Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Hingga saat ini kasus Covid-19 di Indonesia belum ada tanda penurunan signifikan. Vaksin pun masih dalam tahap uji klinis dan belum ada kepastian. Hal ini berdampak dalam segala lini, termasuk dalam hal perekonomian, kesehatan, psikologis hingga kondisi rumah tangga.
Tak hanya itu, pandemi diperkirakan memicu peningkatan terhadap kehamilan tidak direncanakan. Setidaknya ada lebih dari 400 ribu kelahiran tanpa rencana terjadi selama pandemi. Hal ini menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Angka tersebut bisa mengancam keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Termasuk beberapa tujuan kesehatan Indonesia yang berfokus kepada pencegahan stunting.
" Di Indonesia sendiri, ada sekitar 4,7 hingga 5 juta kelahiran setiap tahunnya, atau setiap 500 ribu perempuan ada 5 ribu perempuan di Indonesia yang hamil dan melahirkan setiap tahunnya. Untuk itu, penting untuk menggunakan kontrasepsi guna menjaga jarak dan membatasi kehamilan," kata Kepala BKKBN Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam webinar yang digelar olehh DKT Indonesia beberapa waktu lalu.
Hasto juga mengungkap jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting. Menurut Badan Kesehatan Dunia/ WHO, stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai.
Pada jarak birth to birth interval lebih dari 3 tahun terbukti lebih banyak mengurangi kejadian stunting dibandingkan dengan jarak kelahiran kurang dari 2 tahun yang hampir dua kali lipat meningkat kejadian stuntingnya.
" Kontrasepsi menjadi pilihan untuk menjaga jarak antar kehamilan setidaknya lebih dari 36 bulan," ujar Hasto, dikutip dari rilis yang diterima Dream.co.id.
Saat jarak kehamilan terlalu dekat, risiko stunting cenderung tinggi. Mengapa? Orangtua harus memenuhi kebutuhan anak akan perhatian, waktu pengasuhan serta gizi. Saat jarak usia anak terlalu dekat seringkali kebutuhan tersebut tak bisa dipenuhi dengan optimal, termasuk gizi.
Terutama dalam situasi pandemi seperti sekarang di mana sangat mengguncang sektor ekonomi di segala lini. Untuk itu dibutuhkan perencanaan kehamilan yang matang agar anak-anak bisa terurus dengan baik. Salah satu caranya dengan penggunaan kontrasepsi.
" Selain mendorong masyarakat untuk ber-KB dengan mendatangi klinik dokter maupun bidan secara langsung, kami juga ingin mendorong masyarakat untuk melakukan KB mandiri salah satunya dengan penggunaan kondom ataupun Pil KB yang bisa didapatkan secara mandiri," pesan President Director DKT Indonesia, Juan Enrique Garcia, dalam kesempatan yang sama.
Advertisement
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?

Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya

Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?