Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Menonton Televisi (Foto: Shutterstock)
Dream - Si kecil kerap kali terlarut dengan tontonannya. Kartun, film hingga serial televisi dijadikannya cara untuk mencari hiburan. Menonton memang bukan merupakan hal yang buruk, namun akan menjadi masalah apabila si kecil terlalu lama berdiam di depan televisi
Tak jarang ia menjadi sulit untuk dipisahkan dari tontonannya. Hasilnya, si kecil justru merengek dan mengamuk. Isabelle Fillizoat, seorang psikolog keluarga mengungkap alasan di balik anak yang mengamuk akibat dihentikan tontonannya.
" Sama halnya dengan orang dewasa, anak kecil akan berada di dunia 'lain' ketika sedang menonton. Layar tontonan sangat menghipnotis otak kita. Cahaya, suara hingga pergerakan gambar akan menciptakan suasana menyenangkan sehingga kita tidak ingin lepas dari hal tersebut," ujar Isabelle seperti dilansir dari Parent.
Ia juga menambahkan, otak manusia akan memproduksi dopamine, suatu zat pengurang rasa sakit dan stres ketika menonton. Saat anak terputus dari tayangannya, kadar dopamine akan turun secara drastis sehingga memicu sensasi sakit pada tubuh. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya shock serta reaksi tangisan dan amukan.
Memutuskan anak dari tontonannya akan menyebabkan masalah besar. Untuk itu, cara terbaik memisahkan mereka adalah dengan membangun jembatan antara tontonan dengan dunia nyata. Isabelle menjabarkan cara berikut ini.
1. Duduklah bersama dengan si kecil, amati apa yang sedang ia tonton.
2. Lontarkan pertanyaan seputar seperti " Apa yang sedang adik/kakak tonton? Siapa tokoh itu?"
3. Anak menyukai perhatian, dan akan dengan senang berdiskusi mengenai tontonan kesukaannya. Di momen ini, Anda telah berhasil masuk ke dunianya.
4. Perlahan-lahan, anak akan kembali ke dunia nyata. Saat ia mulai sadar, Anda bisa mengajaknya melakukan aktivitas lain hingga kemudian mematikan tontonan.
" Triknya adalah dengan membangun jembatan antara tontonan dengan dunia nyata. Masuklah perlahan ke dalam dunia si kecil untuk menjemputnya keluar," kata Isabelle.
Sebagai langkah awal batasi waktu untuk menonton televisi hanya di waktu tertentu saja. Jika dirasa si kecil sudah terlalu lama di depan televisi siapkan aktivitas lain untuknya yang menarik. Misalnya bermain melempar bola air atau mencari 'harta karun'. Mengalihkan perhatian adalah kuncinya.
Laporan Annisa Mutiara
Sumber: Parent
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest