Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream - Jerawat termasuk salah satu masalah kulit yang cukup sulit disembuhkan. Krim, salep dan obat mahal, terkadang cuma bisa menghilangkan jerawat untuk waktu singkat, tetapi tidak benar-benar bisa menyembuhkan.
Semua orang pasti pernah mengalami masalah jerawat, namun jenis dan kondisinya berbeda-beda.
Ada yang berjerawat tapi bisa hilang dengan sendirinya. Ada juga yang memiliki jerawat yang tidak sembuh-sembuh meski diberi perawatan mahal.
Sebagian orang bahkan mengalami masalah jerawat yang kronis hingga memengaruhi kehidupan sosialnya.

Untuk mereka yang mengalami masalah jerawat kronis, para ilmuwan memiliki jawaban tentang alasannya.
Sebuah penelitian genetik besar, baru-baru ini mengungkapkan bahwa selama ini kita telah mengabaikan faktor utama dalam pertumbuhan jerawat.
" Penelitian genetik tentang jerawat ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Dan ini merupakan langkah yang signifikan," kata Profesor Jonathan Barker, penulis utama penelitian ini, dalam sebuah pernyataan.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications ini mengamati 26.722 orang, yang 5.602 di antaranya mengalami masalah jerawat kronis.
Tim peneliti mengidentifikasi 15 wilayah genom yang terkait dengan pertumbuhan jerawat. Namun 12 di antaranya tidak pernah teridentifikasi sebelumnya.
Mereka menemukan banyak dari varian genetik ternyata memengaruhi pembentukan folikel rambut, sebuah faktor risiko yang belum diketahui sebelumnya.
" Mengejutkan bahwa begitu banyak varian yang memengaruhi struktur dan fungsi folikel rambut. Mungkin variasi genetik ini telah mempengaruhi bentuk folikel rambut dan membuatnya lebih rentan terhadap bakteri dan peradangan, yang merupakan ciri-ciri penyebab jerawat," kata Michael Simpson, kepala Genomic Medicine Group di King’s College London.
Salah satu varian genetik, yang disebut WNT10A, terkait dengan displasia ektodermal, suatu kondisi yang menyebabkan rambut jarang dan tipis.
Displasia ektodermal juga menyebabkan terjadinya kelainan fisik lainnya pada kuku, gigi, kulit dan kelenjar.
Sementara itu, sekitar 22 persen dari varian fenotipik (karakteristik yang dapat diamati) pada pasien berjerawat menjelaskan adanya varian genetik yang lain dalam penelitian ini.
Ini menunjukkan ada kemungkinan wilayah genom lain berkontribusi pada kondisi yang masih belum ditemukan.
" Sejumlah varian genetik ini bisa menjadi target yang menarik untuk pembuatan obat baru atau perawatan yang benar-benar akan membantu pasien," tambah Simpson.
Sekitar 85 persen orang mengalami masalah jerawat dalam hidup mereka. Gumpalan dan benjolan merah ini bisa menjadi masalah dalam waktu yang lama dan meninggalkan bekas luka pada 20 persen pasien.

Meskipun masalah jerawat terlihat sepele, tapi pengobatan baru yang mungkin dihasilkan dari penelitian ini sangat membantu bagi penderita radang papula, pustula dan nodul.
" Jerawat bisa memiliki dampak secara emosional dan psikologis yang parah, dan telah dikaitkan dengan depresi, pengangguran, ide bunuh diri dan bunuh diri itu sendiri," tulis para penulis.
Tim peneliti berharap penemuan baru ini mengarah ke perawatan baru dengan efek samping lebih sedikit daripada obat saat ini.
Salah satu obat jerawat terbaik yang beredar di pasaran saat ini adalah isotretinoin (juga dikenal sebagai Accutane). Namun, obat ini memiliki efek samping yang tidak baik, termasuk bagi wanita yang sedang hamil.
(Ism, Sumber: Iflscience.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya