Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Foto: Instagram.com/taqwabintali
Dream - Taqwa Bint Ali berusia 17 tahun, saat pertama kali menutupi rambutnya dengan hijab di Prancis lima tahun lalu.
Seandainya dia berusia 17 tahun saat tahun 2021, meninggalkan rumahnya dengan hijab akan membuatnya menjadi penjahat jika RUU Separatisme yang diusulkan negara itu ditulis menjadi undang-undang.
Pada 30 Maret 2021, Senat Prancis mendukung RUU tersebut, yang melarang pemakaian jilbab di depan umum untuk wanita Muslim di bawah usia 18 tahun. Aturan itu juga melarang penggunaan burkini di kolam umum, dan melarang ibu berhijab menemani anak-anak mereka dalam perjalanan sekolah.
Taqwa merupakan seorang Prancis-Tunisia yang berdedikasi untuk membina komunitas bagi wanita Muslim dan meningkatkan representasi jilbab di Prancis.
© Instagram.com/voguearabia
Vogue Arabia melaporkan bahwa Taqwa ikut mendirikan platform mode sederhana Prancis, Galeri Zarafet, serta Klub Akagi, yang merupakan tempat aman bagi wanita Muslim untuk bermain dan berlatih olahraga.
Meski gerakan mode global telah memengaruhi para petinggi industri mode perihal aturan soal hijab, namun Taqwa berkesempatan menjadi model untuk brand ternama Jean Paul Gaultier dan Fendi.
Tak jarang, Taqwa selalu menginspirasi desainer untuk memenuhi demografi Muslim dan merangkul para pengguna hijab.
Lewat wawancara dengan Vogue Arabia, Taqwa menuturkan tentang peraturan baru yang memengaruhi wanita Muslim di Perancis, " Ada banyak sekali kendala bagi wanita berhijab di Prancis yang pertama adalah Pendidikan, jilbab hanya diperbolehkan di perguruan tinggi negeri, karena ada larangan memakai jilbab di sekolah dasar, menengah, dan atas, jadi kami dibatasi dalam pilihan studi kami karena beberapa sekolah swasta tidak menerima hijab."
© Instagram.com/voguearabia

Ia juga mengatakan kalau hal ini sangat membuat frustasi, hijab dilarang untuk pegawai negeri, dan untuk perusahaan swasta. Keputusan apakah seseorang dapat memakainya atau tidak, tergantung pada para atasan.
" Ada infantilisasi nyata terhadap wanita Muslim, Kita hidup dalam masyarakat di mana wanita berhijab dilarang bekerja, berolahraga, bernyanyi di acara TV, dan menemani anak-anak dalam acara sekolah," curhatnya.
Taqwa juga menegaskan bahwa adanya aturan pelarangan tampilan hijab di Perancis mendorong banyak keluarga Muslim meninggalkan negara ini.
Laporan: Radhika Nada, Sumber: Vogue
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

