Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream - Malindo Air, anggota grup Lion Air, memberikan pernyataan mengenai perkembangan kebocoran data penumpang. PR & Communications Department, Malindo Air, Andrea Liong mengatakan, kemungkinan data itu telah disalahgunakan pihak tak bertanggung jawab.
Liong mengatakan, tim internal Malindo Air bersama penyedia layanan data eksternal, Amazon Web Services (AWS) dan GoQuo sebagai mitra e-commerce, saat ini sedang menyelidiki atas hal tersebut.
" Malindo Air juga bekerja sama dengan konsultan cybercrime independen, melaporkan kejadian ini dan untuk proses penyelidikan," ujar Liong dalam keterangan resminya, Kamis, 19 September 2019.
Liong menyebut, Malindo Air sudah mengambil langkah-langkah tepat untuk memastikan data penumpang tidak terganggu. Tindakan ini diambil sesuai Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Malaysia 2010.
Liong mengatakan, Malindo Air menyatakan tidak menyimpan rincian pembayaran setiap penumpang atau pelanggan di dalam server.
" Malindo Air mematuhi ketentuan Standar Kartu Pembayaran Industri dan Standar Keamanan Data (Payment Card Industry/ PCI - Data Security Standard/ DSS)," ujar Liong mengklaim.
Liong menyebut, untuk tindakan pencegahan, Malindo Air mengimbau dan menyarankan kepada seluruh penumpang atau pelanggan yang memiliki akun Malindo Miles segera mengubah kata sandi. Liong menyebut, Malindo Air akan terus memberikan keterangan lebih lanjut melalui website, seluler (mobile) dan media sosial.

Dream - Puluhan juta data pribadi penumpang dua maskapai penerbangan yang dimiliki Lion Air beredar di forum selama lebih kurang sebulan. Data itu tersimpan di laman terbuka, Amazon.
BleepingComputer, menyebut catatan data tersebut terbagi dalam dua penyimpanan data. Data pertama dengan catatan 21 juta pelanggan. Sementara gepok data lain punya 14 juta data penumpang.
Data penting itu dibuat pada Mei 2019. Kebanyakan data pelanggan merupakan penumpang Malindo Air dan Thai Lion Air. Cadangan data lain berisi nama-nama penumpang Batik Air.
Data yang tersimpan memuat identitas pemesanan penumpang, nomor telepon, alamat surat elektronik, tanggal lahir, nomor paspor, alamat rumah, serta tanggal kedaluwarsa paspor.
HUGE: Hacker dumps @lionairthai's customer and flight database
First database has 21 million records which include passenger ID, Reservation ID, customer address, phone number and email (1/2)#breach #database #gdpr #blackhat pic.twitter.com/GCJ0LvekWR— Under the Breach (@underthebreach)September 11, 2019

Meski demikian, tidak jelas kapan data pribadi pengguna itu diakses kali pertama. Tapi, seorang pengguna yang mengumpulkan informasi sensitif dari berbagai forum pertukaran data menduga data tersebut muncul pada 10 Agustus 2019.
Pengguna tersebut, menemukan bahwa kumpulan dua data setelah mereka menerbitkan URL layanan penyimpanan `ember AWS`.
Pada 12 Agustus, seseorang pengguna internet menawarkan pertukaran data yang relatif dikenal dan beberapa waktu kemudian `ember` diamankan.
Dua database dari penyimpanan cloud masih beredar, meskipun, tersedia atas permintaan. BleepingComputer melihat indeks direktori terbuka dan memperhatikan bahwa file cadangan, yang terbaru bernama 'PaymentGateway.'
Nama cadangan tambahan termasuk referensi untuk program hadiah perusahaan dan layanan pemesanan online GoQuo yang juga menyediakan solusi analitik pelanggan.
Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, memberi penjelasan mengenai kasus ini. Dia menyebut kasus kebocoran data pelanggan Lion Air ini sedang diselidiki.
" Kami sedang melakukan cek ya," kata Danang, Rabu 18 September 2019.
Dream – Lion Air Group melarang salah satu produk Apple, MacBook Pro 15 inchi keluaran 2015, masuk ke kabin dan kargo pesawat.
Larangan ini dikeluarkan seiring dengan penarikan produk oleh Apple.Larangan ini berlaku di penerbangan Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.
“ Melarang pengangkutan laptop produk Apple jenis MacBook Pro 15 inchi produksi 2015 yang dipasarkan periode September 2015 sampai Februari 2017 sebagai bagasi tercatat/ terdaftar (checked baggage) dan kargo,” kata Corporate Communication Strategic, Danang Mandala Prihantoro,di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 12 September 2019.
Kebijakan tersebut berdasarkan aturan yang dirilis oleh Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA), Federal Aviation Administration (FAA) atau Federasi Penerbangan Federal AS, European Union Aviation Safety Agency (EASA) serta regulasi dari IATA Dangerous Goods Regulations (Special Provisions A154) mengenai larangan membawa MacBook Pro (Retina 15-Inch). Ditemukan permasalahan pada baterai laptop di produk Apple tersebut yang berpotensi menimbulkan gangguan (hazard) terhadap faktor keselamatan perjalanan udara.
“ Keterangan terperinci yang mencakup spesifikasi produk MacBook Pro 15 Inc yang di recall (ditarik kembali), dipersilakan untuk akses https://support.apple.com/en-sg/15-inch-macbook-pro-battery-recall,” kata dia.
Jika ingin dibawa, Danang meminta penumpang mematikan laptop itu selama penerbangan.
Tidak diperbolehkan gadget ini dalam keadaan sleep mode. Penumpang juga tak boleh mengisi ulang baterai selama penerbangan.
![]()
Danang mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait hingga pemberitahuan lebih lanjut. Lion Air Group patuh menjalankan ketentuan, aturan atau kebijakan yang berlaku serta menerapkan budaya keselamatan pada setiap lini operasional dalam rangka safety first.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya