Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kondom/ Shutterstock
Dream - Perencanaan keluarga sangat penting untuk membuat pengasuhan anak yang berkualitas. Seperti kita tahu, kehadiran anak dalam keluarga bukan hanya membutuhkan kebutuhan finansial, tapi juga waktu dan psikologis orangtua yang stabil.
Dengan perencanaan kehamilan yang matang, diharapkan orangtua bisa menyiapkan diri dengan lebih baik. Selama ini, untuk menunda kehamilan biasanya para ibu yang lebih berperan padahal ayah pun memiliki peran yang sama besar.
Faktanya dari data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) pada 2020, peran pria terhadap program KB (Keluarga Berencana) masih sangat minim. Terbukti hanya 3,12% laki-laki menggunakan kondom dan 0,5% yang melakukan vasektomi untuk program perencanaan keluarga.
Hal tersebut membuat DKT Indonesia, organisasi swasta yang berfokus kepada kesehatan reproduksi bersama dengan BKKBN menginisiasi kampanye ‘Pria Ber-KB Itu Keren!’.
" Suami sebagai kepala rumah tangga, harus aktif berperan serta dalam menyukseskan keluarga berencana dimulai dengan langkah sederhana yaitu menggunakan kondom dan/atau melakukan vasektomi," kata President Director DKT Indonesia, Juan Enrique Garcia, dalam keterangan resminya.
© Dream
Sementara itu, menurut Kepala Seksi Peningkatan Partisipasi KB Pria BKKBN, dr. Raymond Nadeak, M.H. (Kes), partisipasi pria dalam program KB di Indonesia mengalami peningkatan yang lambat dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan berbagai faktor antara lain minimnya akses ke pelayanan kesehatan, tatanan sosial, serta rumor negatif tentang penggunaan kontrasepsi untuk pria.
“ Rumor negatif seperti pakai kondom tidak enak, vasektomi dapat menghilangkan kejantanan hingga menimbulkan disfungsi ereksi sangatlah tidak benar di masyarakat. Hingga saat ini, sudah terdapat 1.300 kelompok KB Pria dengan minimum 10 orang anggota di setiap kelompok. Para anggota tersebut selanjutnya akan membantu untuk mengkomunikasikan pentingnya keterlibatan pria dalam ber-KB," ujar dr. Raymond.
Ia juga mengingatkan untuk menggunakan kontrasepsi secara disiplin selama pandemi. Terutama bagi keluarga yang memang belum menyiapkan dan merencanakan kehamilan karena masih harus bergumul dengan kondisi pandemi yang serba tidak pasti.
Selain itu, peningkatan partisipasi pria dalam ber-KB juga dapat mengurangi tingginya angka stunting," kata dr. Raymond.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya