6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Pagoda Kyaiktiyo Mengundang Keheranan Para Arkeolog Karena Berdiri Di Puncak Bukit.
Dream - Para arkeolog dibuat tercengang dengan Pagoda Kyaiktiyo di Myanmar. Selain strukturnya yang dianggap menentang gravitasi, pagoda ini juga diselimuti legenda kuno yang penuh keajaiban.
Pagoda Kyaiktiyo atau juga dikenal sebagai Pagoda Batu Emas adalah situs ziarah agama Budha terkenal di Negara Bagian Mon, Myanmar.
Bangunan unik ini berdiri di atas Bukit Kyaiktiyo atau juga dikenal sebagai Bukit Kelasa. Bukit ini berada di punggung pegunungan Paung-laung di Yoma Timur.
Hampir selalu diselimuti awan, asal-usul dan kisah pagoda ini membuat para pengunjung dan peziarah dihinggapi rasa misteri. Kisah mitologinya menarik untuk ditelusuri.
Pagoda berbentuk batu ini memiliki tinggi 7,62 meter dan posisinya yang berdiri seimbang di tepi jurang sangat tidak masuk akal.

Bagi mata manusia, posisinya yang sedemikian rupa mungkin tampak membingungkan, hampir mustahil.
Tetapi bagi yang percaya keajaibannya, pagoda ini adalah sebuah mukjizat. Konon sehelai rambut Buddha menjadi penyeimbang yang mengikat batu dan bukit yang menyangganya.

Legenda kuno dan mitos Pagoda Kyaiktiyo ini dimulai dari sebuah kerajaan yang terletak jauh di wilayah pedalaman yang disebut 'Upper Mon' sekitar seribu tahun yang lalu.
Suatu hari, raja sakti bertemu dengan seorang pertapa Buddha yang memegang sehelai rambut di dalam topinya.
Sehelai rambut itu dikatakan milik Sang Buddha, dan pertapa itu menawarkannya kepada sang raja.
Sebagai imbalannya, pertapa meminta rambut tersebut harus diabadikan di sebuah pagoda yang dibangun di atas batu berbentuk kepalanya.

Raja sakti itu mewarisi kekuatan gaib dari ayahnya Zawgyi, seorang alkemis mahir, dan ibunya, seorang putri ular naga.
Dia meminta bantuan Thagyamin, nama lain Dewa Sakka dalam Buddha, untuk menemukan batu yang sempurna di dasar lautan.
Raja sakti menarik batu tersebut dari dasar laut. Dia menggunakan perahu untuk mengangkut batu itu dan akhirnya mengangkatnya ke puncak gunung.
Setelah menyeimbangkan batu itu di puncak gunung, raja membangun sebuah pagoda di atasnya dan mengabadikan rambut Buddha di dalamnya.

Perahu yang digunakan untuk mengangkut batu juga telah berubah menjadi batu. Perahu membatu yang berjarak 300 meter dari pagoda itu juga disembah oleh para peziarah.
Perahu tersebut kemudian dikenal sebagai Pagoda atau Stupa Kyaukthanban — arti harfiahnya diterjemahkan menjadi 'perahu batu'.
Versi lain dari cerita sang raja ini menyebutkan bahwa batu itu diletakkan di atas rambut. Rambut Buddha inilah yang mencegah batu itu meluncur ke bawah gunung.
Kuil dan cerita legenda di balik pagoda ini telah menjadikan Gunung Kyaiktiyo dan Pagoda Batu Emas menjadi salah satu tempat paling terkenal dan populer di seluruh negeri.
Sumber: Express.co.uk
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
