JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi
Dream - Kasus gagal ginjal akut misterius pada anak saat ini masih dalam investigasi Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Hal ini karena peningkatkan kasusnya sangat signifikan dan terus bertambah.
Penyebab utamanya belum diketahui secara detail. Dicurigai, kandungan etilen glikol pada sirup obat yang banyak dikonsumsi anak adalah penyebab.
Pihak Kementerian Kesehatan sudah meminta apotek untuk menghentikan penjualan sirup obat pada konsumen. Tenaga kesehatan juga untuk sementara diminta untuk tidak meresepkan obat sirup.
Menurut data IDAI, jumlah kasus gagal ginjal akut hingga 18 Oktober 2022, terdapat 206 kaus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 99 anak. Hal tersebut tentunya membuat banyak orangtua khawatir.
Sebagai langkah preventif, jangan berikan obat yang dijual bebas jika anak punya keluhan kesehatan seringan apa pun. Dalam situasi seperti sekarang, konsultasi dulu dengan dokter agar lebih aman.
Ketahui juga ciri atau gejala gagal ginjal akut misterius pada anak atau dalam istilah medis disebut Acute Kidney Injury (AKI). Dokter S.Tumpal Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A lewat akun Instagramnya @dr.andreas.spa menjelaskan beberapa gejala khas gangguan ini.
Gejala yang banyak ditemui pada pengidap gagal ginjal akut yaitu bengkak pada saluran kemih. Gejala lain dapat berupa munculnya suatu zat dalam air kencing, seperti hematuria atau sel darah merah, leukositoria atau sel darah putih dan proteinuria atau protein yang terdapat dalam urine.
Ciri atau gejala lainnya adalah pasien anak akan mual, muntah, pucat, hilangnya nafsu makan, lemah, lesu, sesak napas dan sakit perut.
Anak juga mengalami peningkatan jumlah buang air kecil. Setelah itu menurun drastis, bahkan tidak buang air kecil sama sekali.
Mulai sekarang, selalu perhatikan anak saat buang air kecil, Ayah Bunda.
Dream - Investigasi terus dilakukan untuk mengetahui pemicu peningkatan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (GgGAPA) yang menyerang anak-anak di Indonesia. Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah membentuk tim khusus.
IDAI lewat surat edaran yang mengumumkan beberapa imbauan, baik untuk para tenaga kesehatan dan masyarakat. Bagi para dokter, diminta untuk menghentikan peresepan obat sirup.
" Tenaga kesehatan menghentikan sementara peresepan obat sirup yang terduga kontaminasi etilen glikol atau dietilen glikol sesuai hasil investigasi Kemenkes dan BPOM," tulis pengumuman IDAI.
Bila anak memerlukan obat sirup khusus, misalnya obat anti epilepsi atau lainnya, yang tidak dapat diganti sediaan lain, konsultasikan dengan dokter spesialis anak/ konsultan anak. Tenaga kesehatan dapat meresepkan obat pengganti yang tidak terdapat dalam daftar dugaan obat terkontaminasi atau dengan jenis sediaan lain seperti suppositoria atau dapat mengganti dengan obat puyer dalam bentuk monoterapi.

Untuk orangtua, juga diimbau tak membeli dan memberikan obat yang dijual bebas pada anak. Terutama obat sirup yang banyak digunakan untuk redakan nyeri dan demam.
" Masyarakat untuk sementara waktu tidak membeli obat bebas tanpa rekomendasi tenaga kesehatan sampai didapatkan hasil investigasi menyeluruh oleh Kemenkes dan BPOM," pengumuman IDAI.

Para orangtua juga diminta tetap tenang dan waspada terhadap gejala GgGAPA. Salah satu gejala khasnya adalah berkurangnya atau tidak adanya buang air kecil.
Dream - Kasus gagal ginjal akut pada anak di Indonesia naik drastis selama Januari 2022 hingga Oktober 2022. Hal ini tak dipungkiri memunculkan kekhawatiran di kalangan orangtua.
Pasalnya, tim dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) masih mencari tahu penyebab utama gangguan gagal ginjal yang perburukannya terjadi sangat cepat ini. Untuk di Jakarta sendiri, menurut data resmi yang dipublikasi oleh Dinas Kesehatan Jakarta di akun Instagram @dinkesdki, kasus gagal ginjal anak akut paling banyak terjadi pada balita.
Jumlahnya dari periode Januari hingga Oktober 2022 mencapai 37 kasus. Sementara di usia 5 hingga 18 tahunnya terjadi 5 kasus.
Penyebab gangguan ginjal akun misterius tersebut ada beberapa yang sudah diketahui. Antara lain karena infeksi leptospirosis, influenzae, parainfluenzae, MISC/ long Covid19, virus CMV, virus HSV, bocavirus, legionella, shigella dan e.coli.
" Data surveilans kematian DKI Jakarta tidak ada kenaikan tren kematian pada balita dan anak di DKI Jakarta pada tahun 2022 dan tidak ada kenaikan kematian pada balita dan anak dikarenakan gagal ginjal akut," tulis keterangan dari Dinkes DKI.

Dinkes juga meminta orangtua jika anak mengalami demam, diare, muntah dan frekuensi buang air kecilnya berkurang dalam 12 jam, harus segera dibawa ke dokter. Semakin cepat gangguan gagal ginjal terdeteksi, semakin baik perbaikan penyakit.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun