Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seto Mulyadi (Kapanlagi.com)
Dream - Media sosial kini banyak dimanfaatkan para pedofilia untuk mencari korban dan berbagi 'informasi' demi melampiaskan hasrat negatifnya. Seperti kasus grup Facebook Official Candy's yang berisi ribuan member yang merupakan pedofilia dari berbagai negara.
Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Seto Mulyadi, psikolog sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, sangat terkejut dengan adanya kasus tersebut.
" Saya cukup terkejut, ini anak masih remaja, masih SD sudah berhubungan seks," kata pria yang akrab disapa kak Seto, Jumat 17 Maret 2017.
Menurut kak Seto, anak-anak yang menjadi korban ataupun pelaku, biasanya dalam kondisi yang tidak mendapat perhatian secara penuh dari keluarganya.
" Kadang-kadang kita abai kepada orang anak yang perlu perhatian. Kita lupa kepada anak-anak yang butuh perhatian. Jadi cukup banyak anak-anak remaja yang frustasi, kita hanya tekan
pada aspek satu saja, akademik," kata dia.
Kak Seto menekankan untuk memberi perhatian penuh pada anak dan aktivitas lain yang sesuai dengan usia mereka. Bukan hanya menekankan pada sisi akademik, tapi juga memenuhi kebutuhan psikologisnya.
" Kita lupa dengan hobi, perasaan mereka. Lupa sehingga akhirnya mereka cenderung melakukan penyimpangan, apa itu narkoba, tawuran, seks bebas. Jadi ini soal hal yang sering terjadi di masyarakat yang belum terungkap," tambah dia.
Selain faktor kurangnya perhatian dari keluarga, anak-anak yang berperilaku menyimpang juga dipengaruhi oleh aspek lingkungan tempat dia tinggal atau bermain. Menurutnya, untuk
melindungi anak-anak dari perilaku menyimpang butuh kerja sama dari semua pihak.
" Jadi cukup banyak yang terjadi. Anak-anak peniru yang terbaik, korban lingkungan. Melindungi anak perlu warga sekampung, maka warga terlihat untuk mengawasi," ungkap kak Seto.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?