Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Angka kelahiran bayi prematur di Indonesia ternyata sangat tinggi. Bahkan menurut data WHO, Indonesia menempati rangking kelima dunia dalam hal jumlah kelahiran bayi prematur.
Kondisi bayi prematur ini diketahui menyumbang angka terbesar pada kematian bayi karena cacat fisik. Salah satu cacat fisik yang paling mengintai adalah Retinopati Prematuritas atau
dikenal dengan sebutan ROP.
ROP sendiri merupakan gangguan pada penglihatan akibat retina yang tumbuh tidak sempurna pada bayi prematur yang lahir kurang dari 37 minggu. Kondisi ini jika tak ditangani dengan
tepat dan cepat dapat berakhir dengan kebutaan permanen.
" Pertumbuhan retina itu dari tengah harusnya sampai ke pinggir, tapi karena bayi prematur sudah lahir duluan, pertumbuhan itu jadi terputus, tidak lengkap, itu berpotensi jadi ROP," tutur
Rita Sita Sitorus, Guru Besar dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata Universitas Indonesia, saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 27 Oktober 2017.
Menurut Rita, pada bayi yang lahir cukup umur, pertumbuhan retinanya lengkap dan kemungkinan terkena ROP menjadi sangat kecil. Sedangkan pada bayi prematur, kemungkinan ROP-nya sangat besar.
" Untuk mengetahui anak terkena ROP atau tidak, yang paling mudah adalah dengan melihat apakah dia memberi respons pada mainan atau boneka yang orangtua berikan. Jika tidak
merespons, berarti dia terkena ROP. Selain itu, biasanya di bola matanya yang hitam, terdapat bintik putih, meskipun tidak semua kasus seperti itu," ungkap Rita.
Untuk itulah, Rita mengingatkan betapa pentingnya pemeriksaan mata anak prematur sedini mungkin. Hal ini untuk mencegah potensi kebutaan permanen akibat ROP.
" Kalau ROP ini tidak ditangani dengan baik, tidak dideteksi, tidak di-screening, tidak diterapi, bisa dibayangkan akan banyak anak-anak yang buta di negara kita. Makanya masyarakat harus
disadarkan," ungkap Rita.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya