7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Foto:Pexels)
Dream – Sebelum pandemi Covid-19, sebagian besar orang melakukan penerbangan hanya sebagai media untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan lebih cepat.
Namun, karena adanya pembatasan wilayah, banyak penerbangan yang ditutup. Sehingga membuat para pelancong mulai merasa jenuh.
Baru-baru ini, maskapai Australia, Qantas mengumumkan untuk melakukan penerbangan selama 7 jam tanpa tujuan. Maskapai ini hanya akan melakukan putaran di Queensland, Gold Coast, New South Wales, dan pedalaman-pedalaman terpencil di Australia.
Dari atas, para penumpang dapat melihat atraksi terkenal di Australia. seperti Sydney Harbour dan Great Barrier Reef. Selain itu nantinya akan ada tamu kejutan yang akan didatangkan dari kalangan selebritis.
Perjalanan akan dilakukan dengan pesawat Boeing 787 Dreamliner Qantas. Dreamliner terkenal dengan jendelanya yang besar. Sehingga sangat ideal untuk bertamasya dari ketinggian 30 ribu kaki.
© Ilustrasi (Foto: Freepik)
Tetapi apa yang dilakukan oleh Qantas bukanlah hal yang pertama. Sebelumnya EVA Air yang berbasis di Taiwan juga telah lebih dulu melakukan hal serupa. Yang menawarkan perjalanan diatas pesawat jet A330 Dream bertema Hello Kitty.
Sementara itu, All Nippon Airways (ANA) juga mengoperasikan penerbangan wisata singkat di Jepang. Di mana para penumpang mendapatkan pengalaman layaknya resor di Hawaii.
Pada 19 September mendatang, penerbangan juga akan dilakukan dari Bandara Taipei menuju ke Pulau Jeju, Korea Selatan. Dalam penerbangan tersebut, akan ditawarkan berbagai macam kuis dan masakan lokal.
Singapore Airlines juga tengah mempertimbangkan hal yang sama pada Oktober mendatang. Namun hal ini masih menjadi dalam tahap pembicaraan.
© Ilustrasi (Foto: Freepik)
Dari perspektif lingkungan, penerbangan “ ke mana-mana” berpotensi menimbulkan perdebatan. Salah satunya penggunaan bahan bakar yang tidak diperlukan.
Namun, dalam beberapa penelitian ditemukan kemungkinan penularan covid-19 didalam pesawat terbilang cukup rendah. Karena adanya sistem ventilasi udara. Terlebih semua maskapai penerbangan telah menerapkan protokol kesehatan yang harus ditaati.
(Beq, Sumber: edition.cnn.com)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?