Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Pornografi (Foto: Shutterstock.com/Odua Images)
Dream - Peneliti China tengah membuat perangkat yang mampu ‘membaca pikiran pria’ dengan kemampuan mendeteksi gelombang otak yang menonton konten porno.
Perangkat tersebut juga diklaim akan membantu otoritas China dalam menegakkan hukum yang melarang warganya mengonsumsi pornografi.
Peneliti telah menguji coba alat itu pada 15 mahasiswa laki-laki yang duduk di depan layar komputer, sambil mengenakannya di kepala mereka. Ada alarm yang berbunyi ketika gambar eksplisit atau tertentu terdeteksi oleh gelombang otak.
Peneliti juga menguji dengan menyandingkan gambar eksplisit bersamaan gambar-gambar yang tidak akan memicu reaksi gelombang otak yang sama. Perangkat kemudian akan dapat memproses aliran foto dan menandai sesuatu yang mencurigakan.
Direktur Departemen Teknik Listrik, Xu Jianjun, di Universitas Jiaotong Beijing, mempublikasikan hasil temuannya dalam Journal of Electronic Measurement and Instrumentation. Dia menyebut prototipe perangkat itu untuk mendeteksi informasi yang buruk.
Keakuratan dari perangkat, diklaim para peneliti dapat mencapai 80%. Alat ini juga mampu menyaring sinyal lain yang dapat memicu gelombang otak ketika seseorang memancarkan emosi yang tidak berkaitan dengan pornografi.
Pemerintah China sendiri tengah mempertahankan tindakan kerasnya terhadap pornografi. Dengan menyebarkan sensor yang dikenal sebagai 'porn appraisers' atau jian huang shi pada media sosial untuk menandai konten yang dianggap tidak pantas.
Karena pornografi ilegal di China, para peneliti sempat mengalami kesulitan menemukan bahan yang cukup untuk digunakan dalam melatih perangkat tersebut.
Gambar-gambar eksplisit yang dapat diperoleh para peneliti harus disunting dan disensor untuk menghindari pelanggaran hukum.
Diketahui pada tahun 2018, pihak berwenang China menawarkan hadiah kepada warganya sebesar US$ 86.000, jika mengadukan seseorang yang dicurigai menonton materi pornografi.
Sumber: New York Post
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang