10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli
5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Bayi
Dream - Faktor kecerdasan seseorang dipengaruhi oleh banyak hal. Antara lain gen, stimulasi, gizi, pendidikan dan lingkungannya. Sebagian besar orangtua ingin memiliki anak-anak yang pintar dan unggul dalam aspek akademik.
Kepintaran anak biasanya baru terlihat ketika nilainya di sekolah selalu unggul, termasuk ketika menjuarai lomba tertentu. Ternyata sejak bayi ketika anak bahkan belum bisa bicara, level intelegensianya sudah bisa diprediksi.
Bukan melalui tes IQ tapi dari analisis feses atau kotoran pertamanya setelah lahir. Hal ini dilakukan oleh tim dari Case Western Reserve University, Ohio, Amerika Serikat. Analisis feses pertama bayi dapat menunjukkan tingkat kecerdasan, atau jika anak rentan terhadap masalah dalam perkembangan kognitif.
Para peneliti menjelaskan bahwa peningkatan kadar FAEE (asam lemak etil ester) yang ditemukan dalam tinja pertama bayi baru lahir (mekonium) dari asupan ibu selama kehamilan dapat menunjukkan apakah anak tersebut rentan atau tidak mengalami masalah kognitif di masa remajanya.
Tim memeriksa sampel kotoran dari 100 bayi berusia satu tahun. Setelah pemeriksaan, mereka menemukan bahwa bayi dengan tingkat bakteri genus Bacteroides lebih tinggi mendapat skor lebih baik dalam tes kognitif dibandingkan dengan kelompok bakteri lainnya.

Penilaian ini dilakukan dengan menggunakan Mullen Scales of Early Learning. Ini melibatkan serangkaian tes perkembangan yang memerlukan pemeriksaan keterampilan motorik halus dan kasar, perkembangan bahasa dan kemampuan persepsi.
Seperti yang dijelaskan oleh Rebecca Knickmeyer, profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas North Carolina, bahwa ini adalah pertama kalinya hubungan antara komunitas mikroba dan perkembangan kognitif ditunjukkan dan ditunjukkan lebih lanjut pada manusia.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa bakteri usus memainkan peran utama dalam meningkatkan keterampilan kognitif bayi sebelum usia satu tahun. " Hasil inimungkin dapat memandu pengembangan mikrobioma untuk mengoptimalkan perkembangan kognitif atau mengurangi risiko gangguan seperti autisme yang dapat mencakup masalah dengan kognisi dan bahasa," kata para peneliti.

Dengan mendemonstrasikan efek probiotik pada otak, penelitian ini juga memunculkan pertanyaan tentang penggunaan antibiotik secara berulang dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi otak. Ini karena antibiotik banyak digunakan di unit perawatan intensif neonatus dan pada infeksi saluran pernapasan masa kanak-kanak.
Sumber: MomJunction
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli