Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Nadeine Asbali/ Sumber: Metro.co.uk
Dream - Menjadi seorang muslimah yang tinggal di negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim, tentunya penuh tantangan. Mengenakan hijab contohnya, perlakuan diskriminatif sangat mungkin terjadi.
Mulai dari tatapan tajam, pertanyaan menyudutkan, hingga penyerangan fisik. Nadeine Asbali seorang guru dan penulis membagikan ceritanya sebagai hijaber di Inggris.
Pada awalnya, Nadeine merasa seluruh orang di sekitar butuh mengakui adanya muslimah berhijab di antara mereka. Ia cukup aktif Pergerakan World Hijab Day sekitar 10 tahun lalu.
Kini sebagai muslimah berhijab di Inggris, semangat tersebut tetap ada, tapi hadir dengan cara yang berbeda.

" Satu dekade yang lalu, ketika pertama kali dimulai, World Hijab Day, muslim di Inggris atau Amerika mana pun akan memberi tahu tentang kios-kios yang didirikan di jalan raya yang sibuk dan kampus universitas yang dirancang untuk memungkinkan wanita non-Muslim mencoba hijab atau 'menjadi hijabi selama sehari," ujar Nadaine.
Menurutnya saat itu, gerakan tersebut cukup progresif dan jadi puncak toleransi. Kini Nadaine melihatnya dengan cara berbeda.
" Saya menyadari itu karena, sebagai seorang remaja, saya mencari validasi, mendambakan pengakuan negara tempat saya dibesarkan untuk akhirnya terbuka dan merangkul saya sebagai seorang wanita muslim. Saya telah beralih dari mengandalkan validasi dari orang lain, dan sadar bahwa saya tidak butuh pengakuan eksternal untuk eksis sebagai hijaber,” tulis Nadeine.
Nadaine kini memaknai hijab lebih mendalam. Ia tak mau identitasnya hanya dikenal sebagai hijaber, yang hanya selesai di satu titik lalu tak berkembang, dan tak mendukung satu sama lain. Hal ini nantinya malah akan jadi bumerang.
" Saat ini, saya menyadari bahwa mereduksi diri saya menjadi hanya seorang hijabi hanya mendukung narasi reduktif perempuan muslim hanya sebagai pakaian kami, tidak lain adalah penindasan kami," tullisnya.

Baginya, hijab yang ia kenakan memang jadi bagian penting dan mendasar, tapi Nadaine mencoba untuk tak lantas kehilangan diri sendiri.
“ Jilbab adalah bagian penting dan mendasar dari siapa saya, tetapi itu bukan keseluruhan diri saya. Lagi pula, ketika saya melepasnya di penghujung hari, saya tidak berhenti menjadi diri saya sendiri,” ungkap Nadeine.
Sumber: Metro.co.uk
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya