Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
(Foto: Wilsen Willim Di Fashion Nation 2018/ Liputan6.com-Herman Zakharia)
Dream - Tren fashion akan selalu berulang dari tahun ke tahun. Meskipun terlihat lebih fresh, tak ada siluet yang benar-benar baru tanpa sentuhan gaya di masa lalu.
Salah satunya fashion tren yang banyak berkembang di tahun 20-an. Banyak menampilkan cutting yang lebih glamor, sebagai upaya meninggalkan keanggunan Victorian style.
Gaya transisi itulah yang kemudian menginspirasi desainer muda Wilsen Willim untuk melahirkan karya baru.
Wilsen memboyong kembali gaya transisi di era 1910-1940 ke panggung Fashion Nation 2018. Terinspirasi dari siluet timeless, yang bertahan melewati masa berjayannya tailor jacket, coat dan perfecto jacket.

Pada gelaran fashion tahunan itu, Wilsen banyak bermain dengan dimensi dan layering yang dipadukan dengan sheer material. Menampilkan padupadan yang elegan dan edgy secara bersamaan.
Beberapa diantaranya terlihat pada potongan gaun romantis yang dirancang khusus, tanpa menghilangkan detail Victorian look.
" Aku suka sekali dengan cutting yang minimalis. Itu kenapa aku selalu membawa nuansa tahun 1920-an dalam koleksi busana. Dengan cutting tegas bagian bahu, bentuk pinggang, dan pinggul menjadi keindahan dalam koleksi ini berpadu dengan sentuhan modern," tutur Wilsen beberapa waktu lalu di Senayan City, Jakarta Selatan.

Pemilihan kain pun lebih selektif dengan menitikberatkan pada pemakaian katun. wool-cashmere dan sutra. Tak ketinggalan menambahkan pemakaian organza dan katu tebal, sebagai pemanis yang emmepertegas power shoulder dari era 80-an.
Wilsen Willim juga memberikan sentuhan tradisional pada koleksi ini dengan menggunakan bahan sutra tenun Garut. Teknik yang digunakan juga uni yaitu smooking, felting dan deconstruction.
Koleksi ini menampilkan busana ready to wear yang menampilkan kesan kasual, formal, dan body flattering dalam waktu yang bersamaan.
Menariknya lagi, beberapa siluet dibuat lebih santun. Kemudian ditampilkan dalam styling panggung untuk para wanita muslimah. Menjadi salah satu alternatif bagi hijabers yang sedang mencari modest wear lebih edgy.
Padupadan bergaya layering, dengan cutting flowy menjadi daya tarik kuat untuk dikenakan para hijabers. Membuat penampilan terlihat lebih profesional tanpa mengurangi kesan chic dan playful.
(Sumber: Liputan6.com / Meita Fajrina)
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari