Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Emosi yang meleldak-ledak pada anak atau sering disebut trantrum memang kadang membuat kewalahan orangtua. Anak bisa menangis kencang, berteriak hingga memukuli orang di sekitarnya ketika mengalami tantrum.
Hal ini biasanya terjadi pada anak yang berusia 1 hingga 5 tahun. Tantrum bisa terjadi karena belum sempurnanya perkembangan emosional anak yang terdiri dari lima aspek yaitu fisik, kognitif, bahasa, emosi dan sosial.
Anna Surti Arini, seorang psikolog anak mengungkap, kondisi tantrum pada anak saat ini sering dipicu karena penggunaaan gadget. Saat dibatasi atau dikontrol anak jadi mengamuk tak terkendali.
" Gadget bisa mempengaruhi banyak hal. Kedekatan orangtua sendiri, bermanfaat untuk aspek emosi dan sosial. Dan semisal karena gadget jadi kurang dekat, maka efek penggunaanya lebih mudah mempengaruhi anak,” ungkap Anna saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Waktu berjam-jam yang digunakan anak bermain gadget membuatnya kurang banyak mendapat stimulasi. Hal ini membuat aspek-aspek psikologisnya tidak berkembang optimal. Termasuk dalam mengekspresikan emosi, dan berinteraksi sosial.
Hal tersebut jika terus-menerus dibiarkan akan berdampak buruk pada perkembangan psikologisnya. Orangtua tentunya harus berperan dalam mengontrol hal ini.
" Jika tidak dibatasi penggunaannya, keterampilan sosial anak jadi tidak berkembang dan semakin sulit bergaul,” ujar Anna.
Anna pun menyarankan untuk menyediakan 1-2 jam bersama anak setiap harinya tapi dengan fokus yang penuh. Dengan pengertian, perhatian, disiplin positif keterampilan psikologis anak bisa berkembang dengan optimal.
“ Orangtua perlu mendengarkan anaknya. Jangan juga dinasehati terus menerus dan membuat anak malas berinteraksi. Bertanyalah dan tunjukkan niat untuk mendengarkan supaya mentalnya terbangun dengan baik," kata Anna.
Advertisement

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol