Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Aufa Rahmalia (Dream.co.id/Cynthia Amanda Male)
Dream - Komunitas Muslim di Jepang masih sangat sedikit. Meski begitu, mereka mendapat kebebasan untuk menjalankan ajaran Islam di Negeri Sakura.
Hal ini pernah dirasakan fotografer sekaligus model freelance, Aufa Rahmalia. Meski mengenakan hijab, Aufa tidak merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan di Jepang.
Sebabnya, dia menjalani masa kecilnya di sana. Pengalaman itu membuatnya mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
" Aku lahir di sana dan besar di sana. Jadi, biasa saja ketika memakai hijab. Begitu pulang ke sini, aku baru sadar kalau aku minoritas di sana," ujar Aufa di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu 22 Juli 2018.
Meski sebagai minoritas, Aufa tidak mendapat tekanan apapun. Alhasil, dia pun bisa merasakan kebebasan dalam menjalankan ajaran agama, termasuk mengenakan hijab.
" Dari SMP sudah ingin pakai hijab. Tapi seragamnya masih pendek. Kalau kuliah kan sudah bebas, jadi bisa pakai hijab," kata Aufa.
Selain itu, dia juga tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif, meski tidak semua perusahaan menerima karyawan berhijab. Aufa tetap nyaman menjalani kehidupan sehari-harinya.
" Aku sudah menjelaskan kalau di agamaku, cewek harus menutup aurat dan mereka paham akhirnya. Sekarang lebih banyak juga lowongan kerja yang menerima perempuan berhijab," ungkapnya.
Jepang selama ini dikenal karena tren fashionnya yang kekinian. Kecuali untuk busana muslim, negeri itu rupanya masih berkiblat pada negara Islam seperti Arab Saudi maupun Sudan.
" Di sana belum banyak yang halal. Yang pakai hijab juga sedikit. Tapi, di sana banyak orang muslim dari berbagai negara seperti Pakistan dan Saudi. Jadi, style-nya macam-macam," tutur wanita yang sedang belajar bahasa Indonesia itu.
Pengalaman Aufa membuktikan tidak ada halangan bagi hijaber untuk bisa diterima di Jepang. Tantangannya, kata Aufa, hanya tempat sholat dan makanan halal belum banyak tersedia.
" Bebas berpakaian di sana. Aku biasanya mix and match baju dari Jepang dengan style hijab seperti rambut orang Jepang. Tapi, makanan halal dan tempat sholat cukup sulit di sini," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya