Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Bayi Sakit (Foto Shutterstock)
Dream - Banyak sekali cerita para ibu di media sosial baik di Facebook maupun Instagram yang mengungkap kalau anaknya mengalami masalah kesehatan karena rokok. Sesak napas terkena pneumonia hingga harus dirawat bahkan ada yang berujung kematian.
Seperti cerita Nurul (Cerita Sedih Anak Terkena Pneumonia Berat) yang anaknya harus dirawat intensif. Asap rokok memang mengandung racun nikotin dan zat lain yang bisa membuat
pernapasan anak menjadi bermasalah.
Tapi menurut dr. Margareta, spesialis anak yang berpraktek di RSIA Brawijaya, pneumonia sendiri dipicu oleh virus, jamur dan bakteri.
" Penularannya melalui dahak orang dewasa yang kemudian menyebar lewat batuk dan udara lalu memapari anak. Asap rokok memang tak secara langsung memicu pneumonia, tapi bisa memperparah kondisi anak yang terkena pneumonia," ujar dr Margareta, saat dihubungi Dream.co.id.
Sistem imun anak terutama di bawah usia 1 tahun masih sangat lemah, ketika berada di tempat ramai banyak orang, penuh asap, pengap atau lingkungan yang tidak bersih anak akan
mudah sekali terkena virus. Rokok memang tak secara langsung membuat anak mengalami pneumonia, tapi karena asapnya mengandung racun berbahaya bisa memapai anak dengan racun dan akan memperparah kondisi anak yang sudah terkena virus pneumonia.
Pneumonia sebenarnya bisa sembuh jika ditangani dengan cepat dan intensif. Tetapi jika terlambat dan komplikasinya cukup parah, misalnya sesak napas, kekurangan oksigen sehingga mempengaruhi kerja organ, bisa berujung pada kematian.
" Ingat, imunitas bayi masih sangat lemah, risiko komplikasi karena pneumonia juga tinggi jadi jangan anggap enteng bayi batuk pilek, segera periksa ke dokter. Jika dokter menyarankan
rontgen, lakukan. Sering karena telat sudah komplikasi, nyawa anak jadi taruhannya," ungkap dr. Margareta.
Cara efektif yang juga jadi hal penting yang sering dilupakan orangtua untuk mencegah pneumonia adalah vaksin. Menurut dr. Margareta, segera lakukan vaksin Hib (haemophilus influenza) pada usia 2, 4 dan 6 bulan, lalu ada juga vaksin PCV.
" Vaksin jadi langkah pencegahan pertama, memang tak mengurangi risiko 100 persen, tapi jika pun terkena pneumonia maka tidak akan parah. Pastikan juga lingkungan anak selalu bersih,
mendapat udara segar setiap hari. Konsultasikan juga perkembangan anak kepada dokter atau bidan," pesan dr. Margareta.
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol