Mengintip Tren Hijab Malaysia

Reporter : Eko Huda S
Sabtu, 24 Mei 2014 14:00
Mengintip Tren Hijab Malaysia
Hijab muslimah negeri jiran itu terus berkembang. Mengikuti mode busana muslimah sebagaimana di negara-negara lainnya.

Dream - Jika Anda melancong ke Jalan Palumbun, Shah Alam, Selangor, Malaysia, jangan lupa berkunjung ke Jalan Palumbun. Di salah satu blok di sana, Anda akan menemui deretan toko yang khusus menjual busana muslimah.

Itulah pusat hijab di Negara Bagian Selangor. Jika Anda menyusuri jalan itu, maka di kanan kiri akan Anda temukan toko yang menjual penutup kepala muslimah atau yang dalam bahasa setempat disebut tudung.

Menurut laman New Straits Times, Sabtu 24 Mei 2014, hijab-hijab yang dijual di tempat itu bukan busana biasa. Harganya lumayan mahal. Satu potong hijab bisa dihargai RM 175 atau lebih dari Rp 600 ribu. Namun kualitasnya cukup bagus.

Hijab Malaysia saat ini sangat beragam. Tudung-tudung muslimah negeri jiran itu terus berkembang. Mengikuti mode busana muslimah sebagaimana di negara-negara lainnya.

Tiga puluh atau dua puluh tahun silam, kerudung yang dipakai muslimah Malaysia cukup sederhana. Hanya dari kain persegi yang dilipat membentuk segitiga. Kemudian dipakai di kepala, sementara ujung-ujung kain diikatkan di belakang leher.

Saat ini, kerudung semacam itu memang masih ada. Bahkan menjadi favorit bagi sebagian muslimah di sana. Biasanya model sederhana itu disebut bawal. Namanya mirip dengan jenis ikan. Tapi bawal di sini tak ada sangkut pautnya dengan binatang yang hidup di air itu.

Namun, selain model konservatif itu, kerudung di Malaysia sungguh variatif. Model-model hijab di sana cepat berkembang. Apalagi sejumlah biduan di sana turut mendorong industri busana ini. Sejumlah artis kenamaan menjadi ikon hijab Malaysia.

“ Selebritis seperti Wardina Safiyyah, Waheeda, Yuna, dan Datuk Siti Nurhaliza, menggunakan model kerudung berbeda. Sehingga ini menjadi tren, khususnya bagi muslimah muda,” tutur Rohana Zur, dosen seni dan desain Universitas Teknologi Mara.

Awal tahun ini, model yang populer disebut owning. Hijab gaya ini punya ciri khusus di bagian depan. Pada bagian di atas dahi menjorok ke depan. Para hijaber Indonesia menyebut model ini dengan nama “ ciput pet”.

Model ini menjadi populer di Malaysia karena sudah jadi, tinggal pakai tanpa harus membentuknya dengan bantuan jarum, peniti, ataupun bros.

Booming hijab menjadi ladang bagi para pengusaha lokal. Faridah Zakaria dan suaminya, Aminuddin Basiron, misalnya. Keduanya mendirikan usaha delapan tahun silam dengan label Fareeda. Kini mereka menjadi jutawan baru.

Selain di Jalan Palumbun, Faridah membuka tiga outlet di daerah lain. Showroom utamanya di Bandar Baru Bangi. Selain toko utama, tempat itu juga menjadi basis produksi.

Beri Komentar
Perjuangan Ria Irawan, Pantang Menyerah Lawan Kanker