Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Foto: Instagram/jejuisland_korea
Dream – Sebuah museum Teh Osulloc di Andeokmyeon, Kota Seoguipom, Korea Selatan, mulai terlihat ramai. Pembatasan wilayah akibat pandemi Covid-19 tampaknya telah mulai dilonggarkan.
Selama berminggu-minggu, pembatasan jarak telah membuat orang-orang merasa bosan dengan kehidupan dalam kesendirian. Hal ini menyebabkan mereka merindukan sebuah perlarian.
Seperti yang terjadi di beberapa daerah seperti di Osulloc. Beberapa lokasi wisata populer mulai ramai dikunjungi wisatawan.
Bahkan jalan dua arah di Seongpanak Trail di Taman Nasional Hallasan dipenuhi dengan mobil ketika pengunjung mendaki gunung.
© Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dalam sepekan terakhir, tercatat hampir 40 ribu wisatawan telah datang ke Pulau Jeju. Kembalinya aktivitas wisata, memberikan angin segar bagi penduduk lokal yang bergantung pada pariwisata di Pulau Jeju.
Namun, pandemi Covid-19 membuat segalanya tampak lebih rumit. Wisatawan yang mulai ramai membuat penduduk juga merasa khawatir akan kemungkinan terpapar virus Covid-19 mengingat pandemi yang belum berakhir.
" Saya pikir itu cukup masuk akal bahwa penduduk setempat di sini khawatir tentang virus karena lonjakan wisatawan," kata Lee Sun-hwa, ketua Komite Budaya dan Seni Provinsi Khusus Pemerintahan Jeju.
Dia mengatakan ada kesenjangan persepsi antara penduduk dan orang-orang yang terlibat dalam industri pariwisata.
" Orang-orang di sektor pariwisata mengalami masa sulit setelah pandemi virus Covid-19 karena penurunan wisatawan yang begitu mendadak," katanya.
" Tidak ada turis Cina atau Korea. Tidak seperti penduduk pulau biasa, orang-orang di sektor pariwisata lebih bersemangat tentang turis yang mengunjungi Jeju lagi," ucap Lee.
© Foto: Yonhap
Ada beberapa restoran di dekat Museum Teh Osulloc, tetapi banyak yang tutup pekan lalu. Bisnis tersebut berkembang sangat kontras dengan nasib suram restoran kecil lainnya yang menjual ikan dan sushi di seberang jalan. Bisnis di sana lambat. Tidak ada pelanggan.
Bagi wisatawan di Jeju, lokasi yang nyaman tampaknya tidak menjadi kriteria yang dipertimbangkan ketika memutuskan tempat untuk dikunjungi.
Kedai minum berlantai dua di Seoguipo City menunjukkan tren bahwa para pelancong yang lebih muda, lebih menyukai perjalanan trek yang tidak biasa di pulau itu.
Di Pulau Jeju, virus Covid-19 telah menjadi ujian terbesar bagi mereka yang berada di sektor pariwisata. Sementara itu, pandemi nampaknya telah memberikan cara baru dalam berbisnis.
Saat para wisatawan mulai pilih-pilih dengan tujuan tempat mereka berkunjung, para penduduk pun mulai berusaha beradaptasi dengan pola perubahan ini.
(Sumber: m.koreatimes.co.kr/)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam