebab. Lantaran, inovasi mereka telah memberikan inspirasi bagi dunia pariwisata. " Ada dua wakil Indonesia di sana, itu luar biasa. Penghargaan ini sangat bergengsi," ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Ajang bergengsi ini diikuti 128 initiatives dari 55 negara termasuk Indonesia. Lantas, inspirasi apa yang diberikan The Sumba Hospitality Foundation? Berada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, yayasan ini fokus pada aksi sosial. Basic mereka pendidikan, khususnya pengembangan pariwisata. Mereka pun punya sekolah perhotelan.
Aksi nyata dilakukan. Yayasan tersebut mencoba memutus kemiskinan melalui pariwisata. Bukan hanya itu, yayasan tersebut juga fokus mengembangkan green hotel. Konsep tradisional pun dikembangkan hotel tersebut. Bukan saja sebagi bisnis, tetapi hotel ini juga menjadi bagian pembelajaran siswa.
Di hotel ini para siswa belajar metode housekeeping dan room service yang benar. Mengedepankan tradisi, Sumba juga mengembangkan restoran. Kerennya lagi, konsep go green ditegaskan melalui sistem pertanian organik yang dikembangkan siswa mereka.
" Mengedepankan go green, Sumba selalu memberdayakan peran masyarakat lokal. Tekanan sosial dan lingkungan pun seimbang di sana. Kekuatan inilah yang mengantar Sumba menjadi nominator," terang Menteri asal Banyuwangi tersebut.
Bagaimana dengan Triponyu.com? Mereka adalah platform bisnis pariwisata yang unik. Platform tersebut menghubungkan para traveler dengan local guides. Bukan sebatas guide wisata tetapi lebih menjadi teman seperjalanan.
Konsepnya paten, para local guides ini dilatih untuk menawarkan ide-ide kreatif dalam paket-paket wisata. Kerennya lagi, local guides ini adalah masyarakat di sekitar area destinasi pariwisata. Dengan platform tersebut kini masyarakat dapat merasakan langsung manisnya pariwisata.
" Triponyu sangat responsif menangkap peluang. Menciptakan aplikasi transaksi khusus pariwisata itu luar biasa. Teknologi memang harus dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Triponyu melakukan itu bersama para local guides-nya. Ini sinergi yang menginspirasi," ujar Arief lagi.
Memberdayakan masyarakat Solo bahkan Jawa Tengah, konsep Triponyu berpengaruh besar. Lapangan pekerjaan pun tercipta. Kesejahteraan masyarakat terkatrol. Buktinya, share transaksi melalui Triponyu sebesar 93% menjadi milik para local guides. Memupuk kesadaran masyarakat, fungsi ganda tercapai. Masyarakat menjadi sejahtera, tapi cagar budaya dan alam tetap terjaga lestari.
" Triponyu dan Sumba memang inspirasi bagi dunia. Upaya mereka memberi dampak positif yang besar bagi masyarakat juga lingkungan. Kami berharap, Triponyu atau Sumba yang menjadi pemenang untuk kategori Non-Government Innovation. Inovasi mereka lebih riil dari yang lain," tegasnya.
Lalu, siapa lawan Triponyu dan Sumba? Indonesia harus bersaing dengan nominator Italia dan Meksiko. Italia mengirimkan Festival of Responsible Tourism. Sedangkan Meksiko mengirim komunitas Grupo Ecologico Sierra Gorda.
" Peluang kita terbuka lebar dengan 2 wakil yang ada. Mari bersama kita doakan wakil Indonesia menjadi pemenang di ajang tersebut. Sehingga nama Indonesia semakin berkibar di dunia internasional," ajak Menpar Arief Yahya.
(Sumber: Kementerian Pariwisata)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya