Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Bayangkan jika dunia tanpa internet berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Tentu kalian tidak akan tahan offline selama itu. Jangankan seminggu, satu jam tak pegang ponsel rasanya dunia seakan kiamat.
Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebuah studi baru memeringatkan bahwa bada matahari super yang terjadi sekali dalam seratus tahun bisa menyeret dunia dalam 'kiamat internet'.
Peristiwa alam ini diprediksi bisa menyebabkan sebagian besar perangkat selular penduduk Bumi offline selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, demikian dilansir gadgets.ndtv.com.
Matahari secara terus menerus membombardir Bumi dengan partikel elektromagnetik. Partikel-partikel, yang membentuk angin matahari, selalu ddikirim ke kutub oleh perisai magnet Bumi sehingga melindungi planet kita dari kerusakan.
Namun setiap seabad sekali, angin matahari ini berubah menjadi badai matahari, yang menurut para peneliti, bisa menyebabkan dampak serius pada kehidupan modern.
Dalam studi berjudul 'Solar Superstorms: Planning for an Internet Apocalypse' yang dipresentasikan pada konferensi komunikasi data SIGCOMM 2021, Sangeetha Abdu Jyothi dari University of California, menulis bahwa kemajuan teknologi modern bersamaan dengan aktivitas matahari yang lemah. Namun matahari diperkirakan menjadi lebih aktif dalam waktu dekat.
Ilmuwan memperkirakan kemungkinan cuaca ruang angkasa ekstrem yang secara langsung berdampak pada Bumi antara 1,6 dan 12 persen pada dekade berikutnya.
Menurut penelitian, infrastruktur regional akan menghadapi risiko kerusakan bahkan saat terjadi badai matahari besar karena serat optik tidak terpengaruh oleh arus yang diinduksi secara geomagnetik.
Jika bada matahari mengganggu sejumlah kabel-kabel itu, maka bisa menyebabkan putusnya konektivitas antarnegara, meskipun infrastruktur lokal tetap utuh.
" Infrastruktur kami tidak siap untuk peristiwa matahari berskala besar. Kami memiliki pemahaman terbatas tentang tingkat kerusakan yang akan terjadi," tulis Abdu Jyothi.
Para peneliti belajar dari ketidaksiapan dunia dalam menghadapi kondisi darurat pandemi. Mereka memikirkan ketahanan internet di masa depan.
Menurut Abdu Jyothi, untuk badai matahari yang parah, Bumi hanya memiliki waktu sekitar 13 jam untuk bersiap. Dalam sejarah, baru ada dua badai matahari parah, yaitu pada tahun 1859 dan 1921.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya