Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Balita/ Foto: Shutterstock
Dream - Menghadapi anak usia di bawah lima tahun (balita) kerap membuat bingung. Saat diminta melakukan sesuatu kerap menjawab " tidak" atau menolak melakukan sesuatu. Pertanyaan apa pun yang dilontarkan, jawabnya " tidak" .
Ayah dan bunda mungkin kadang sampai emosi. Rupanya hal ini ada penjelasannya secara ilmiah. Menurut dr. Fitri Hartanto, spesialis anak, dalam akun Instagramnya @dr.fitrihartanto_spak menurut studi terbaru dalam Perkembangan Anak menunjukkan bahwa anak usia 2 dan 3 tahun berdebat dengan orang mereka bisa lebih dari 20 hingga 25 kali dalam sehari.
" Orangtua mungkin lelah saat mendengar kata itu (tidak), namun tahukan bahwa saat itu anak sedang menegaskan diri mereka sendiri. Selain itu, berdebat merupakan salah satu cara mereka mendapatkan kepercayaan diri," kata dr. Fitri.
Ia juga menjelaskan kalau anak usia balita terus mengatakan tidak adalah hal normal dan juga sehat. Ini pertanda kognitif berkembang dan ia mulai mengetahui keinginannya sendiri.
" Cara yang sehat bagi anak untuk seolah-olah ia memiliki kendali. Tugas orangtua jangan bosan memberikan alasan ketika mengajari anak," pesan dr. Fitri.
Dream - Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal 2020 membuat perubahan secara radikal di seluruh dunia. Saat tingginya kasus Covid-19 seluruh warga diminta untuk di rumah saja demi mengurangi risiko penularan.
Bayi dan balita yang lahir dan tumbuh kembang ke masa pandemi ini cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hanya bertemu denga keluarga dan inti, komunikasi dengan kakek nenek atau kerabat hanya dilakukan lewat internet dan telepon.
Hal ini tak dipungkiri membuat kemampuan sosial anak (social skill), tak terstimulasi dengan maksimal. Sebuah penelitia di Irlandia menemukan beberapa bayi yang lahir selama pandemi keterampilannya sosialnya lebih lambat.
Terutama dalam mengucapkan kata-kata bermakna, menunjuk, dan melambaikan tangan, ini dibandingkan dengan bayi yang lahir sebelum pandemi. Kabar baiknya, hal tersebut tak perlu dikhawatirkan, karena kemampuan tersebut bisa dikejar.
Dokter Sam Hay, seorang spesialis anak, mengungkap saat ini harus memperbanyak anak bertemu banyak orang. Tingkatkan kemampuan sosialisasinya.
" Keluar dan bersosialisasilah. Orangtua akan melihat bahwa anak-anak akan bangkit kembali dan berkembang. Pergi ke taman, tunjukkan segalanya dan stimulasi anak agar lebih banyak berbicara dengan orang lain," ujarnya.
Dia juga menekankan perkembangan sosial dapat dipengaruhi oleh situasi keluarga. Seperti saat liburan, ada yang sakit, kumpul keluarga atau momen yang melibatkan keluarga besar untuk berkumpul.
Untuk membantu menstimulasi kemampuan sosialisi si kecil, perbanyaklah kumpul dengan kerabat atau keluarga. Akan lebih baik jika ada melibatkan juga anak-anak seusianya.
Sumber: KidSpot
Dream - Proses tumbuh kembang anak merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Berjalan atau langkah pertama, adalah tahapan perkembangaan yang sangat dinantikan para orangtua.
Pada beberapa anak, mulai belajar melangkah atau mencoba saat usia 15 bulan. Ada juga yang lebih dari usia tersebut dan hal ini sering membuat khawatir. Anak. Penny Glass, Ph.D., seorang ahli tumbuh kembang anak di Children's National Medical Center, Washington, D.C mengungkap bahwa tidak semua anak bisa berjalan di tahun pertama mereka.

" Kebanyakan anak berjalan atau mencoba pada usia 15 bulan, tetapi usia 18 bulan masih dapat dianggap sebagai batas atas normal," ujarnya.
Terdapat perbedaan antara anak yang sekedar terlambat berjalan dan anak dengan Gross Motor Delay atau keterlambatan perkembangan motorik kasar. Penny mengungkap, jika seorang anak tidak menunjukkan ketertarikan pada aktivitas motorik, anak tersebut mungkin mengalami masalah dengan keterampilan motorik. Sebaliknya, anak yang banyak mencoba berdiri dan berjalan cenderung tidak mengalami keterlambatan.
Orangtua dapat memperhatikan tonus (kekuatan) otot pada anak dan kualitas gerakannya. Umumnya, anak memiliki kontrol yang baik di sekitar usia 4 bulan, dan tetap tegak jika ditempatkan dalam posisi duduk pada usia 7 - 8 bulan. Jika anak melakukan hal tersebut tetapi, tetap terlambat berjalan, hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan.
Kepribadian atau temperamen anak juga menjadi aspek yang harus diperhatikan. Beberapa anak lebih aktif, namun ada juga yang cenderung menjadi pengamat dan penuh perhitungan. Anak yang memiliki keterampilan sosial dan penuh rasa penasaran bisa terlambat berjalan karena mereka lebih tertarik untuk mengamati dunia di sekitar mereka dan lebih berhati-hati.
" Untuk melatih anak berjalan, orangtua dapat membiarkan anak mencoba berdiri sambil melingkari lengan untuk keselamatannya. Berpegangan sambil berdiri dapat melatih keseimbangannya untuk berjalan," ungkap Penny.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita/ Sumber: Parents
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya