Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Clean Beauty (Foto: Shutterstock)
Dream - Tahun lalu merupakan saat mulanya banyak orang mulai memikirkan tentang lingkungan.
Sifat ramah lingkungan tidak hanya berlaku untuk makanan dan pakaian, tapi juga kecantikan. Istilah ramah lingkungan untuk industri kecantikan adalah clean beauty.
Dilansir dari Times of India, istilah ini digambarkan dengan produk yang diproses secara hati-hati dan tidak mengandung bahan berbahaya bagi lingkungan.
Produk yang diklaim sebagai clean beauty terjamin aman bagi lingkungan. Clean beauty juga termasuk ke dalam salah satu tren perawatan kulit pada generasi milennial.
" Ini semua tentang penggunaan bahan alami serta natural dan memanfaatkannya secara maksimal," kata Rubeina Karachiwalla, Pebisnis Kecantikan.

Dermatologis, Anil Abraham mengungkapkan pasiennya ingin mengetahui tren dan manfaat ini.
" Sebagai dokter, kami menyadari bahwa ini saatnya dunia kecantikan mulai lebih ramah lingkungan," tambahnya.
Beauty Creator, Deep Lalvani juga sependapat. Peningkatan polusi, stres dan toksin pada skincare akan membuat kulit lebih sensitif. Maka dari itu, clean beauty sangat perlu dilakukan.

" Produk mempengaruhi lingkungan dari 2 komponen, yaitu kandungan dan kemasan. Kemasan profuk mengandung beberapa komponen yang memberikan efek negatif pada lingkungan, seperti plastok. Clean beauty bisa menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan dsn mudah didaur ulang," tutur Deep.
Pakar menyarankan untuk memperhatikan kembali produk yang berlabel 'clean'.
" Ada risiko produk yang berlabel natural, organik atau bebas bahan berbahaya justru mempengaruhi kandungannya. Itu bisa saja hanya teknik penjualan pada orang yang perhatian dengan lingkungan," ujar Anil.

" Kadang, pabrik menggunakan bahan yang lebih murah untuk menggantikan bahan organik dan mengklaim bahwa produknya natural, vegan atau clean. Pelanggan tetap harus diedukasi untuk lebih memperhatikan bahan pada produk," tutur Rubeina.

Pemilik sebuah merek kecantikan, Desiree Pereira menyatakan pabrik mungkin menggunakan bahan yang justru lebih berbahaya daripada apa yang berusaha dihindari, agar diklaim natural.
" Jadi, jangan hanya memperhatikan labelnya. Apalagi, jika tidak yakin bahwa produk tersebut organik," tutupnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya