Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Anak Diberi Hukuman
Dream - Banyak cara untuk mengajarkan anak konsekuensi atau sebab akibat, salah satunya adalah memberikan hukuman. Ada yang berpendapat memberikan hukuman adalah cara efektif. Tapi tak semua hukuman bisa menimbulkan efek positif bagi anak.
Salah satu yang sering jadi perdebatan adalah hukuman dengan mengucilkan. Membiarkan anak di kamar atau duduk di pojok sendirian dan tak boleh ada yang berbicara dengannya.
Biasanya berlangsung selama 5 hingga 10 menit atau lebih.
Cara ini mengundang kritik karena tidak membuat anak mengetahui efek buruk dari yang dilakukannya.
Anak hanya tahu bahwa ia merasa dikucilkan tapi tidak diajak berpikir kritis untuk mengetahui sebab akibat dari apa yang dilakukannya. Hukuman mengucilkan itu pun dianggap tidak
efektif.
" Orangtua ingin anak mengembangkan kemampuannya berpikir kritis, serta tahu sikap buruk dan efeknya akan hal tersebut. Tapi hukuman mengucilkan hanya membuat anak malah
menjauh dari masalah dan ia menjadi bingung. Tak diminta 'membereskan masalah' yang ditimbulkannya," ujar Dr. Laura Markham, seorang psikolog yang juga penulis buku, seperti dikutip dari Fatherly.
Membiarkan anak sendirian untuk meredakan emosi, mungkin bisa dilakukan selama beberapa menit. Tapi ketika ia mulai tenang, sulit membayangkannya kalau ank bisa merefleksikan sendiri atas apa yang dilakukannya. Untuk itu percakapan perlu dibangun.
" Setelah tenang, ayah atau ibu bisa menghampiri anak dan memeluknya. Katakan padanya kalau hal yang dilakukannya adalah buruk dan ada efeknya. Misalnya ia melempar adiknya dengan mainan, maka sang adik bisa luka dan menangis. Ajak anak untuk meminta maaf pada adik dan membantu adik meredakan nyeri karena lemparannya," kata Markham.
Anak bukan hanya belajar konsekuensi tapi juga mengasah empatinya. Jangan biarkan anak sendirian menghadapi hukuman. Ajarkan anak kalau melakukan kesalahan, ia harus 'membereskannya', misalnya dengan meminta maaf dan menurunkan level egonya.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari