Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Bali (Shutterstock.com)
Dream - Bali terkenal sebagai destinasi wisata leisure dengan kekayaan alam dan pesona budayanya yang kental. Banyak wisatawan asing menghabiskan waktu untuk berpetualang dan beriteraksi dengan masyarakat Bali.
Kini, Bali mulai menjajaki potensi menjadi destinasi wisata kesehatan. Dengan banyaknya rumah sakit yang terakreditasi, Bali optimis bisa menjadi destinasi wisata kesehatan kelas dunia.
General Manager Indonesia Medical Tourism Board (IMTB) Bali Nusra, Putu Deddy Suhartawan, menjelaskan Bali punya peluang dikembangkan sebagai tujuan wisata medis. Saat ini, di Bali ada 280 rumah terakreditasi paripurna dan 30 rumah sakit terakreditasi internasional.
" Ada satu rumah sakit yang sudah disertifikasi ACHS, Australian Council Health Service. Satu-satunya di Indonesia," ujar Deddy.
Deddy menjelaskan sejak peristiwa Bom Bali I dan II hingga sebelum pandemi Covid-19, Pulau Dewata terus berbenah diri terutama dalam layanan kesehatan. Lambat laun, warga asing kini sudah mau mencoba layanan medis di tengah aktivitas liburannya di Bali.
© Dream
Layanan medis yang tersedia untuk para wisatawan cukup beragam, dengan pelayanan utama yaitu di bidang kecantikan seperti bedah plastik, face implant, face lift, liposuction, hingga layanan non-invasif seperti botox, filler, dan thread lift. Dalam satu bulan, rata-rata sebanyak 60 pasien memanfaatkan layanan ini dengan total pemasukan tercatat mencapai Rp1,2 miliar.
" Tapi saat itu, masing-masing rumah sakit bergerak sendiri, secara sporadis. Yang akan kita lakukan sekarang adalah untuk koordinasikan, kolaborasikan, karena rumah sakit memang memiliki fasilitas layak dijual, biasa dengan pasien asing juga. Dikombinasikan dengan hotel," kata Deddy.
© Dream
Di tahun lalu, tiga negara menduduki peringkat teratas untuk layanan wisata medis di Bali yaitu Australia, China, dan India. Tetapi, pandemi Covid-19 menghalangi para wisatawan berkunjung sehingga IMTB mengganti target ke pelancong domestik.
Apalagi, kata Deddy, saat ini ada upaya untuk menggaungkan wisata kesehatan ke pelancong domestik. Dia menilai potensi tersebut tetap ada, mengingat tidak sedikit masyarakat nusantara yang ke luar negeri untuk berobat.
" Mereka yang sering ke luar negeri untuk mengecek kesehatannya, mau enggak mau kan nggak bisa ke luar," ucap dia.
Untuk menggeliatkan kembali wisata kesehatan Bali, IMTB akan mempertemukan buyer dengan seller lewat forum offline di Jakarta. Pertemuan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan para peserta wajib melampirkan hasil rapid test sebelum acara berlangsung.
Sumber: Liputan6.com/Dinny Mutiah
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya