Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Orangtua seringkali menganggap hal yang dialami anak adalah hal kecil, dibandingkan dengan masalah orang dewasa. Saat bercerita ke orangtua, anak juga kerap mendapat respons " masalah kamu soal kecil, nanti kalau dewasa masalah kamu lebih besar, nih lihat ayah/ ibu, jangan drama" .
Terdengar hal biasa, tapi efeknya bagi mental anak begitu luar biasa dan jangka panjang. Terutama jika anak sudah melontar kalimat " hidupku menyebalkan" . Charlotte Priatna MPd, ahli pengasuhan anak, lewat akun Instagram @tanam_benih, menjelaskan kalau saat anak mengungkapkan hal tersebut merupakan peringatan keras bagi orangtua.
" Kalau anak Anda sudah bicara 'my life is sucks', itu wake up call, ayo bangun, bangun. Ada masalah lho anakmu. Jangan santai, jangan menganggap itu biasa, jangan melihatnya ini sih mengada-ada, cari perhatian saja," kata Charlotte.
Ia juga menjelaskan, saat anak melontarkan hal tersebut, mungkin memunculkan rasa bersalah. Jangan sampai rasa bersalah malah membuat orangtua meresponsnya dengan negatif.
" Kita sendiri jadi mungkin merasa bersalah, tapi rasa bersalah yang bukan membuat kita bangkit tapi justru menuding anak. Kamu ya, jangan bikin mama susah lagi, sudah cukup repot kita dengan begini, bukannya kamu menolong, malah kamu tambah beban," ungkap Charlotte.

Bila respons orangtua demikian, permasalahan akan jadi semakin besar. Kesehatan mental anak jadi taruhannya. Ia akan menjauh dan menganggap orangtuanya, tak bisa membuatnya aman dan nyaman.
" Kalau orangtua sudah memandangnya begini, ya berarti kita lihat masalah itu akan menjadi double, menjadi triple. Ayo aware, ini ada masalah, perubahan itu harus dilakukan dimulai dari mana? Dari saya. Dari saya itu yang artinya sayalah orang pertama yang bisa sadar, yang bisa aware, bangun," ujar Charlotte.
Menurut Charlotte, orangtua harus lebih dulu menerima keluhan anak, membantunya, serta berempati dan tidak merendahkan/ mengabaikan perasaan anak. Mencari cara agar bisa menghadapi kondisi anak yang sedang stabil dengan bijak, yaitu dengan menyadari kalau orangtua juga butuh pertolongan.

Bisa dengan mengajak anak ke konselor, psikolog untuk berusaha memahaminya dengan baik. Anak mengeluh kepada orangtua soal hidupnya, sebenarnya merupakan pertanda baik kalau ia ingin terbuka. Harapannya bukan segera ada solusi, tapi setidaknya orangtua bisa membantu menenangkan, bukan malah mengabaikan perasaannya.
Dream - Banyak orangtua yang beranggapan kalau anak-anak yang sudah menginjak usia remaja yaitu 17 hingga 19 tahun mulai berpikir kritis. Bisa membuat keputusan besar untuk dirinya sendiri dan melakukan pertimbangan yang rumit.
Faktanya ternyata tak demikian. Di sekolah mungkin anak merupakan sosok yang pintar secara akademis, tapi secara pemikiran dan psikologis mereka masih dalam tahap perkembangan. Menurut dr. Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ dalam akun Instagramnya @dr.vivisyarif, otak remaja masih belum sempurna.

" Otak remaja itu masih dalam proses perkembangan, proses developmental stage. Kita harus berhenti berpikiran bahwa remaja itu adalah orang dewasa dalam versi mini, no. Mereka adalah anak-anak yang masih dalam fase transisi menuju fase dewasa," kata dr. Vivi.
Menurutnya, otak remaja masih mengalami perkembangan khususnya di prefrontal cortex, area yang paling akhir berkembang. Ini adalah area otak yang bertanggung jawab untuk pembuatan keputusan, penilaian dan perencanaan.
" Jadi pada remaja mereka sedang belajar melakukan abstract thinking, proses berpikir abstrak, jadi parents jangan berharap anak remaja sudah tahu mereka akan melakukan apa dalam sekian tahun ke depan, belum tentu. Mereka lagi belajar abstract thinking kayak orang dewasa," ujar dr. Vivi.
Ia juga menjelaskan di usia tersebut, anak masih berproses dalam menjalani tanggung jawab, melakukan pertimbangan secara moral suatu perilaku atau tindakan. Seringkali remaja melakukan hal impulsif dan hal itu karena kemampuannya itu menilai belum matang dan butuh pendampingan terus menerus dari orangtua.
" Jadi parents kita harus berhenti menuntut mereka sudah bisa melakukan abstract thinking, punya reasoning, jangan menuntut mereka harus bisa karena pada dasarnya memang belum bisa," pesan dr. Vivi.
Sumber: dr. Vivi Syarif
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya